RUTENG-BERITAFAJARTIMUR.COM Senja jatuh perlahan di pelataran Natas Labar Motang Rua. Udara terasa berat, tapi penuh harap. Di tangan-tangan yang terulur, nyala lilin kecil berkedip lirih, seperti ingin berbicara kepada langit: bahwa dari sudut timur Nusantara, damai masih dinyalakan, pelan tapi pasti.
Pemerintah Kabupaten Manggarai bersama unsur Forkopimda, tokoh lintas agama, pemuda, mahasiswa, anak-anak, dan masyarakat umum menggelar Doa Damai dari Manggarai untuk Indonesia, pada Selasa (2/9/2025) di Natas Labar Motang Rua.
Bukan sekadar agenda seremonial. Ini adalah ruang kontemplatif dan simbolik sebagai ruang tempat negara dan rakyat duduk sejajar, menyalakan kembali nyala harapan di tengah situasi nasional yang gelisah.
Bupati Manggarai, Herybertus G.L. Nabit, berdiri di hadapan peserta, tidak sebagai pejabat, tapi sebagai sesama anak bangsa yang resah namun tetap berharap. Suaranya tenang tapi tegas:
“Malam ini kita hadir bukan untuk membungkam suara, tapi untuk memastikan bahwa setiap orang tetap boleh bersuara. Bahwa dalam perbedaan, kita tetap saudara.”
Ia mengingatkan bahwa rumah besar bernama Indonesia hanya akan kokoh jika semua penghuninya saling menjaga dan saling mendengarkan.
“Kalau ada pengurus rumah yang belum maksimal, mari dibicarakan dengan baik. Demonstrasi itu sah menurut hukum, tapi harus damai. Damai itu bukan kebetulan, ia harus diperjuangkan bersama.”
Orasinya ditutup dengan puisi Sapardi Djoko Damono, sebagai metafora cinta sederhana yang diam-diam kuat menopang republik.
“Aku ingin mencintaimu dengan sederhana…
dengan kata yang tak sempat diucapkan kayu
kepada api yang menjadikannya abu.”
Jika lilin adalah lambang damai, maka suara mahasiswa adalah api kesadaran. GMNI (Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia) naik ke panggung, membawa membawa kejujuran.
“Indonesia sedang tidak baik-baik saja,” ucap mereka.
Dalam satu napas panjang, GMNI menyuarakan derita petani, nelayan, guru honorer, hingga buruh kontrak. Mereka bicara tentang otonomi daerah yang menyimpang, pembangunan yang timpang, hingga tanah rakyat yang dirampas atas nama investasi.
“Kita berkumpul dalam doa, refleksi, dan perlawanan. Karena damai bukan berarti diam. Damai juga berarti berani menyuarakan ketidakadilan dengan cara yang beradab.”
“Hidup rakyat! Hidup petani! Hidup perempuan Indonesia! Merdeka!”
Orasi itu disambut tidak dengan keributan, tapi dengan hening yang paham bahwa anak muda Manggarai tidak sekadar datang untuk membakar semangat, tapi juga mengawal masa depan.
Dari unsur Forkopimda, satu per satu suara disampaikan dengan tenang, terbuka, dan menyejukkan.
Kejari Ruteng menegaskan bahwa damai adalah kebutuhan dasar bangsa.
“Tanpa damai, pembangunan akan terhambat. Tapi damai bukan tugas aparat semata. Itu tanggung jawab kita semua sebagai anak bangsa.”
Kapolres Manggarai membuka dengan permintaan maaf atas peristiwa masa lalu:
“Kami menerima semua kritik dan saran sebagai penyemangat untuk terus memperbaiki diri, menjadi lebih profesional, dan melayani dengan hati.”
Sementara Dandim 1612 Manggarai menyampaikan ajakan yang mengakar:
“Manggarai ini rumah kita. Mari kita salurkan aspirasi dengan cara yang damai dan bermartabat. Kami dari Kodim dan Forkopimda berkomitmen menjaga stabilitas, tapi damai hanya akan bertahan jika dirawat bersama.”
Salah satu refleksi paling dalam disampaikan oleh Suster Yohana, Ketua Forum Komunikasi Umat Beragama (FKUB). Dalam pidato lembut namun tajam, ia menyinggung hal mendasar: bahwa setiap peristiwa kehidupan selalu melibatkan kontribusi pribadi dan karena itu, pengampunan dan kerendahan hatilah yang membuat kita tetap utuh sebagai masyarakat.
“Mari kita melandasi hidup dengan dialog dan kasih yang tulus. Kehadiran kita hari ini adalah bentuk pengorbanan dan sekaligus komitmen: bahwa kita ingin merawat keharmonisan dan kedamaian bersama.”
Ia menutup dengan petuah Manggarai:
“Tae dise neka behas.”





