BERITAFAJARTIMUR.COM (Labuan-Bajo-MABAR) |
Bupati Manggarai Barat Edistasius Endi merespons keluhan warga Labuan Bajo terkait kelangkaan minyak tanah sejak beberapa hari terkahir.
Ia mengaku akan segera berkoordinasi dengan Badan Pengatur Hilir Minyak dan Gas Bumi (BPH Migas) yang memiliki kapasitas mengatur kuota migas untuk suatu daerah.
“Ini Informasi yang sangat berharga. Nanti kami akan koordinasi. Kami akan bersurat ke BPH Migas supaya kelangkaan terkait kebutuhan pokok masyarakat diantaranya minyak tanah atau LPG supaya itu bisa diatasi dalam waktu yang sesingkat-singkatnya,” ungkapnya saat ditemui Media Beritafajartimur.com di Mapolres Manggarai Barat, Selasa (15/11/2022).
Dirinya berjanji akan mengkaji kembali dengan instansi terkait untuk kebutuhan minyak tanah di Manggarai Barat, sehingga dapat dipastikan penambahan kuota minyak tanah di tahun 2023.
“Kami akan mengecek berapa kebutuhan eksisting termasuk berapa peningkatannya. Sehingga usulan di tahun 2023 nanti, kita akan memaparkan kondisi eksisting terkait minyak tanah maupun LPG. Sehingga di tahun 2023 kelangkaan-kelangkaan yang disampaikan itu tidak terjadi lagi,” tegasnya.
Orang nomor satu di bumi Komodo itu juga akan berkoordinasi dengan Pertamina. Hasil koordinasi tersebut nanti akan dilakukan sweeping terhadap agen atau pangkalan minyak tanah yang diduga
melakukan penimbunan maupun pedagang yang menjual eceran dengan harga yang tak wajar. Bupati Edi juga memastikan pasokan minyak tanah masih aman untuk waktu dua bulan ke depan.
“Kami akan lakukan koordinasi dengan pemegang otoritas (Pertamina) sehingga kalau dalam hasil diskusi nanti perlu ada aksi, sweeping dan lain sebagainya, tapi kita koordinasi dulu,” tutupnya.
Sementara itu pantauan media ini, puluhan warga kota Labuan Bajo terpaksa mengantri untuk mendapatkan minyak tanah. Sejak berapa hari terkahir, minyak tanah di Labuan Bajo mengalami kelangkaan.
Antrian warga untuk membeli minyak tanah salah satunya terjadi di sebelah pertamina Pasar Baru Labuan Bajo. Selain mengantri pembeli juga dibatasi.
Salah satu ibu rumah tangga bernama Bulan saat ditemui media ini mengaku lelah karena antrian berjam-jam. Selain lelah, harga juga melambung tinggi. Padahal, sebelumnya kata dia harga minyak masih dapat dijangkau.
“Sangat cape Pak. Antrian berjam jam. Belum lagi harganya sudah naik sampai 20.000 rupiah per botol aqua. Padahal, harga sebelumnya hanya 13.000 rupiah saja,” pungkas Bulan dan diamni rekannya.(BFT/LBJ/Yoflan).





