OMK Teofilus Paroki Cewonikit dan Cara Beragama yang Moderat

Ruteng Beritafajartimur.com-, Apakah semua umat Katolik sudah menghayati cara beragama yang moderat? Dan bagaimana konsep serta gerakan beragama moderat? Pertanyaan ini diurai dalam kegiatan seminar pendampingan orang muda internal Gereja Katolik, yang diselenggarakan oleh seksi Kepemudaan Paroki Santo Vitalis Cewonikit, Keuskupan Ruteng pada Minggu,(11/5/2025).

Kegiatan pendampingan iman kali ini menghadirkan dua narasumber sekaligus, yaitu Pastor Paroki St. Vitalis, Rm Benediktus A Obot dan akademisi dari kampus Stipas St. Sirilus Ruteng, Rm.Dr.Hironimus Bandur. Romo Ardy mengusung tema Ekaristi Transformatif Bagi OMK, sedangkan Romo Hiro mengusung tema moderasi beragama bagi OMK.

Menurut laporan ketua panitia, seminar dilaksanakan atas kerjasama paroki dengan pemerintah, dalam hal ini, Kementerian Agama Kab Manggarai, sebab itu seluruh kegiatan ini didanai oleh kementrian agama.

Hadir dalam seminar adalah ketua seksi kepemudaan paroki, dewan pastoral paroki dan pejabat yang mewakili Kementrian Agama Kab Manggarai serta 30-an OMK Teofilus.

Dalam sambutan pembuka acara, Rm Ardy selaku pastor paroki mengucapkan terimakasih kepada pemerintah, yaitu Kementrian Agama RI yang telah menerima proposal kegiatan pendampingan iman bagi OMK Paroki Cewonikit.

Dengan menghadirkan narasumber yang berlatar belakang studi agama-agama, paroki menghendaki agar OMK tidak hanya memiliki wawasan seputar agama Katolik, tetapi juga paham dan siap berada bersama masyarakat beragama lain di tengah dunia.

Rm. Dr. Hironimus Bandur dalam pemaparan materinya menegaskan tentang cara beragama yang moderat di tengah kontestasi kelompok beragama “sayap kanan” (fundamentalistik, radikalistik dan extrimistik) versus kelompok beragama “sayap kiri” (liberal dan sekular).

“Setiap orang beragama pasti mempertahankan kebenaran agama secara fundamental, namun hendaknya tidak jatuh dalam sikap fundamentalisme eksklusif”, kata Romo Hiro. Sebab itu, lanjutnya, “aura keberagamaan orang muda menuju Indonesia emas hendaknya adalah aura keberagamaan yang diwarnai fundamentalisme inklusif, yaitu mengakui kebenaran fundamental pada agama sendiri, namun tanpa mengabaikan saudara-saudara yang lain yang juga berdiri di atas rumusan kebenaran agama mereka sendiri.

Berbahagialah dengan rumusan kebenaran agama kita sendiri, tetapi jangan men”delete” keberadaan orang lain hanya karena beda agama.

Mengakui satu-satunya yang benar adalah rumusan keagamaanmu, tidak lantas mendelegitimasi keberadaan orang yang berbeda agama dengan kamu”.

Di akhir pemaparan, Romo Hiro mengajak OMK Teofilus Cewonikit, agar tetap menjadi peziarah pengharapan di masa-masa anomali keragaman di masa depan.

Seminar diwarnai oleh dialog dan diskusi hangat seputar pengalaman perjumpaan dengan sesama warga berbeda agama.(Agustinus Ardi)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *