Beritafajartimur.com (Denpasar)
Dampak Covid-19 ini merembet kemana-mana. Bukan hanya masalah kesehatan yang jadi prioritas untuk dilawan, tapi ekonomi juga. Ditambah lagi kebijakan: stayhome #dirumahaja#, terpaksa dirumahkan dari semua aktifitas yang selama ini sudah terbiasa dilakukan di luar rumah seperti kegiatan sekolahan, kerja kantoran, buruh, tani dan dagang. “Wong cilik” (orang kecil) tentu yang paling menderita terkena pukulan dari kebijakan #dirumahaja# untuk menangkal virus ganas Covid-19 ini. Maka, ribuan keluhan dan cerita pilu pun disana sini saban hari kita dengarkan. Ada yang saban hari cuma makan mie doang sekedar pengganjal perut. Bahkan ada diantaranya seharian tidak makan apa-apa. Terenyuh dan miris mendengarnya. Pasrah? Tentu saja, tapi sampai kapan? Kondisi wabah Covid-19 ini memang sulit diprediksi akan berakhir kapan. Sejuta harapan membuncah akan berakhirnya virus ini sehingga kita bisa kembali hidup normal. Tapi menunggu berakhirnya virus ini adalah sebuah misteri karena kondisi wabah pandemi Coronavirus atau Covid-19 ini hingga saat ini, baik di dunia maupun di Indonesia belum menunjukkan tanda-tanda akan segera berakhir. Dari data yang kita dapatkan lewat Gugus Tugas Penanganan Covid-19, baik di dunia, Indonesia atau lokal di Bali menunjukkan grafik tetap naik mulai dari kasus terpapar yang sembuh maupun yang meninggal.
Dibalik ganasnya Covid-19, korban bukan saja dialami orang yang jelas-jelas terpapar namun yang #dirumahaja# ini kalau kondisi bantuan pemerintah tidak menyentuh warga wong cilik yang tidak memiliki tabungan, maka siap-siap kita disuguhkan “cerita kematian akibat kelaparan.”
Agar hal tersebut tidak terjadi di Bali dan menimpa warga kita, tentunya perhatian bagi warga terdampak mutlak diperlukan. Warga yang susah ini patutlah merasa iri dengan warga Adat yang benar-benar diurus oleh Desa Adatnya masing-masing. Mereka memiliki LPD yang sudah terus-terusan menggelontorkan bantuan. Ada juga bantuan dari pemerintah, meski bantuan ini juga belum merata sehingga menambah daftar kecemburuan sosial diantara mereka.
Lalu bagaimana nasib krama tamiu (warga pendatang)? Ini yang belum jelas, apakah pemerintah mengucurkan bantuan kepada mereka? Menurut penuturan warga yang sudah ber-KTP desa setempat tapi bantuan lewat saja. Kondisi ini menimbulkan tanda tanya kapan mereka dibantu.
Maka, sembari menunggu bantuan, salah satu warga non desa adat yang ber-KTP Denpasar mengeluhkan kondisi hidupnya yang kian susah akibat dampak Covid-19.
“Sulit sekali hidup kami sekarang ini. Dalam posisi menganggur karena pariwisata tutup. Temen-temen yang bekerja jadi penjahit juga sepi. Tidak ada orderan karena selama ini produksinya dijual ke wisatawan. Untuk menyambung hidup, kami di sini berbagi pekerjaan, jika ada. Kita garap bersama, dapat sedikit biar masing-masing dari kita ada untuk beli beras,” cerita Edi Siswanto, salah satu warga Non Adat tinggal di Gang Buluh Indah lingkungan Banjar Adat Sakah Kepaon Denpasar Selatan, Sabtu (9/5)
Edi Siswanto merupakan satu dari warga di luar Desa Adat namun ber-KTP Denpasar sebagai realitas terdampak dari pandemi COVID-19. Meski sudah menjadi warga setempat, ia mengaku cuma mendengar cerita mendapatkan bantuan atau sumbangan dari pemerintah kota atau daerah. Sementara dikatakan dalam keterbatasan social distancing, bersama 36 kepala keluarga (KK) di lingkungan itu sudah tidak bekerja.
“Hari ini kami diberikan bantuan. Alhamdulilah, mungkin bisa nyambung hidup kami seminggu mas. Tadi saya lihat ada beras, ya kami irit iritin. Kami juga berterima kasih terhadap Pak Agung sebagai Kelian Adat di sini telah mengkoordinir mencarikan kami bantuan. Berapa kali bolak-balik datang bersama Pecalang, prihatin melihat keadaan kami saat corona ini,” terangnya.
Ia berharap bersama warga lain terdampak agar bantuan pemerintah bisa menyentuh mereka. Apa yang dialami Edi Siswanto bersama dengan 36 KK lainnya kemungkinan ada ratusan bahkan bisa ribuan warga di bilangan Denpasar mengalami nasib sama. Respon dan kepekaan dari pemangku wilayah atau lingkungan sangat dibutuhkan.
Apresiasi yang tinggi warga terhadap AA Gede Agung Aryawan, ST, sebagai Kelian Banjar Adat Sakah yang selama ini bahu- membahu mencarikan donatur bagi warga senasib dengan Edi Siswanto cs., Gungde (sapaan karib AA. Gede Agung Aryawan, ST., mengungkapkan bahwa hatinya tergerak ketika melihat tidak semua warga di lingkungannya terdampak Covid-19 bisa mendapat bantuan sembako dari Lembaga Perkreditan Desa Adat (LPD).
Tujuannya tidak lain, agar warga bukan krama adat (krama tamiu) terdampak yang tidak mendapat bantuan dan belum tersentuh Bansos atau BLT bisa terbantu mendapatkan pangan guna sedikit meringankan beban hidup mereka.
Ya, respon positif seperti ini menurutnya sangat perlu dilakukan mengingat kondisi ekonomi masyarakat hari ini yang semakin sulit. Di satu sisi bantuan sosial dari pemerintah belum terealisasi, sedangkan bantuan dari LPD yang berhak hanya krama adat, lantaran dana dan aset dikelola LPD adalah milik krama adat.
“Masyarakat banyak yang menganggur karena lapangan kerjanya hilang akibat wabah Covid-19 ini, pemerintah meminta mereka tetap tinggal di rumah, tapi di satu sisi bantuan pangan belum diberikan, ini membuat masyarakat kecil kehidupannya semakin menjerit,” ungkapnya.
Bali, sambungnya, beruntung memiliki kesatuan Desa Adat. Melalui LPD dan aset dikelola Desa Adat, dapat lebih dulu hadir untuk memberi bantuan kepada krama adat. Jika tidak ada LPD juga mungkin nasibnya sami mawon dengan warga pendatang. Kan orang asli Bali juga banyak yang hidupnya kurang beruntung, masih berada di level ekonomi kelas menengah ke bawah. Dan itu jumlahnya jauh lebih banyak ketimbang yang menengah ke atas. Jadi mereka semua membutuhkan perhatian pemangku kebijakan.
Terkait dengan warga non adat ber-KTP Denpasar yang sudah tidak bekerja. Maka menurutnya perlu dicarikan donatur sehingga ada bantuan merata untuk warga terdampak. Kondisi ini, menurutnya jika tidak diperhatikan serius dan dibiarkan berlarut-larut akan menimbulkan masalah sosial terutama di lingkungan nantinya.
“Jika kita semua tidak segera bergerak untuk mencarikan jalan, kondisi ini akan menimbulkan masalah baru, seperti pencurian, perampokan, dan kriminalitas lainnya. Karena banyak yang hilang mata pencahariannya, sementara mereka dan keluarganya butuh makan,” tuturnya.
Penulis: Irawan
Editor: Donny MP. Parera (BFT/DPS)





