Terima Kasih Suwung….. 

 

Catatan Paradoks; Wayan Suyadnya

 

Hari ini 17 Agustus, hari kemerdekaan kita. Setelah 80 tahun kita sudah merdeka, Bali kini sesak oleh bau sampah yang tak berkesudahan. Sekarang justru sampah yang menjajah kita.

Suwung adalah cermin kita semua. Di hari kemerdekaan ini, ia mengajak berkontemplasi, merenung tentang kita, tentang Bali yang kita cintai.

Suwung menjadi ramai karena disinilah segala limbah hidup Kota Denpasar dan Badung dibuang.

Suwung sebenarnya hanyalah wadah, 32 hektar tanah yang dipaksa menelan segala sisa dari kehidupan modern warga kota.

Suwung menampung apa yang dibuang, tetapi tak pernah menampung kesadaran kita.

Kita sibuk di hilir, berebut solusi instan: apakah dengan mesin canggih, dengan incinerator berteknologi tinggi, atau sekadar memindahkan masalah ke lahan lain. Padahal, akar masalahnya justru di hulu—pada produksi, pada gaya hidup, pada jumlah manusia di kota Denpasar dan Badung yang melampaui daya dukung.

Bukankah ini tanda bahwa Bali, khususnya di Kota Denpasar dan Kabupaten Badung sudah overload?

Penduduknya membludak, tamunya berlipat, otomatis konsumsi berloncatan, dan sampah pun akhirnya membludak. Dibuang ke Suwung, Suwung menolak karena tak bisa menampung, jadilah ramai, berhamburan hingga mewarnai ruang maya.

Sehebat apa pun teknologi, seluas apa pun tempatnya, tak akan mampu menampung jika arus deras limbah terus diproduksi tanpa kendali.

Dari Suwung sejatinya kita bisa belajar, bahwa persoalan sampah di Bali bukan sekadar bagaimana membuang, tetapi bagaimana menahan laju manusia, menahan nafsu produksi, menahan kerakusan konsumsi.

Bila tidak, tak hanya Suwung, di mana-mana dijadikan TPA akan bernasib sama: penuh, jenuh, dan akhirnya meledak. Bau menyebar kemana-mana hingga ke medsos.

Dan, jangan kira sampah hanya soal plastik atau sisa makanan. Turis pun kini menjadi limbah sosial.

Mereka yang bebas naik kendaraan sembarangan, melawan arus tanpa peduli, bertengkar dengan satpam hotel, mabuk di jalan, bahkan masuk pura tanpa etika dengan pakaian tak pantas.

Kehadiran turis semestinya membawa berkah, justru kadang menjadi sampah—menambah tumpukan masalah yang lebih sulit dikelola ketimbang botol plastik.

Jangan sebut pendatang. Ada gula ada semut—dan Bali adalah gula. Semut datang, nyaris tak terbendung. Jumlah pendatang makin banyak, makin padat, makin sesak.

Banjar adat, desa adat, yang selama ini menjadi benteng menjaga harmoni, dibuat tak berkutik. Justru banyak diantara warganya mencari kesempatan mendatangkan penghasilan pasif.

Kamar disulap menjadi kos-kosan, tanah habis berpindah tangan, bahkan trotoar pun seolah bisa dibeli.

Kepadatan diam-diam difasilitasi. Semua demi penghasilan pasif, semua demi keuntungan instan. Lupa akan limbahnya berupa sampah fisik dan sampah sosial; macet, kriminal dan lainnya.

Maka, hulu kian lepas kendali, sementara hilir makin penuh sesak.

Pulau kecil ini dipuja dunia, tetapi kian kewalahan menampung manusia dan mengolah limbahnya.

Sampah fisik memang pasif, hanya berbau ketika membusuk. Tapi sampah sosial jauh lebih aktif—macet, kriminalitas, keserakahan, kerakusan pembangunan, membabat tebing, alih fungsi, serta ulah turis yang tak tahu aturan, derasnya arus pendatang yang nyaris tak terkendali.

 

Dua lapis limbah saling menindih, mengepung Bali dari segala arah.

Suwung telah mengingatkan semua ini. Maka, berterimakasih pada Suwung. Ia adalah cermin, pengingat keras bahwa kita sudah tak bisa terus membuang tanpa membatasi. Kita tak boleh hanya berpikir hilirnya, tapi hulunya juga harus ketat pengaturannya.

Suwung sejatinya menampar kita agar berpikir ulang: bukan hanya pada ke mana sampah pergi, tapi bagaimana berkontemplasi menumbuhkan kesadaran kolektif melihat dari mana sampah itu lahir.

Bali tak hanya perlu teknologi, tapi juga keberanian menata ulang. Kendalikan jumlah penduduk, tata arus wisata dan atur pendatang lebih selektif.

Jujurlah pada kapasitas pulau kecil ini. Daya dukung Bali harus dihitung dengan baik dan cermat.

Jangan kontradiksionis, sudah kecil ingin turis lebih banyak, ingin pendatang lebih banyak agar ada yang dipekerjakan membantu usaha kita, ingin Bali lebih ramai lagi hingga kita berencana membuat bandara baru, membangun jembatan Jawa – Bali, hingga ngebor panas bumi di Bedugul. Jauhkanlah berpikir demikian.

Cepatlah bangun kesadaran kolektif untuk menyelamatkan pulaunya para Dewata ini. Jika tidak, kita akan hidup dalam dunia paradoks: di tanah yang disebut surga, kita justru terpenjara oleh sampah, macet, rasa tidak aman karena kriminal meningkat, tidak nyaman, was-was akan keselamatan kita.

Bali harus ajeg. Bali harus tetap Bali.

Merdeka, merdeka, merdekaaa……

Denpasar, 17 Agustus 2025

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *