JOKOWI DERANGEMENT SYNDROME by Zeng Wei Jian

Bhagavan Politik (tapi bo’ong) Lord Jusuf Kalla menyebut soal “The vaccum of leadership”. Omonganya seperti mantra. Gubernur Jakarta & wakilnya kena Covid-19. Balai Kota dalam situasi vaccum.

Oposisi ngerasa statement Lord Jusuf Kalla ditujukan kepada Paramount Leader Joko Widodo.

Jokowi’s administration dituding “weak”. Ciri leadership vaccum adalah groups of people kerja sendiri. Tanpa koordinasi. Ga efektif & tanpa clear purpose. Membentuk fragmentasi “oligarkhi” & navel-gazing elitism.

In Covid-19 crisis where people are paralysed, President Jokowi beri arahan yang paz. No lockdown. Tapi PSBB. Menyeimbangkan kesehatan & ekonomi. Not perfect. Tapi okay-lah.

Di mata haters, Rezim Jokowi-Amin selalu salah. Menyitir statement Fareed Zakaria terhadap Trump’s haters: “hatred of President Trump so intense that it impairs people’s judgment”.

Judgment Lord Jusuf Kalla dan klik oposisinya patut dipertanyakan. Bisa jadi mereka kena penyakit yang disebut “Trump derangement syndrome” (TDS) yang di-Indonesia-kan menjadi nomenclature “Jokowi derangement syndrome”.

Mengkudeta Jokowi adalah pintu masuk menghancurkan Negara Kesatuan. Mengubah Falsafah Pancasila dengan doktrin theocratic state ideology. Menggantikan old-oligarkhi dengan new-oligarkhi yang lebih haus darah, uang & perempuan.

Roy Baumeister dari Florida State University, in his research paper berjudul “Bad Is Stronger Than Good” mengatakan “negativity” lebih diingat daripada prestasi. Otak butuh 5 positive events untuk menetralisir 1 negative event.

Lemahnya sikap Pemerintah Pusat terhadap kerumunan, kepala daerah pembelot dan suara nyaring ga mutu dari Rocky Gerung-Refly Harun menciptakan pembenaran atas ucapan Lord Jusuf Kalla.

Pembalap Mario Andretti, versatile racing driver of all-time, berpesan: “Focus on the Road, Not the Wall”.

“Don’t look at the wall. Your car goes where your eyes go,” katanya kepada SUCCESS magazine.

Pemerintah mesti melakukan sesuatu. Jangan biarkan Indonesia jatuh ke dalam situasi “statelessness”. Rilis Operasi “Encirclement and destroy”. Gradual destruction. Comot satu per satu. Pisahkan kepala & badan. Tanpa kepala, kaki-kaki hanya berfungsi sebagai useless chess pawn.** THE END

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *