Dampak Covid-19 Ekonomi Bali 2020 Terpuruk, Kepala OJK Giri Tribroto Optimis Membaik 2021

Beritafajartimur.com (Gianyar-Bali)
Tahun 2020 ini ekonomi dunia dilanda krisis akibat wabah pandemi Coronavirus19 (Covid-19). Hal ini tidak terlepas dari terpuruknya bidang pariwisata. Khususnya Provinsi Bali yang selama ini mengandalkan pariwisata sebagai sumber utama pendapatan asli daerah (PAD), namun saat ini sudah hampir 10 bulan pariwisata mati suri. Bahkan, di awal pandemi, pertumbuhan ekonomi minus 1 persen lebih. Kemudian berlanjut di triwulan II minus 12 persen lebih dan minus 13 persen di triwulan III. “Kita belum tahu seperti apa pertumbuhan di triwulan IV ini. Tapi saya lihat pertumbuhannya mulai membaik, meski masih negatif,” ujar Kepala Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Wilayah 8 Bali-Nusa Tenggara, Giri Tribroto dalam acara media gathering di Gianyar, Jumat (11/12) sore.

Acara tersebut dihadiri masing-masing: Direktur Pengawasan Lembaga Jasa Keuangan Ananda R. Mooy, Deputi Direktur Pengawasan LJK 1 Armen dan Deputi Direktur Pengawasan LJK 2 dan Perizinan Yan Jimmy Hendrik Simarmata serta Deputi Direktur Manajemen Strategis, EPK dan Kemitraan Pemda I Nyoman Hermanto Darmawan.

Tribroto menjelaskan melalui kegiatan ini media gathering ini diharapkan media massa bisa turut menyebarluaskan program-program OJK. “Kita juga lakukan evaluasi program yang berjalan tahun ini dan tahun depan seperti apa nanti perkembangannya. Tentu kita harapkan tak seperti saat ini. Pertumbuhan memang masih minus tapi sudah mulai membaik,” ujarnya.

Menurut Giri Tribroto, IJK di Bali terbanyak di Denpasar dan Badung. Ada 54 bank umum, 135 BPR dan 17 perusahaan efek. Terkait kinerja perbankan diakui aset dan DPK (Dana Pihak Ketiga) turun. “Tapi kredit meningkat meski tipis yakni 0,99 persen (yoy) Rp 93 triliun,” jelasnya.

Aset hingga Oktober 2020 turun 3,85 persen dan DPK minus 4,33 persen. “Tapi secara nominal aset, DPK maupun kredit berangsur normal,” tambah Hermanto. Dijelaskan kredit tertinggi masih di sektor konsumtif disusul perdagangan, dan akomodasi, makanan dan minuman,” terangnya.

Di lain pihak, Deputi Direktur Manajemen Strategis, EPK dan Kemitraan Pemda I Nyoman Hermanto Darmawan, menjelaskan, untuk pasar modal, pertumbuhan investor saham meningkat cukup signifikan yakni 49,19 persen (yoy). Jumlah investor saham dalam nilai SID (Single Investor Identification) hingga Oktober 2020 yakni 32.026 SID. “Investor saham meningkat salah satunya karena nilai saham turun sehingga banyak yang berinvestasi,” jelas Hermanto.

Dijelaskan pula debitur yang terdampak sebanyak 230.389 rekening dengan nilai Rp33,93 triliun. Sedangkan debitur restrukturisasi jumlahnya 187.557 dengan nilai Rp29 triliun lebih.

Lalu terkait KUR di Bali, Nyoman Hermanto katakan, hingga Oktober 2020 tersalur Rp4,89 triliun (73,51 persen) dari target Rp6,65 triliun. Sedangkan NPL KUR hanya 0,03 persen. “Sektor yang mendominasi KUR ini 31,78 persen pada perdagangan besar dan eceran, 19 persen industri pengolahan, 17,8 persen pertanian dan 13,51 persen di sektor akomodasi dan makanan minuman.

Dikatakan program inklusi keuangan terus didorong melalui TPKAD (Tim Percepatan Akses Keuangan Daerah) yakni peningkatan peran atau fasilitasi lembaga keuangan melalui program business matching, program kredit pembiayaan melawan rentenir (K PMR) dan program Kejar (Satu Rekening Satu Pelajar). OJK juga terus melakukan berbagai terobosan di bidang teknologi informasi untuk mendukung perluasan akses keuangan untuk semua lapisan masyarakat. (BFT/GIA/DMP)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *