Catatan Paradoks: Wayan Suyadnya
Rabu, 16 Juli 2025. Saya berkesempatan menjejakkan kaki di tanah yang digadang-gadang sebagai jantung masa depan republik: Ibu Kota Nusantara—IKN—di Kalimantan Timur.
Tanah yang dahulu hanya dibaca dalam narasi visi besar, kini telah menjelma menjadi kota dengan jalan-jalan lebar, bangunan megah, dan istana yang berdiri anggun tapi sunyi.
Saya berjalan di antara istana—bukan di dalamnya, tapi di balik pagar. Ada batas yang tegas, tak terlihat namun terasa kuat: pagar besi, satpam berseragam, dan tulisan yang tak bisa ditawar: “Objek Vital Negara. Dilarang Masuk.”
Maka sebagai rakyat biasa, saya hanya boleh memandang dari kejauhan. Seperti pengagum seorang gadis nan jelita yang hanya bisa ditatap dari seberang jendela.
Saya berkeliling bersama teman-teman. Jalan lengang tanpa suara klakson, udara panas yang menampar pipi, angsa-angsa putih yang bersuara nyaring seolah menertawakan keramaian yang tak pernah datang.
Ada toko sebagai tempat penghilang dahaga, seolah kota ini memang sudah siap untuk dikenang, bahkan sebelum dikenali.
Tidak ada pejabat yang menyambut, tidak ada yang menjelaskan, tidak ada pula komentar yang menenangkan. Tapi di antara sunyi, saya menyimak sendiri kenyataan yang lebih jujur dari segala narasi: IKN tampak sudah jadi. Bukan bayangan. Bukan prototipe.
Sudah ada jalan, gedung bertingkat, AC tampak sudah terpasang, tamannya, bahkan tiangnya. Tapi ia masih kosong. Sudah jadi tapi belum ditempati.
Lalu, ada yang menyebutnya mangkrak. Katanya seperti rumah hantu, katanya menyeramkan. Tapi saya melihatnya lain. Mangkrak, bagi saya, adalah bangunan yang berhenti dibangun dan ditinggalkan.
IKN tidak. Ia masih dijaga, bahkan dirawat. Masih ada pekerja yang menyelesaikan satu dua sudut, masih ada kehidupan yang samar-samar berdenyut.
Paradoks pun menganga. Kota ini dibangun untuk menjadi lambang kebesaran dan harapan, tapi saat ini justru melahirkan tanda tanya. Mengapa belum ditempati? Apakah karena waktu yang belum tepat, atau karena niat yang mulai luntur? Maklum semua tergantung politik.
Saya sempat membayangkan, barangkali HUT Kemerdekaan 17 Agustus nanti akan digelar di IKN, sebagaimana penutup masa jabatan Presiden Jokowi, sebagai puncak simbolis dari transisi ibukota negara.
Tapi harapan itu pun pupus. Sekretariat Negara telah mengumumkan: perayaan HUT Kemerdekaan sepenuhnya digelar di Jakarta. Maka, istana IKN sekali lagi hanya menjadi latar sunyi bagi mimpi yang ditunda.
Saya tak ingin larut dalam kekecewaan. Jika pun tak jadi ibukota, IKN tetap bisa menjadi destinasi wisata masa depan.
Di sanalah udara bersih menari tanpa asap knalpot, di sanalah angsa berkeliaran seperti penjaga zaman, dan di sanalah mimpi masih terpatri meski belum dihuni.
IKN adalah kota yang sudah jadi, tapi belum bertuan. Seperti kursi kosong di ruang sidang, seperti altar yang menanti pemuja, ia menunggu bukan hanya penghuni, tapi juga makna. Ia adalah simbol dari zaman yang ingin berubah, tapi masih ragu untuk benar-benar berpindah.
Mungkin itulah takdir IKN—sebuah paradoks yang dibangun oleh kehendak, tapi diuji oleh waktu. Sebuah kota yang telah jadi, tapi masih menunggu untuk benar-benar menjadi. **
Balikpapan, 17 Juli 2025





