BERITAFAJARTIMUR.COM (LABUAN BAJO) TNI Angkatan Laut (TNI AL) menyiapkan KRI dr. Soeharso sebagai rumah sakit terapung untuk membantu penanganan korban gempa bumi yang mengguncang sejumlah wilayah di Pulau Flores, Nusa Tenggara Timur (NTT).
Kapal perang jenis bantu rumah sakit tersebut akan dikerahkan ke Pelabuhan Reo, Kabupaten Manggarai, untuk mendukung pelayanan kesehatan bagi masyarakat terdampak, terutama di wilayah yang fasilitas kesehatannya mengalami kerusakan atau belum dapat beroperasi secara optimal.
Selain membawa peralatan medis dan dukungan tenaga kesehatan, KRI dr. Soeharso juga akan menjadi fasilitas pelayanan sekaligus rujukan medis sementara bagi masyarakat di kawasan Manggarai Raya.
Komandan Satuan Tugas Laut sekaligus Komandan Pusat Komando Pengamanan Laut (Puskamla) Koarmada II, Laksamana Pertama TNI Edy Setyawan, S.E., mengatakan pengerahan KRI dr. Soeharso merupakan bagian dari respons cepat TNI AL dalam membantu pemerintah menangani dampak gempa.
“KRI dr. Soeharso ini adalah kapal tipe bantuan rumah sakit. Insyaallah siang ini akan segera bergerak dari Surabaya menuju Pelabuhan Reo, Manggarai,” ujar Edy saat memberikan keterangan kepada wartawan, Selasa (18/8/2026) siang.

Menurut Edy, pengerahan kapal rumah sakit dilakukan setelah pihaknya memantau langsung kondisi sejumlah wilayah yang terdampak gempa, termasuk kawasan Kampung Waso dan Kampung Ruis.
Dari hasil pemantauan tersebut, sejumlah fasilitas kesehatan mengalami gangguan akibat terdampak gempa. Kondisi itu menyebabkan pelayanan medis bagi masyarakat tidak dapat berjalan secara normal.
“Kemarin saya sudah survei langsung ke titik-titik gempa, yaitu di Kampung Waso dan Kampung Ruis. Hampir fasilitas kesehatan itu stop dikarenakan terdampak gempa. Oleh karena itu, kita segera melakukan reaksi cepat untuk mendorong KRI dr. Soeharso hadir di Pelabuhan Reo,” katanya.
KRI dr. Soeharso Jadi Rumah Sakit Terapung
KRI dr. Soeharso nantinya akan difungsikan sebagai rumah sakit terapung untuk memperkuat pelayanan kesehatan bagi masyarakat terdampak bencana.
Kapal tersebut memiliki fasilitas kesehatan yang dapat dimanfaatkan untuk memberikan pelayanan medis ketika fasilitas kesehatan di daratan belum sepenuhnya pulih.
“Jadi kita fungsikan nanti KRI dr. Soeharso sebagai rumah sakit terapung di sana. Kita memiliki fasilitas lengkap di sana yang bisa dimanfaatkan oleh masyarakat, khususnya di Kabupaten Manggarai, Manggarai Timur dan Manggarai Barat,” ujar Edy.
Keberadaan kapal rumah sakit ini diharapkan dapat menjadi solusi sementara untuk memenuhi kebutuhan pelayanan kesehatan masyarakat di tengah situasi tanggap darurat.
Pasalnya, persoalan pascagempa tidak hanya menyangkut kerusakan bangunan fasilitas kesehatan. Ketersediaan obat-obatan, peralatan medis, tenaga kesehatan serta fasilitas pendukung lainnya juga menjadi kebutuhan mendesak.
Dengan kemampuan yang dimiliki, KRI dr. Soeharso diharapkan mampu memperkuat sistem penanganan korban bencana sekaligus memberikan akses pelayanan kesehatan bagi warga yang berada di wilayah terdampak.
Tiga KRI Bergerak Menuju Reo
Selain KRI dr. Soeharso, TNI AL juga mengerahkan sejumlah alat utama sistem senjata (alutsista) untuk mendukung operasi kemanusiaan dan pemulihan pascabencana di Flores.
Sejumlah kapal yang dikerahkan antara lain KRI Bung Hatta-370 dan KRI Hiu. Ketiga kapal tersebut, termasuk KRI dr. Soeharso, diarahkan menuju Pelabuhan Reo, Kabupaten Manggarai.
“Ketiga kapal ini sedang bergerak menuju Pelabuhan Reo, Kabupaten Manggarai,” kata Edy.
Pengerahan beberapa kapal tersebut menunjukkan bahwa operasi penanganan bencana tidak hanya berfokus pada pelayanan kesehatan, tetapi juga mencakup mobilisasi personel, bantuan logistik, peralatan serta kebutuhan lain yang diperlukan masyarakat terdampak.
TNI AL juga menyiapkan satuan setingkat batalion komposit dengan kekuatan sekitar 200 personel.
Personel tersebut akan mendukung operasi kemanusiaan di lapangan, termasuk membantu membawa peralatan berat serta mendukung pembangunan rumah sakit lapangan di daerah terdampak.
Bantuan Dipercepat Melalui Jalur Laut
Di sisi lain, TNI AL terus mempercepat mobilisasi bantuan menuju sejumlah wilayah terdampak gempa dengan memanfaatkan jalur laut.
Salah satu kapal yang telah digunakan dalam operasi kemanusiaan adalah KRI Bung Hatta 370. Kapal tersebut membawa berbagai bantuan dan bahan kontak untuk selanjutnya didistribusikan ke wilayah Reo, Kecamatan Reo, Kabupaten Manggarai, NTT.
Kapal lainnya juga disiapkan untuk memperkuat operasi, termasuk kapal yang akan bergerak dari Kupang menuju wilayah terdampak.
Bantuan yang diangkut tidak hanya berasal dari TNI AL. Sejumlah bantuan dari Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) yang berada di Labuan Bajo juga akan didistribusikan melalui jalur laut.
TNI AL juga menggandeng sejumlah mitra dan pemangku kepentingan untuk mengangkut berbagai kebutuhan masyarakat, mulai dari bahan pokok, perlengkapan tanggap darurat hingga bantuan kemanusiaan lainnya.
Dalam skema tersebut, Labuan Bajo dimanfaatkan sebagai marshalling area atau titik konsolidasi bantuan sebelum dikirim ke sejumlah wilayah terdampak.
Pemanfaatan jalur laut dinilai menjadi salah satu pilihan efektif untuk mempercepat distribusi bantuan, mengingat kondisi geografis Pulau Flores serta tantangan akses menuju sejumlah daerah yang terdampak gempa.
Edy mengatakan, distribusi bantuan dari Labuan Bajo menuju kawasan Reo, Kabupaten Manggarai jika menggunakan jalur darat dapat membutuhkan waktu sekitar sembilan jam. Sementara jika menggunakan kapal TNI AL, waktu tempuh dapat dipangkas secara signifikan.
“Kalau kita menggunakan KRI, itu hanya ditempuh sekitar 2,5 jam. Jadi sangat lebih efektif ketika distribusi bahan sembako, bahan kontak maupun perlengkapan lainnya dari Labuan Bajo sebagai marshalling area,” ujarnya.
Fokus Menjangkau Manggarai Raya
Pengerahan kekuatan laut tersebut menjadi bagian dari upaya TNI AL mempercepat penanganan dampak gempa di sejumlah wilayah Flores, terutama Kabupaten Manggarai, Manggarai Timur dan Manggarai Barat.
TNI AL memastikan bantuan yang telah dikumpulkan di titik konsolidasi tidak berhenti di sana, tetapi segera didorong menuju masyarakat yang membutuhkan.
Dalam kondisi darurat, kapal menjadi sarana penting untuk menjangkau wilayah yang menghadapi kendala akses darat. Kapal juga memiliki kemampuan mengangkut bantuan dalam jumlah besar dalam satu perjalanan.
Makanan, air, obat-obatan, tenaga medis, peralatan kesehatan hingga perlengkapan tanggap darurat menjadi kebutuhan yang harus segera dipenuhi masyarakat terdampak.
Karena itu, kekuatan laut dikerahkan untuk menjembatani keterbatasan akses sekaligus mempercepat proses penanganan bencana di lapangan.
Kapal Perang untuk Misi Kemanusiaan
Pengerahan KRI dr. Soeharso sekaligus memperlihatkan peran lain kekuatan TNI AL ketika masyarakat berada dalam situasi darurat.
Kapal perang dan kapal pendukung tidak hanya memiliki fungsi dalam menjaga pertahanan dan keamanan wilayah perairan, tetapi juga dapat digerakkan untuk menjalankan misi kemanusiaan dan membantu penanganan bencana.
KRI dr. Soeharso diharapkan menjadi salah satu tumpuan pelayanan kesehatan bagi masyarakat terdampak gempa Flores, terutama ketika fasilitas medis di daratan belum sepenuhnya kembali berfungsi.
Dari laut, kapal rumah sakit tersebut membawa tenaga kesehatan, obat-obatan, peralatan medis serta dukungan kemanusiaan untuk membantu warga yang membutuhkan.
Bagi masyarakat yang tengah menghadapi masa sulit akibat bencana, kehadiran KRI dr. Soeharso bukan sekadar pengerahan kekuatan militer.
Kapal tersebut diharapkan menjadi simbol hadirnya negara di tengah masyarakat sekaligus membawa harapan bahwa bantuan akan terus bergerak, menembus keterbatasan akses, hingga menjangkau warga yang paling membutuhkan.(BFT/LBJ/RED/Yoflan)





