BIH dan Men Wayan

Catatan Paradoks: Wayan Suyadnya

 

Siapa yang membutuhkan rumah sakit? Tentu mereka yang sakit. Tapi di sinilah paradoks itu bermula. Rumah sakit dibangun untuk orang sakit, tapi tidak semua orang sakit bisa masuk dan dirawat. 

Apakah orang miskin tidak berhak atas rumah sakit yang megah? Apakah derita mereka tidak cukup bernilai untuk ditangani di tempat yang disebut bertaraf internasional, yang ruangannya konon lebih mirip hotel berbintang, tempat tidur berlapis linen putih yang harum, dan AC yang menghembuskan udara sejuk seperti taman surgawi? Apakah Men Wayan bila sakit harus sembuh hanya dengan doa dan kesabaran saja?

Saya teringat dua hari lalu, Presiden Prabowo meresmikan Bali International Hospital (BIH) di Sanur, tepatnya 25 Juni 2025, sebuah rumah sakit bertaraf internasional. Pertanyaan muncul; rumah sakit ini untuk siapa?

Apakah ini tempat penyembuhan atau destinasi wisata medis? Apakah ini harapan bagi Men Wayan bila sakit bisa berobat ke sana, atau itu sebuah investasi untuk mendatangkan dollar?

Di atas kertas, untuk mereka yang kesehatannya bermasalah, Bali kini lengkap: Rumah Sakit Internasional, Rumah Sakit Umum Pusat Prof. Ngurah, RSUD Bali Mandara di tingkat provinsi, RSUD kabupaten/kota, Puskesmas, Rumah Sakit Jiwa, Rumah Sakit Mata, semua tersedia. Seakan-akan, jika orang Bali sakit, tidak lagi menyakitkan karena sudah ada tempat perawatan mumpuni.

Tapi realitas tak semudah coretan di atas kertas, atau brosur promosi. Di balik dinding-dinding steril, birokrasi dan biaya menjadi alat seleksi.

Inilah rumah sakit kita, tak hanya di Bali, ruang VVIP bukan untuk mereka yang paling parah sakitnya, tapi untuk mereka yang paling besar duitnya.

Di negeri ini, sakit bukan syarat utama mendapat perawatan terbaik, melainkan kekuatan membayar. Seolah nyawa pun punya harga eceran. Kelas-kelas pasien menjadi kasta-kasta baru, bukan ditentukan oleh derita, melainkan oleh dompet.

Layanan kesehatan berubah jadi layanan berdasarkan kemampuan, bukan kebutuhan. Mestinya yang membutuhkan VVIP adalah yang penyakitnya VVIP.

Paradoks itulah yang kini menjadi luka baru dalam tubuh sistem kesehatan kita.

Katanya negara berpihak pada orang miskin. Katanya Tuhan ada di gubuk-gubuk orang miskin, namun ketika napas tinggal separuh, orang miskin tetap harus antre di ruang kelas tiga, menunggu giliran yang entah kapan tiba, bahkan tidak dapat.

Sementara ruang yang nyaman, dokter terbaik, dan alat tercanggih disediakan untuk mereka yang mampu bayar lebih, bukan yang paling sakit, yang paling membutuhkan.

Dan kini berdirilah BIH di Sanur, anggun dan megah. Tapi Men Wayan, Ketut Latig, petani tua yang tinggal tak jauh dari sana, masih bertanya-tanya: “Apakah saya bisa masuk ke sana saat nanti saya sakit? Atau cukup saya lewat saja, sambil menatap dari jauh, menahan sakit sambil menunggu ajal?”

Inilah negeri kita: rumah sakit dibangun untuk orang sakit, tapi orang miskin tetap harus mencari cara untuk sembuh dengan jalannya sendiri, bila perlu ke dukun.

Dunia yang sehat dengan wajah yang sakit. Dunia yang peduli dalam kata, tapi menutup pintu dalam kenyataannya. Dunia kita, dunia paradoks. **

 

Mataram, 27 Juni 2025

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *