Catatan Paradoks: Wayan Suyadnya
Hari-hari ini, bendera merah putih berkibar di setiap sudut, musik perjuangan mengalun di jalanan, dan hati kita berdegup kencang oleh semangat kemerdekaan.
Namun di tengah gegap gempita itu, ada satu penjajah yang masih bebas berkeliaran: sampah.
Penjajah yang tak datang dengan senjata, melainkan dengan bau, tumpukan, dan kelalaian kita sendiri.
Karena sampah kita bertengkar, saling menyalahkan. Merasa benar sendiri. Karena sampah, kita adu gensi, adu argumentasi, diskusi, debat yang tak berkesudahan hingga lupa posisi.
Lupa apakah kita sedang diskusi, mengkritisi, mencari solusi atau malah menjadikan kita nyinyir.
Pertanyaannya sederhana, tapi menggigit: mungkinkah Bali bersih dari sampah? Merdeka dan menikmati keindahan Bali tanpa sampah?
Di Singapura bisa, di Jepang bahkan diacungi jempol oleh dunia. Lalu kenapa di Bali tidak bisa? Padahal sejak zaman leluhur, kita sudah diberikan rumus sakral untuk hidup bahagia: Tri Hita Karana — menyelaraskan hidup dengan Tuhan, sesama manusia, dan alam.
Dari dulu kita diajarkan untuk mencintai dan menjaga lingkungan. Artinya, untuk mewujudkan Bali yang bersih, kita tak perlu jauh-jauh belajar ke luar negeri. Kembali saja ke jati diri kita, kembali pada hita karana, Bali sudah punya kunci emasnya.
Tentu, tak ada salahnya jija menengok teknologi di luar sana. Barangkali ada mesin pengolah sampah yang lebih efisien, murah, dan canggih, yang bisa membantu.
Mungkin pula ada cara jitu atau aturan kuat yang bisa menumbuhkan kesadaran pentingnya bersih sampah, sepertinya layaknya kita tertib merokok di Singapura.
Saya yakin, kalau hati kita mau, Bali bersih itu bukan mimpi, tapi janji yang bisa ditepati. Kita pasti bisa. Bali bisa bersih.
Salut pada yang peduli. Yang kini banyak bermunculkan di Bali. Ada komunitas, perseorangan maupun lembaga. Kini di Bali, mulai bermunculan gerakan membersihkan sungai, pantai, jalanan dan tempat-tempat yang selama ini dipakai sebagai pembuangan sampah ilegal oleh mereka yang tak bertanggung jawab.
Gerakan ini sangat bagus, bagaikan bara kecil yang menyala di hati. Namun jangan sampai bara itu jadi anget-anget tai ayam — marak hanya di suasana kemerdekaan, lalu padam begitu kalender berganti.
Gerakan ini harus menjadi TSM (Terstruktur, Sistemik dan Masif). Harus menjadi langkah terorganisir, masif, dan konsisten, sehingga sampah tak lagi berani menjajah kita. Kita harus merdeka.
Selain itu, harus juga ada punishment dan reward. Hukuman tegas bagi yang membuang sampah sembarangan, dan penghargaan tulus bagi mereka yang menjaga lingkungan.
Kita butuh pahlawan negeri yang tak hanya berperang melawan penjajah di masa lalu, tetapi berperang mengenyahkan sampah dari tanah Bali di masa kini.
Karena kemerdekaan sejati bukan hanya terbebas dari penjajah, tetapi juga terbebas dari kebiasaan buruk yang merusak bumi tempat kita berpijak.
Merdekaaaaa!
Denpasar, 16 Agustus 2025





