BERITAFAJARTIMUR.COM (Labuan Bajo) Wakil Bupati Manggarai Barat, Yulianus Weng, telah meluncurkan visi baru untuk pengembangan pertanian organik di Labuan Bajo.
Dalam kunjungannya ke lahan Stasi Merombok, Desa Golo Bilas, Paroki Katedral Labuan Bajo, Wabup Yulianus bersama Uskup Labuan Bajo, Mgr. Maksimus Regus, memanen sayur organik dan mempromosikan program yang dapat menjadi daya tarik wisata dan pintu ekspor produk hortikultura dari Labuan Bajo.
Program ini merupakan kerja sama antara Komisi Pengembangan Sosial Ekonomi (PSE) Keuskupan Labuan Bajo dan Yayasan Mitra Organis Program yang dibina oleh Astra.
Ketua Yayasan Mitra Organis Program, Jhon Tumiwa, menjelaskan bahwa program ini bertujuan untuk membina petani agar memperoleh sertifikasi organik berstandar internasional Amerika, Eropa, dan Jepang dengan target jangka panjang ekspor.
“Saya sangat gembira menyambut program ini. Jika dikembangkan secara konsisten, selain membantu ekonomi petani, program ini bisa menjadi pemasok utama dapur makanan bergizi gratis di Manggarai Barat,” terang Wabup Yulianus.
Wabup Yulianus menjelaskan bahwa tiga dapur Makan Bergizi Gratis (MBG) baru akan segera beroperasi di Wai Mata, Golo Koe, dan Mbrata, masing-masing melayani sekitar 3.000 anak, dengan total 9.000 penerima manfaat. Beroperasinya dapur-dapur tersebut akan meningkatkan kebutuhan sayur, telur, dan daging, yang selama ini sebagian masih dipasok dari luar daerah.
Ketua Komisi PSE Keuskupan Labuan Bajo, RD. Yuvens Rugi, mengatakan bahwa pihaknya akan memanfaatkan lahan-lahan keuskupan di berbagai paroki untuk pertanian organik. Selain di Merombok, lahan potensial lain berada di Wae Bangka (Lembor) dan Indrong.
Sementara Ketua Yayasan Mitra Organis Program, Jhon Tumiwa, menegaskan bahwa program ini membina petani agar memperoleh sertifikasi organik berstandar internasional Amerika, Eropa dan Jepang dengan target jangka panjang ekspor.
Jhon Tumiwa menambahkan program ini memiliki target jangka panjang ekspor produk hortikultura dari Labuan Bajo.
“Labuan Bajo punya pasar jelas, yakni restoran dan hotel. Harapannya, lokasi ini menjadi showcase bagi wisatawan, tempat mereka melihat langsung proses budidaya. Produk-produk dari desa mitra juga akan dipasarkan di sini dan bahkan diekspor langsung dari Labuan Bajo,” ujarnya.
Di lahan Merombok, akan ditanami 17 jenis sayuran, di antaranya pakcoy, zukini, selada, cabai, tomat, dan wortel, yang ditargetkan memenuhi standar hotel, restoran, hingga pasar ekspor. Dengan demikian, program pertanian organik di Labuan Bajo dapat menjadi contoh bagi daerah lain dan meningkatkan perekonomian lokal.(BFT/LBJ/Yoflan)





