BERITAFAJARTIMUR.COM (MANGGARAI) Ketika sejumlah fasilitas kesehatan di daratan terdampak gempa dan akses menuju wilayah tertentu tidak mudah ditembus, TNI Angkatan Laut (TNI AL) mengerahkan kekuatan laut untuk mempercepat penanganan bencana di Flores, Nusa Tenggara Timur (NTT).
Tiga kapal perang, yakni KRI dr. Soeharso, KRI Bung Hatta-370 dan KRI Hiu, diarahkan menuju Pelabuhan Reo, Kabupaten Manggarai.
KRI dr. Soeharso memiliki misi khusus sebagai rumah sakit terapung. Kapal tersebut akan memberikan dukungan pelayanan kesehatan bagi masyarakat terdampak, terutama di wilayah yang fasilitas kesehatan di daratan mengalami kerusakan.
Komandan Satuan Tugas Laut sekaligus Komandan Pusat Komando Pengamanan Laut (Puskamla) Koarmada II, Laksamana Pertama TNI Edy Setyawan, S.E., mengatakan pengerahan tersebut merupakan bentuk reaksi cepat TNI AL setelah melihat kondisi masyarakat dan fasilitas kesehatan di lapangan.
“Kemarin saya sudah survei langsung ke titik-titik gempa, yaitu di Kampung Waso dan Kampung Ruis. Hampir fasilitas kesehatan itu stop dikarenakan terdampak gempa,” ujar Edy kepada wartawan, Selasa (18/8/2026).
Kondisi tersebut mendorong TNI AL segera mengirim KRI dr. Soeharso dari Surabaya menuju Reo.
“Oleh karena itu, kita segera melakukan reaksi cepat untuk mendorong KRI dr. Soeharso hadir di Pelabuhan Reo,” katanya.
Bukan Hanya Kapal, 200 Personel Disiapkan
Operasi kemanusiaan TNI AL tidak hanya mengandalkan kapal.
Sebanyak sekitar 200 personel dari satuan setingkat batalion komposit disiapkan untuk mendukung penanganan di lapangan.
Personel tersebut akan membantu berbagai kebutuhan operasi, termasuk pengangkutan peralatan berat serta mendukung pembangunan rumah sakit lapangan di wilayah terdampak.
Kehadiran personel tambahan menjadi penting karena penanganan bencana membutuhkan dukungan lintas bidang. Setelah fase penyelamatan dan pertolongan awal, masyarakat membutuhkan pelayanan kesehatan, tempat pelayanan sementara, logistik serta dukungan pemulihan fasilitas umum.
Karena itu, pengerahan kekuatan TNI AL diarahkan untuk menjawab kebutuhan tersebut secara terpadu.
Rumah Sakit Terapung untuk Manggarai Raya
KRI dr. Soeharso akan menjadi salah satu fasilitas medis sementara untuk masyarakat di kawasan Manggarai Raya.
Menurut Edy, fasilitas yang tersedia di kapal tersebut dapat dimanfaatkan masyarakat dari Kabupaten Manggarai, Manggarai Timur dan Manggarai Barat.
“Kita fungsikan nanti KRI dr. Soeharso sebagai rumah sakit terapung di sana. Kita memiliki fasilitas lengkap di sana yang bisa dimanfaatkan oleh masyarakat,” ujarnya.
Dengan konsep rumah sakit terapung, pelayanan medis tidak sepenuhnya bergantung pada kondisi fasilitas kesehatan di daratan.
Kapal dapat menjadi fasilitas pendukung ketika rumah sakit atau pusat pelayanan kesehatan mengalami gangguan akibat bencana.
Laut Menjadi Jalur Cepat Bantuan
Selain pelayanan kesehatan, TNI AL juga menggunakan kapal untuk mengangkut bantuan kemanusiaan.
Labuan Bajo dimanfaatkan sebagai titik konsolidasi bantuan sebelum dikirim ke sejumlah wilayah terdampak. Dari wilayah tersebut, bantuan dapat didistribusikan menggunakan kapal menuju lokasi yang membutuhkan.
Edy menilai strategi tersebut lebih efektif untuk beberapa wilayah yang sulit dijangkau dengan cepat melalui jalur darat.
Distribusi bantuan dari Labuan Bajo menuju Riung, misalnya, dapat memakan waktu sekitar sembilan jam jika ditempuh melalui jalur darat. Sementara menggunakan KRI, perjalanan disebut dapat ditempuh sekitar 2,5 jam.
Perbedaan waktu tersebut membuat jalur laut menjadi pilihan strategis dalam kondisi tanggap darurat.
Kapal Perang dengan Misi Kemanusiaan
Pengerahan KRI dr. Soeharso, KRI Bung Hatta-370 dan KRI Hiu menunjukkan bagaimana kekuatan laut dapat digunakan untuk mendukung operasi kemanusiaan ketika bencana terjadi.
Di tengah situasi darurat, kapal perang tidak hanya menjalankan fungsi pertahanan dan keamanan wilayah perairan. Kapal-kapal tersebut juga dapat menjadi sarana untuk mengangkut bantuan, personel, peralatan dan pelayanan kesehatan.
Bagi masyarakat Flores yang terdampak gempa, pergerakan kapal-kapal tersebut membawa kebutuhan yang sangat nyata: makanan, obat-obatan, tenaga medis, perlengkapan darurat dan dukungan untuk memulihkan pelayanan dasar.
Di saat sebagian akses darat menghadapi keterbatasan, laut menjadi jalan lain bagi bantuan untuk terus bergerak.
Dan dari laut pula, TNI AL berupaya memastikan penanganan bencana tidak berhenti pada titik pengumpulan bantuan, tetapi berlanjut hingga menjangkau masyarakat yang paling membutuhkan.(BFT/LBJ/RED/Yoflan)





