Beritafajartimur.com (Denpasar-Bali)
Pandemi Coronavirus19 (Covid-19) yang mewabah hampir seluruh negara di dunia telah memengaruhi kehidupan umat manusia. Termasuk bidang pendidikan yang mana sebelum Covid-19 mewabah, pelaksanaan belajar dilaksanakan secara langsung/tatap muka setiap hari. Namun sesudahnya dilaksanakan melalui internet/online/belajar daring.
Cara belajar Online/virtual/daring yang dilakukan hampir 10 bulan saat ini merupakan keputusan pemerintah untuk melindungi siswa dari wabah penyakit Covid-19 yang entah sampai kapan akan berakhir karena belum ditemukan vaksin antivirus tersebut.
Menyangkut pembelajaran Online/Virtual (Daring) Kepala Sekolah (Kasek) SMK Negeri 3 Denpasar Drs. AA. Bagus Wijaya Putra, M.Pd., saat dimintai pendapatnya menjelaskan bahwa pada awalnya baik guru maupun siswa agak canggung dengan sistem pembelajaran model seperti ini. Namun lama kelamaan sudah bisa beradaptasi dengan baik. Meski demikian, tidak bisa dipungkiri cara belajar tatap muka (red, face to face) masih jauh lebih baik dibanding sistem daring (online).
“Untuk mata pelajaran hafalan seperti bahasa Indonesia, bahasa Inggris dan lain lain tidak mengalami kendala saat belajar daring/virtual, namun kelemahan yang paling mendasar ketika mata pelajaran yang memerlukan praktek secara langsung khususnya bagi siswa SMK, tentu tidak bisa dilaksanakan secara virtual. Untungnya, Menteri Pendidikan mengeluarkan keputusan khusus bagi Siswa Sekolah Menengah Kejuruan ditiap zona agar dilaksanakan tatap muka tetapi tetap memperhatikan aturan protokol kesehatan,” tutur AA. Bagus Wijaya Putra.
Lebih lanjut dikatakan,” Bagi anak-anak SMK dengan kelonggaran yang diberikan Mendikbud tentu untuk mata pelajaran praktek siswa tetap ke sekolah tapi dibagi per shift dan diatur jumlahnya sesuai Protokol Kesehatan untuk menghindari kerumunan. Dan paling lama dua jam dalam sehari bergantian shiftnya,” ujarnya.
Adapun dampak rendahnya mutu pendidikan kita yang dikhawatirkan berbagai pihak akibat pandemi Covid-19 ini menurut AA. Bagus Wijaya Putra bahwa hal itu tidak bisa dihindarkan karena metode pembelajaran tatap muka masih merupakan metode pembelajaran yang paling efektif untuk meningkatkan mutu pendidikan.
“Yang pasti menurun karena pembelajaran tatap muka memang masih merupakan sistem pembelajaran yang terbaik. Dimana guru dan siswa bisa berinteraksi satu sama lain jika dalam mata pelajaran tertentu menemukan kesulitan, maka siswa bisa langsung bertanya. Nah berbeda masalahnya ketika belajar secara daring yang mana siswa tidak bisa bertanya secara langsung dengan guru mata pelajaran yang bersangkutan,” terangnya.(BFT/DPS/Donny MP. Parera)





