BERITAFAJARTIMUR.COM (MANGGARAI) Jalur laut menjadi salah satu tumpuan TNI Angkatan Laut (TNI AL) untuk mempercepat distribusi bantuan bagi masyarakat terdampak gempa bumi di Pulau Flores, Nusa Tenggara Timur (NTT).
TNI AL mengerahkan sejumlah kapal, termasuk KRI Bung Hatta-370, KRI Hiu dan KRI dr. Soeharso, menuju Pelabuhan Reo, Kabupaten Manggarai.
Komandan Satuan Tugas Laut sekaligus Komandan Pusat Komando Pengamanan Laut (Puskamla) Koarmada II, Laksamana Pertama TNI Edy Setyawan, S.E., mengatakan pengerahan kapal tersebut menjadi bagian dari operasi kemanusiaan untuk mempercepat mobilisasi bantuan menuju wilayah terdampak.
“Ketiga kapal ini sedang bergerak menuju Pelabuhan Reo, Kabupaten Manggarai,” ujar Edy kepada wartawan, Selasa (18/8/2026).
Menurut dia, pemanfaatan jalur laut menjadi penting karena kondisi geografis Flores membuat distribusi bantuan melalui jalur darat tidak selalu dapat dilakukan dengan cepat.
Salah satu titik yang dimanfaatkan untuk konsolidasi bantuan adalah Labuan Bajo. Daerah tersebut berfungsi sebagai marshalling area atau titik pengumpulan sebelum bantuan dikirim menuju sejumlah wilayah terdampak.
Bantuan yang dikonsolidasikan tidak hanya berasal dari TNI AL. Bantuan dari Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) yang berada di Labuan Bajo juga akan didorong menuju daerah terdampak melalui jalur laut.
Selain itu, TNI AL menggandeng sejumlah pihak untuk mengangkut berbagai kebutuhan masyarakat, mulai dari bahan makanan, air, perlengkapan tanggap darurat hingga kebutuhan kemanusiaan lainnya.
Waktu Tempuh Dipangkas
Edy mengatakan penggunaan kapal TNI AL dapat memangkas waktu distribusi bantuan secara signifikan.
Sebagai gambaran, pengiriman bantuan dari Labuan Bajo menuju kawasan Riung melalui jalur darat dapat memerlukan waktu sekitar sembilan jam.
Sementara jika menggunakan kapal TNI AL, perjalanan dapat ditempuh jauh lebih singkat.
“Kalau kita menggunakan KRI, itu hanya ditempuh sekitar 2,5 jam. Jadi sangat lebih efektif ketika distribusi bahan sembako, bahan kontak maupun perlengkapan lainnya dari Labuan Bajo sebagai marshalling area,” ujarnya.
Keunggulan tersebut menjadi alasan jalur laut terus dimanfaatkan untuk menjangkau wilayah yang membutuhkan bantuan dengan segera.
Kapal memiliki kemampuan mengangkut bantuan dalam jumlah besar dalam satu perjalanan. Hal itu memungkinkan distribusi logistik dilakukan secara lebih efisien, terutama ketika akses darat menghadapi kendala akibat kerusakan infrastruktur maupun kondisi geografis.
KRI Bung Hatta 370 Angkut Bantuan
Sebelumnya, TNI AL juga telah memanfaatkan KRI Bung Hatta 370 untuk mengangkut bantuan dan bahan kontak menuju wilayah Riung.
Bantuan tersebut kemudian didistribusikan kepada masyarakat yang membutuhkan di daerah terdampak.
Skema serupa terus diperkuat dengan pengerahan kapal lainnya, termasuk dukungan kapal dari Kupang menuju kawasan terdampak.
TNI AL memastikan bantuan yang telah dikumpulkan di titik konsolidasi tidak berhenti di sana, tetapi segera dikirim menuju masyarakat.
Dalam situasi tanggap darurat, kecepatan menjadi faktor penting. Keterlambatan distribusi dapat membuat kebutuhan dasar masyarakat semakin sulit dipenuhi, terutama bagi warga yang berada di daerah dengan akses terbatas.
Karena itu, pengerahan KRI menjadi salah satu strategi TNI AL untuk menjembatani persoalan akses sekaligus mempercepat distribusi bantuan pascagempa.
Operasi tersebut tidak sekadar memindahkan bantuan dari satu pelabuhan ke pelabuhan lain. Di balik pergerakan kapal, terdapat upaya memastikan makanan, obat-obatan, perlengkapan darurat dan kebutuhan masyarakat dapat tiba di lokasi yang paling membutuhkan.(BFT/LBJ/RED/Yoflan)





