Belajar dari Uma Nio, Petani Manggarai Barat Berbagi Cara Mengolah Lahan dan Menjaga Lingkungan

Beritafajartimur.com (Manggarai Barat) Bagi petani, tanah bukan sekadar tempat menanam dan memanen. Tanah adalah sumber penghidupan yang harus tetap dijaga agar mampu memberi hasil, bukan hanya hari ini, tetapi juga untuk musim-musim berikutnya.

Kesadaran itulah yang terasa dalam pertemuan puluhan petani dari berbagai desa di Kabupaten Manggarai Barat di lokasi pengembangan hortikultura Kelompok LCG Uma Nio, Desa Siru, Kecamatan Lembor, Sabtu (26/9/2026).

Dalam rangka memperingati Hari Tani Nasional 2026, para petani tidak hanya berkumpul untuk merayakan profesi mereka. Mereka datang untuk melihat langsung bagaimana sebuah kelompok tani mengelola lahan, mengembangkan hortikultura, membangun kekompakan anggota, sekaligus perlahan mengubah cara bertani agar lebih ramah terhadap lingkungan.

Kegiatan yang didampingi Burung Indonesia itu menjadi ruang belajar bersama bagi sedikitnya 21 perwakilan Local Conservation Group (LCG) dari berbagai desa di Bentang Alam Mbeliling (BAM), calon petani muda serta para penekun agroforestri.

Masing-masing kelompok datang membawa pengalaman dan persoalan sendiri. Namun, dari lahan Uma Nio, mereka menemukan satu pelajaran yang sama: produktivitas pertanian dan konservasi tidak harus berjalan di jalan yang berbeda.

Dari Lahan Terbatas Menjadi Ruang Belajar

Kelompok Tani Uma Nio menjadi salah satu contoh bagaimana lahan dengan berbagai keterbatasan dapat dikembangkan menjadi ruang produksi hortikultura.

 

Beragam komoditas dikembangkan di lahan tersebut, mulai dari mentimun, semangka, kacang panjang, bunga kol, melon, bayam, sayuran daun hingga labu.

Praktik tersebut menarik perhatian kelompok tani lain yang mengikuti kegiatan.

Perwakilan Kelompok Sinar Tani Mbala, Desa Mata Wae, misalnya, menilai apa yang dilakukan Uma Nio layak menjadi bahan pembelajaran bagi kelompok tani lainnya.

Pengalaman Uma Nio menunjukkan bahwa keterbatasan kondisi lahan bukan selalu menjadi penghalang. Dengan kemauan belajar, kerja bersama dan pengelolaan usaha yang konsisten, lahan tetap dapat dikembangkan menjadi sumber penghidupan.

Hal serupa dirasakan Robert Tusefan, Ketua Kelompok Tani Mekar Jaya Tani, Desa Compang Liang Ndara.

Kelompok yang dipimpinnya baru berjalan sekitar sembilan bulan. Karena itu, menurut Robert, mereka masih membutuhkan banyak pengalaman dari kelompok tani yang lebih dahulu berkembang.

«”Kelompok kami masih tergolong baru, baru berjalan kurang lebih sembilan bulan. Jadi kami masih membutuhkan banyak pembelajaran dan pengalaman,” kata Robert.»

Bagi Robert, kunjungan tersebut tidak hanya memperlihatkan teknik pengolahan lahan. Ia justru menemukan pelajaran lain yang tidak kalah penting: kekompakan dan fokus kelompok.

Ia melihat anggota Uma Nio bekerja dengan pembagian dan fokus yang lebih terarah terhadap usaha utama kelompok.

Sementara di kelompoknya, beberapa jenis pekerjaan terkadang dilakukan dalam waktu bersamaan sehingga konsentrasi anggota tidak selalu tertuju pada satu pekerjaan utama.

«”Yang saya lihat di sini sungguh luar biasa. Para anggota benar-benar fokus pada satu pekerjaan pokok yang menjadi usaha utama mereka. Dari situ kami mendapatkan banyak pelajaran, terutama bagaimana membangun kekompakan, fokus dalam bekerja, serta mengembangkan usaha kelompok secara lebih terarah,” ujarnya.»

Menurut Robert, pengalaman tersebut menjadi penting karena kelompoknya masih berada pada tahap awal pengembangan.

«”Kami bisa melihat langsung cara kelompok lain bekerja dan tentu akan menjadi bahan pembelajaran bagi kami ke depan,” katanya.»

Bukan Sekadar Menanam, tetapi Mengatur Siklus Lahan

Di Uma Nio, proses bertani tidak berhenti pada menanam dan memanen.

Kelompok tersebut mulai menerapkan pola tanam yang lebih teratur, termasuk melalui pergantian komoditas pada lahan yang sama.

Mustaran Ali (41), Ketua Kelompok Tani Uma Nio, menjelaskan kelompoknya beranggotakan sekitar 20 orang dan seluruhnya bergerak di bidang hortikultura.

Pendampingan dari Burung Indonesia, kata dia, turut memperkuat pengetahuan anggota dalam mengembangkan usaha pertanian.

Salah satu praktik yang dilakukan adalah rotasi tanaman.

Setelah satu komoditas dipanen, lahan dapat kembali dimanfaatkan untuk komoditas lain dengan menyesuaikan kondisi dan kebutuhan tanaman.

Mustaran mencontohkan pergantian tanaman kacang dan mentimun.

«”Kadang tanam kacang, setelah panen tanam timun. Setelah tanam timun, tanam kacang lagi. Jadi rotasi produksi tanaman,” ujarnya.»

Dengan masa produksi sejumlah komoditas yang relatif singkat, pola tersebut memungkinkan lahan dimanfaatkan secara lebih optimal dalam satu tahun.

Namun, bagi kelompok Uma Nio, produktivitas bukan satu-satunya ukuran keberhasilan.

Hasil pertanian juga harus memiliki akses pasar.

Produk hortikultura kelompok tersebut dipasarkan ke sejumlah wilayah, antara lain Lembor, Ruteng dan Labuan Bajo.

Bahkan, pembeli tidak jarang datang langsung ke lokasi untuk mengambil hasil pertanian.

«”Langganannya di Ruteng dan Labuan Bajo. Pembeli juga sering datang langsung ke sini,” kata Mustaran.»

Artinya, proses pertanian yang dibangun Uma Nio mulai membentuk sebuah mata rantai yang lebih lengkap: dari pengelolaan lahan, produksi, hingga pemasaran.

Dari Pestisida Kimia ke Pestisida Nabati

Perubahan paling terasa bagi anggota Uma Nio justru terjadi pada cara mereka memandang hubungan antara produksi pertanian dan lingkungan.

Sebelum mendapatkan pendampingan, penggunaan pestisida kimia masih menjadi bagian dari praktik bertani mereka.

Namun, setelah mendapatkan pengetahuan dan pendampingan secara berkala, kelompok mulai mengenal bahan organik dan pestisida nabati.

«”Ilmu kami lumayan bertambah. Sebelumnya kami tidak menggunakan organik, tetapi sekarang sudah menggunakan organik dan pestisida nabati yang didampingi oleh LSM Burung,” ujar Mustaran.»

Pendampingan tersebut tidak berhenti pada pelatihan.

Menurut Mustaran, tim pendamping secara rutin melakukan kunjungan dan memantau perkembangan kelompok, termasuk setiap bulan.

Perubahan itu perlahan menggeser cara pandang petani: bahwa mengendalikan hama tidak selalu harus identik dengan penggunaan bahan kimia, dan meningkatkan hasil pertanian tidak harus mengabaikan kondisi lingkungan.

Bagi Uma Nio, konservasi mulai masuk ke dalam aktivitas yang paling dekat dengan kehidupan petani—di atas tanah yang mereka garap setiap hari.

Mengapa Petani Menjadi Bagian Penting dari Konservasi?

Flores Program Manager Burung Indonesia, Tiburtius Hani, mengatakan perhatian terhadap petani dalam momentum Hari Tani Nasional bukan tanpa alasan.

Menurut dia, petani merupakan salah satu pelaku konservasi yang strategis karena mereka berada langsung di lapangan dan berinteraksi setiap hari dengan tanah, air, tanaman serta lingkungan di sekitarnya.

«”Kita melihat sebetulnya petani itu salah satu pelaku konservasi yang cukup strategis, karena mereka sebetulnya yang ada di tapak,” kata Tiburtius saat diwawancarai media.»

Karena itu, menurut dia, keberhasilan konservasi tidak hanya ditentukan oleh program atau kebijakan yang dibuat dari luar kawasan.

Praktik sehari-hari masyarakat yang hidup dan bekerja di dalam bentang alam juga memiliki peran penting.

«”Bisa kita katakan bahwa sebetulnya keberhasilan konservasi itu tergantung pada bagaimana petani mempraktikkan nilai-nilai konservasi itu dalam keseharian mereka,” ujarnya.»

Pandangan tersebut membuat Hari Tani Nasional memiliki relevansi tersendiri bagi Burung Indonesia.

Hari Tani bukan hanya momentum untuk berbicara mengenai produksi pangan, tetapi juga kesempatan untuk mengajak petani melihat kembali hubungan antara lahan pertanian dan lingkungan yang menopangnya.

«”Karena itu sangat relevan ketika kita merayakan Hari Tani, mengangkat konservasi sebagai bagian yang perlu menjadi perhatian para petani dalam praktiknya sehari-hari,” kata Tiburtius.»

Menjaga Petani, Menjaga Ekosistem

Perhatian Burung Indonesia terhadap petani juga tidak terlepas dari upaya memperkenalkan kekayaan keanekaragaman hayati, termasuk burung, sebagai bagian penting dari ekosistem.

Tiburtius menjelaskan bahwa setiap tahun Burung Indonesia juga memperingati keragaman burung di Indonesia.

Momentum tersebut digunakan untuk memperkenalkan kepada publik bahwa Indonesia memiliki kekayaan jenis burung yang besar dan keberadaan burung memiliki keterkaitan dengan kesehatan ekosistem.

«”Kita ingin publik mengetahui tentang keragaman jenis burung di Indonesia, bahwa Indonesia ini kaya dengan keragaman jenis burung,” katanya.»

Menurut dia, kekayaan tersebut perlu dikenali dan dijaga, bukan hanya karena burung merupakan bagian dari keanekaragaman hayati, tetapi juga karena keberadaannya berkaitan dengan fungsi ekosistem.

Karena itu, pengenalan nilai penting burung dapat dilakukan melalui berbagai kegiatan yang mempertemukan masyarakat, termasuk petani.

Dalam konteks pertanian, pendekatan tersebut menjadi penting karena lahan pertanian bukan ruang yang berdiri sendiri. Ia berada dalam satu bentang alam yang juga mencakup hutan, sumber air, pepohonan, satwa liar dan ruang hidup masyarakat.

Petani dan Konservasi dalam Satu Bentang Alam

Kegiatan di Uma Nio memperlihatkan bahwa ketahanan pangan dan konservasi tidak harus ditempatkan sebagai dua kepentingan yang saling berlawanan.

Petani membutuhkan lahan produktif untuk menghasilkan pangan dan menopang kehidupan keluarga.

Di sisi lain, produktivitas pertanian membutuhkan tanah yang tetap subur, air yang tersedia, lingkungan yang sehat dan ekosistem yang berfungsi.

Hubungan itu menjadi penting dalam konteks Bentang Alam Mbeliling yang memiliki luas sekitar 94.000 hektare dan menjadi ruang hidup masyarakat di 36 desa yang tersebar di lima kecamatan, yakni Sano Nggoang, Mbeliling, Komodo, Lembor dan Lembor Selatan.

Karena itu, memperkuat kapasitas petani tidak cukup hanya dengan berbicara mengenai peningkatan produksi.

Pengetahuan mengenai kesehatan tanah, pola tanam, pengendalian hama, penggunaan bahan organik, perlindungan sumber air, hingga akses pasar menjadi bagian dari upaya membangun usaha pertanian yang lebih berkelanjutan.

Di titik inilah pengalaman Uma Nio menjadi relevan bagi kelompok lain.

“Petani Harus Sungguh-Sungguh dan Menjaga Lingkungan”

Bagi Mustaran, pendampingan konservasi membawa perubahan dalam cara kelompoknya melihat kegiatan bertani.

Jika sebelumnya perhatian lebih banyak tertuju pada bagaimana tanaman tumbuh dan menghasilkan, kini mereka mulai memahami bahwa hasil pertanian juga bergantung pada lingkungan yang menopangnya.

Ia pun mengajak petani di Flores Barat untuk tidak hanya mengejar produksi, tetapi juga memperhatikan lingkungan.

«”Jadi petani itu sungguh-sungguh dan menjaga lingkungan. Pendampingan dari LSM Burung ini sangat luar biasa. Awalnya kami tidak tahu tentang masalah itu. Sebelumnya kami hanya menggunakan pestisida kimia. Setelah masuk LSM Burung, ternyata lingkungan sekitar itu harus dijaga,” katanya.»

Pesan itu menjadi benang merah dari pertemuan petani di Uma Nio.

Hari Tani Nasional tidak berhenti pada perayaan profesi petani atau pembicaraan tentang hasil panen. Momentum tersebut juga membuka ruang untuk melihat kembali bagaimana pangan dihasilkan dan seperti apa lingkungan yang diwariskan kepada generasi berikutnya.

Dari lahan hortikultura di Desa Siru, para petani membawa pulang lebih dari sekadar pengetahuan mengenai cara mengolah tanah atau memilih komoditas.

Mereka membawa sebuah pemahaman bahwa bertani bukan semata-mata mengambil hasil dari tanah.

Bertani juga berarti menjaga tanah agar tetap mampu menghasilkan, menjaga lingkungan agar tetap menopang kehidupan, dan memastikan apa yang ditanam hari ini masih memiliki ruang untuk tumbuh bagi generasi berikutnya. Yoflan Bagang.(BFT/LBJ/RED/Yoflan)

Pos terkait