Jokowi Menuju Indonesia Maju

Oleh Tarsy Asmat

Indonesia secara global, jika diibaratkan dengan perusahan, Indonesia adalah pengusaha kelas menengah yang mempunyai prospek yang menjanjikan.

Namun sebagai pengusaha muda atau kelas menengah, tentu saja mempunyai hubungan erat dengan perusahan besar/maju (Negara maju) juga ke bawah yaitu warga negaranya. Relasi atas bawah ini sangat mempengaruhi langsung dan tidak langsung untuk kestabilan ekonomi Indonesia.

Relasi ke Atas

Hubungan keatas yaitu keterkaitan ekonomi dengan negara-negara maju. Keterkaitan itu misalnya inport industri kelas berat yang tidak bisa dibuat di Indonesia. Misalnya bahan baku industri mobil, pesawat, dll.

Untuk Industri berat seperti itu, kita mesti bergantung pada negara maju, seperti Amerika, Eropa, RRC, Rusia dll.

Disamping keterkaitan dalam hubungan Industri, juga dalam indeks pasar saham global. Permainan saham global terutama untuk kelas wahid pemilik modal raksasa (Investor dll) berpengaruh untuk Indonesia juga.

Efeknya relasi ini apa? Efeknya tentu saja sangat berdampak besar.

Pertama, jika kestabilan politik di negara kaya ini terganggu maka negara dibawahnya juga terganggu. Contoh politik save belt dari. Trump menggangu ekonomi negara di sekitarnya dan Indonesia.

Kedua, Imbas strategi politik baik dalam negeri maupun luar negeri dari negara-negara maju ini juga jelas berisiko bagi negara kelas menengah. Contoh sekarang ini ialah peramg dagang Amerika dan negara mitranya justru berakibat pada melemahnya kurs rupiah. Ini bukan masalah Jokowi tapi ini dampak dari relasi global.

Tapi efek lainnya juga, kalau negara menengah seperti Indonesia kacau, maka investor dan pengusaha dari negara maju atau negara lain mengambil modalnya kembali. Dampaknya apa? Lapangan pekerjaan kurang, pengangguran meningkat, kejenuhan sosial dan akhirnya negara gagal.

Kalaupun si negara berkembang mampu menghasilkan sesuatu, jika pasarnya dikuasai oleh negara maju, dimanakah pemasarannya? Mau pasar dalam negeri saja? Boleh-boleh saja, tetapi ingat semakin pasaranmu luas, ekonomimu makin kuat. Contohnya kalo kamu jual es di satu RT saja, tidak sama hasilnya kalo kamu jual di 10 RT.

Demikian juga dalam permainan saham, jual beli saham (kurs) juga erat terkait dengan situasi global dan regional. Kalo terjadi kekacoan di suatu negara, maka tidak mungkin orang melepaskan sahamnya ke negara tersebut.

Relasi ke Bawah

Relasi kebawahnya yaitu situasi masyarakat dalam negeri.

Pertama, situasi politik perlu stabil. Jika situasi politik tidak stabil maka investor tidak mau membuka usaha di negeri ini.

Ya kita mempunyai SDA minyak, batubara, emas dll, tapi SDM dan teknologi kita kurang mumpuni. Karena itu kita datangkan investor, kita latihkan tenaga kerja lokal, dan kita pelajari pengetahuan mereka.

Kedua, SDM kita perlu tingkatkan. Ada prinsip usaha begini kalau usahamu belum sukses, belum ada pendapatan pasif, kamu sendiri merangkap CEO, Manajer dan tenaga kerjanya juga. Artinya apa, kalo modalnya dari luar (investor) ya tenaga ahli kerja ya harus dari dalam negeri. Tapi nyatanya kita masih terbengkelai dalam hal ini. Mutu pendidikan kita masih terus dikembangkan.

Ketiga, budaya atau value. Budaya mencakup etos kerja, religion, spiritualitas lainnya, wisdom, dll itu juga mempengaruhi kemajuan. Jika masyarakatnya mudah terprofokasi hoax maka masyarakat itu mungkin tidak mempunyai budaya membaca dan budaya menulis. Jika tidak ada toleransi, maka value dari religion itu sepertinya kempes. Agama boleh banyak di negeri ini tapi bagaimana agama itu menjadi salah satu sumber mutu kualitas masyarakat?

Jokowi On The Right Way

Dari urian di atas, maka saya mengata Jokowi on the right way. Apa alasannya?

Pertama, anda barangkali menonton acara televisi bagaimana developer muda diuji kompetensinya, strategi, gagasan dan plot usuhanya hanya untuk mendapatkan suplay dana dari investor. Jika layak dan terkualifikasi maka ia mendapat kucuran dana yang signifikant untuk mengembangkan prospek usahanya.

Nah di mata global Indonesia adalah developer yang patut dipercayai Investor atau Investement grade. Alasannya apa saja?

Pertama, Menkeu, Bu Sri Mulyani dalam rapat terkordinasi Jumat 21/9/18 yang disiarkan langsung di chanel Youtube Kemenkeu, merilis capian ekonomi Indonesia. Diantaranya Pendapatan negara sebesar 1.152, 8 Triliun (60,8%) atau tumbuh 18, 4 % dari tahun 2017 kemarin (11,4%). Sektor lain yang surplus ialah penerimaan pajak tumbuh 16,5%, penerimaan beacukai tumbuh 16,7%. Yang menarik juga ialah penerimaan negara non pajak sebesar 87,2% dibandingkan tahun kemarin cuman 22%, itu berarti ada peningkatan produktivitas. Secara keseluruhan Sri Mulyati menegaskan, postur APBN sampe agustus 2018, keseimbangan primernya 11,6% surplus, ketimbang tahun lalu keseimbangannya justru negatif.

Demikian juga Inflasi yang diperkirakan 3,5% juga ternyata inflasinya minus, 3,2% saja.

Artinya, Pemerintahan Jokowi secara ekonomi sehat dan surplus. Kalaupun sekarang penetrasi perang dagang global berimbas pada melemahnya kurs rupiah yang sedianya bertahan diambang Rp, 13,3… kini melorot menjadi 14,1 tidak berdampak pada pasar dan kebutuhan pokok masyarakat Indonesia. Inflasi harga barang dipasar Indonesia tidak terlalu fluaktif atau dikatakan stabil.

Kedua, Jokowi adalah Presiden Visioner, Indonesia maju. Tidak hanya visi tapi juga misinya mencapai visi itu patut diapresiasi, Nawacita, seperti membangun infrastruktur. Infrastruktur sangat korelasi dengan pengembangan dan pertumbuhan ekonomi suatu negara. Apa saja keuntungannya? Mobilitas ekonomi lebih efektif dan efisien, meningkatkan jam produktif kerja, dsbnya. Terbukti juga dengan surplusnya pendapatan negara tahun ini.

Ketiga, Jokowi mempertahankan dan mengedapankan value keindonesiaan seperti promosi budaya nusantara (asian games), dialog, pendekatan humanis, pembangunan berdasarkan pada pembngunan manusia. Indeks Pembangunan Manusia Indonesia yang dirilis global trendnya positif. Mengedepankan persatuan bangsa, toleransi dalam komunikasi politiknya.

Selain itu dari segi kinerja kerja dan tidak korupsi. Jokowi orangnya kerja (produktif) bukan konsumtif. Maka jangan heran presiden memangkas Bantuan Langsung Tunai karena itu mendidik rakyat untuk konsumtif, bukan untuk bekerja keras. Tetapi Jokowi membantu masyarakat dengan administrasi keadilan sosial KJP, Kartu Sehat, Dana Desa dll.

Barangkali ada keberatan lain? Misalnya dari Lingkungan hidup dan kesehatan. Betul angka stunting dan kematian ibu dan anak kita cukup tinggi. Catatan kerusakan lingkungan hidup akibat tambang dan perkebunan perlu kita garisbawahi. Ini persoalan tidak mudah, jika tambang dan perkebunan ditutup semua, maka negara kelas menengah Indonesia akan runtuh.

Yang perlu diperjuangkan ialah tanggungjawab investor dan pemerintah merevitalisasi lahan pertambangan yang sudah ditinggalkan dan membatasi ijin pertambangan dan perkebunan namun juga memaksimalkan pendapatan negara sendiri.

Demikian juga persoalan Kesehatan, perlu step by step baik dengan penguatan kognisi sosial yaitu mutu pendidikan masyarakat maupun infrastruktur sosial.

Akhirnya walaupun demikian, dari pemaparan inilah saya secara rasional dan bertanggungjawab menyatakan Jokowi on the right way membawa landasan perubahan dan kemajuan Indonesia.

Salam.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *