Catatan Paradoks; Wayan Suyadnya
Bali tidak pernah menabuh genderang perang. Pulau tenang, nyaman dan damai.
Bali tidak membikin kekacauan, tidak mencetak propaganda, tidak menyebar kebencian. Bali tidak punya musuh.
Namun kenapa darah tumpah di tanah Bali? Peluru meledak di udara damai? Nyawa melayang di villa tempat yang biasanya cinta saling memeluk?
Kendati bukan orang Bali yang terkapar, tapi sakitnya itu ada di sini; jantung masyarakat Bali yang setiap hari mendoa, shanti, shanti, shanti, damai, damai, damai…….
14 Juni 2025. Sebuah hari biasa di Jalan Pantai Munggu, Mengwi, Badung. Villa Cassa Cantisya. Orang-orang masih percaya Bali baik-baik saja.
Namun jam-jam berikutnya, Bali tercabik oleh rentetan peluru. Tujuh belas kali letusan. Seakan mengoyak jantung pulau ini. Zivan Radmanovi—warga Australia—tewas seketika. Shanar G—rekannya—masih berjuang melawan maut di rumah sakit.
Tak ada perampokan. Tak ada laporan kehilangan harta. Tak ada CCTV bocor yang memperlihatkan pelaku. Yang ada hanya sunyi dan serangkaian tanda tanya dari darah yang membekas di lantai villa.
Polisi datang. Dua hari, tiga hari, dan kini, masih belum terkuak pelakunya. Baru menyisakan petunjuk. Apa motifnya belum ditahu. Semua masih senyap; yang menandakan bahwa ini bukan kejahatan biasa. Ini operasi. Ini pesan. Ini strategi.
Dan pertanyaannya: Pesan untuk siapa? Untuk apa? Dan kenapa harus di Bali?
Mari tarik napas dalam. Kita mundur dua dekade. Tahun 2002. Bom mengguncang Legian. 208 orang tewas. 88 di antaranya warga Australia.
Kala itu, Indonesia dan Australia, dua negara tetangga yang belum punya UU Anti-Terorisme. Ledakan bom dasyat itu pun memberikan pesan akan aturan itu segera ada. Kuta menyala, beberapa hari kemudian Perppu diterbitkan. Undang-undang Anti-terorisme disahkan.
Dari Bali, pesan terdengar nyaring.
Bali, yang tidak membuat masalah, dijadikan medan. Karena luka di Bali adalah luka global. Karena jika ingin didengar dunia, ledakkan pesanmu di tanah para dewa itu.
Kini, dua puluh tahun setelahnya, akankah “permainan pesan” itu kembali dimulai. Jika dulu menggunakan bom, sekarang dar der dor; letupan senjata api.
Menarik dicermati. 30 Mei 2025—Pemerintah Australia mengeluarkan peringatan perjalanan. Level 2: Berhati-hati dengan tingkat tinggi.
12 Juni 2025—peringatan dicabut. 14 Juni, senjata api menyalak—dar der dor! Dua warga Australia ditembak hidup-hidup di villa indah di kawasan pariwisata Badung.
Kebetulan? Pasti tidak. Apalagi intelijen Australia tahu lebih banyak? Jika mereka tahu, apakah intelijen kita tidak tahu? Tak mungkin tidak tahu, atau bisa jadi pura-pura tidak tahu? Entahlah.
Bisa dibayangkan bagaimana mungkin seseorang membawa senjata api di pulau yang damai, di negeri yang melarangnya, tanpa jalur tertentu mendapatkan senjata api, tanpa jaringan, tanpa pelindungan, kecil kemungkinan bisa membawanya dengan mudah, apalagi orang asing.
Tidak mungkin juga dua warga Australia ditembak begitu saja tanpa alasan yang jelas kenapa harus didor. Terlalu banyak kemungkinan untuk dianggap “sekadar kriminal”.
Ini bukan tentang maling sandal, bukan jambret. Ini perang. Perang bayangan. Perang antar sindikat. Mafia? Geng? Kartel narkoba? Spionase? Konflik antar jaringan keamanan gelap. Semua menjadikan Bali sebagai medan perangnya?
Orang awam, hanya bisa menerka—dan itupun hanya dari permukaannya. Jika aparat keamanan tidak bicara, dan negara diam seribu bahasa, siapa yang menjaga Bali?
Bali seperti panggung pertunjukan. Semua aktor utama datang dari luar. Pelaku tak dikenal. Korbannya bukan orang Bali. Namun tempatnya—Bali.
Kenapa? Karena Bali adalah nama besar. Satu insiden di Bali lebih mengguncang dunia dibanding sepuluh insiden di tempat lain. Itulah Bali.
Di sinilah absurditasnya: pulau yang menghidupi negeri ini, pulau yang menyumbangkan 44 persen devisa pariwisata nasional—setara 107 triliun rupiah tiap tahun, terus-menerus dijadikan medan pertempuran oleh kekuatan yang tak kasat mata.
Bagaimana mungkin orang bisa menembakkan 17 peluru tanpa jejak? Tak ada saksi? Tak ada karyawan vila yang melihat? Tak ada suara? Tak ada CCTV? Atau… terlalu banyak yang tahu namun tak berani bicara? Apakah para “pemain besar” sudah berunding di atas sana? Apakah Bali hanya papan catur dan rakyatnya pion-pion sunyi yang tak tahu sedang dimainkan?
Mungkin memang begitulah Bali sekarang. Tanah damai yang dirusak oleh kekuatan yang tak berasal darinya. Pulau yang terus percaya pada keseimbangan, tapi terus disusupi oleh ketimpangan yang datang dari luar.
Bali tidak sedang sakit. Yang sakit adalah dunia—dan penyakit itu menetes ke Bali.
Kita bisa saja diam. Kita bisa saja percaya bahwa ini semua akan berlalu. Tapi sejarah menunjukkan: jika Bali diabaikan, seluruh negeri akan ikut roboh.
Jangan biarkan Bali menjadi medan pesan kekuatan gelap. Jangan biarkan peluru kembali menyalak saat kata-kata tak dianggap. Dan jangan biarkan warga Bali terus bertanya: Ada apa dengan Bali? Karena jawaban itu, barangkali sudah lama diketahui, hanya belum waktunya diumumkan.**
Denpasar, 17 Juni 2025





