BERITAFAJARTIMUR.COM (LABUAN BAJO) Stadion Ora Flobamorata Manggarai Barat kembali menjadi pusat perhatian publik setelah menjadi lokasi pembukaan Turnamen PSSI Cup II Manggarai Barat 2026, Sabtu (8/8/2026).
Namun, di balik pembukaan turnamen sepak bola yang diikuti 27 tim tersebut, muncul satu gagasan yang berpotensi mengubah identitas stadion kebanggaan masyarakat Manggarai Barat.
Ketua PSSI Kabupaten Manggarai Barat, Marianus Yono Jehanu, mengusulkan agar nama Stadion Ora Flobamorata ke depan dapat diubah menjadi Stadion Komodo.
Usulan itu disampaikan Yono di hadapan Wakil Bupati Manggarai Barat dr. Yulianus Weng, jajaran pemerintah daerah, unsur TNI-Polri, Kejaksaan, Pengadilan, Syahbandar, panitia, para pemain, ofisial, wasit, pelaku UMKM, dan masyarakat yang menghadiri pembukaan PSSI Cup II.
Menurut Yono, gagasan tersebut bukan sekadar persoalan mengganti nama sebuah fasilitas olahraga. Lebih dari itu, nama stadion dinilai dapat menjadi bagian dari identitas daerah sekaligus memperkuat branding Manggarai Barat, khususnya Labuan Bajo, di mata nasional maupun internasional.
Labuan Bajo selama ini dikenal luas sebagai salah satu pintu gerbang utama menuju Taman Nasional Komodo. Nama Komodo bahkan telah melekat kuat dengan citra Labuan Bajo dan Manggarai Barat sebagai destinasi pariwisata dunia.
Karena itu, Yono berpandangan, penggunaan nama Stadion Komodo akan memberikan identitas yang lebih kuat dan mudah dikenali.
“Besar harapan kami, nama stadion ini mungkin ke depan kemudian disesuaikan dengan nama Bupati dan Kabupaten Manggarai Barat,” ujar Yono dalam sambutannya.
Pernyataan tersebut kemudian berkembang menjadi gagasan bahwa identitas stadion dapat diarahkan pada nama Komodo, yang dianggap memiliki kekuatan branding jauh lebih luas.
Usulan tersebut menarik karena Manggarai Barat memiliki satu aset identitas yang tidak dimiliki banyak daerah lain, yakni Komodo.
Komodo bukan sekadar satwa endemik yang hidup di wilayah Nusa Tenggara Timur. Komodo telah menjadi simbol yang melekat dengan Labuan Bajo dan kawasan Taman Nasional Komodo.
Dalam konteks pembangunan daerah, penggunaan nama yang kuat dan memiliki daya pengenalan internasional dapat menjadi bagian dari strategi memperkuat identitas sebuah kota maupun daerah.
Jika sebuah stadion diberi nama Stadion Komodo, maka setiap pertandingan, turnamen, agenda olahraga, hingga pemberitaan nasional mengenai stadion tersebut secara tidak langsung akan membawa nama Komodo dan Manggarai Barat ke ruang publik.
Dengan demikian, stadion tidak hanya berfungsi sebagai tempat pertandingan sepak bola, tetapi juga dapat menjadi bagian dari branding daerah.
Apalagi Labuan Bajo saat ini tidak hanya diposisikan sebagai destinasi wisata, tetapi juga terus didorong menjadi kawasan yang mampu mengembangkan berbagai sektor pendukung, termasuk olahraga, ekonomi kreatif, UMKM, dan sport tourism.
Nama Stadion Komodo berpotensi mempertemukan tiga kekuatan sekaligus: olahraga, pariwisata, dan identitas daerah.
Menanggapi aspirasi tersebut, Wakil Bupati Manggarai Barat dr. Yulianus Weng, M.Kes, dalam sambutannya membuka ruang terhadap gagasan perubahan nama stadion.
Yulianus mengatakan, berbagai aspirasi yang muncul selama pelaksanaan turnamen dapat menjadi masukan bagi pemerintah daerah untuk dibahas secara bijaksana.
“Kalau disepakati, kenapa tidak?” kata Yulianus.
Menurut dia, jika perubahan nama stadion memang hendak dilakukan, prosesnya tentu harus melalui mekanisme dan pembahasan resmi di DPRD Manggarai Barat. PSSI juga diminta menyampaikan usulan tersebut melalui surat resmi kepada pemerintah daerah.
Pernyataan ini sekaligus menunjukkan bahwa gagasan perubahan nama Stadion Ora Flobamorata menjadi Stadion Komodo belum merupakan keputusan final, tetapi telah menjadi sebuah aspirasi yang terbuka untuk dibahas.
Namun, dari sisi komunikasi publik, nama Komodo memiliki keunggulan tersendiri karena sudah sangat identik dengan Labuan Bajo dan Manggarai Barat.
Di luar gagasan perubahan nama stadion, PSSI Cup II Manggarai Barat 2026 juga memiliki agenda penting dalam pembinaan sepak bola daerah.
Ketua PSSI Manggarai Barat Marianus Yono Jehanu mengatakan turnamen tersebut merupakan bagian dari program kerja PSSI yang telah disepakati melalui Kongres.
Turnamen tahun ini menjadi penyelenggaraan kedua setelah sebelumnya dilaksanakan pada 2025 dengan kategori U-17.
Untuk PSSI Cup II 2026, format turnamen dibuka lebih luas. Sebanyak 27 tim ambil bagian dengan melibatkan pemain yang berada pada rentang tahun kelahiran 2004 hingga 2007.
Regulasi tersebut disiapkan antara lain untuk memberikan ruang bagi PSSI Manggarai Barat dalam menemukan pemain potensial yang nantinya dapat dipersiapkan menghadapi agenda sepak bola di tingkat provinsi maupun regional.
“Ajang PSSI yang kedua ini untuk menggali potensi anak-anak muda yang ada di Kabupaten Manggarai Barat,” kata Yono.
PSSI juga menyiapkan tim scouting yang akan memantau pemain selama turnamen berlangsung.
Para pemain yang dinilai memiliki kemampuan dan potensi akan diseleksi untuk kemudian dipersiapkan mewakili Manggarai Barat dalam agenda berikutnya.
Karena itu, Yono mengingatkan seluruh pemain agar tidak hanya mengejar kemenangan, tetapi juga menunjukkan kedisiplinan, kemampuan teknis, mental bertanding, dan terutama sportivitas.
Ketua Panitia PSSI Cup II Manggarai Barat 2026, Ahyar Abadi dalam laporan kegiatan menyampaikan, turnamen tahun ini membutuhkan anggaran sekitar Rp375 juta.
Hingga hari pembukaan, panitia baru berhasil mengumpulkan sekitar 35 persen dari total kebutuhan anggaran. Artinya, masih terdapat sekitar 65 persen kebutuhan dana yang harus dipenuhi selama pelaksanaan kegiatan.
Sumber pembiayaan berasal dari sejumlah pihak, antara lain sumbangan Ketua PSSI Manggarai Barat, biaya pendaftaran tim, dukungan pemerintah dan pihak swasta, sponsorship, serta sumber pembiayaan lainnya.
Besarnya hadiah menjadi salah satu daya tarik turnamen. Juara pertama akan memperoleh hadiah Rp50 juta, juara kedua Rp30 juta, juara ketiga Rp20 juta, dan juara keempat Rp10 juta.
Selain hadiah bagi tim, panitia juga menyediakan penghargaan bagi individu.
Pemain terbaik akan memperoleh uang pembinaan Rp5 juta, sementara pencetak gol terbanyak atau top scorer mendapatkan Rp5 juta.
Dengan total hadiah tersebut, turnamen diharapkan tidak hanya menjadi kompetisi antarklub, tetapi juga menjadi ruang bagi pemain muda Manggarai Barat untuk menunjukkan kemampuan mereka.
Wakil Bupati Manggarai Barat Yulianus Weng menilai keberadaan turnamen sepak bola juga memberikan dampak lain di luar lapangan, terutama bagi pelaku UMKM.
Ia mengapresiasi keterlibatan para pelaku UMKM yang meramaikan kawasan stadion selama turnamen berlangsung.
Menurutnya, pertandingan sepak bola akan semakin hidup ketika aktivitas ekonomi masyarakat juga tumbuh di sekitar arena pertandingan.
“Jadi kita sambil berolahraga, ekonomi rakyat juga berjalan,” ujar Yulianus.
Pernyataan tersebut memperlihatkan bahwa event olahraga dapat ditempatkan sebagai bagian dari penggerak ekonomi lokal.
Ratusan bahkan ribuan orang yang datang menyaksikan pertandingan berpotensi menjadi pasar bagi pelaku UMKM, mulai dari makanan dan minuman hingga berbagai produk ekonomi kreatif.
Dalam konteks Labuan Bajo yang sedang membangun ekosistem sport tourism, model seperti ini menjadi penting.
Sebuah pertandingan sepak bola tidak lagi hanya dihitung dari jumlah gol dan kemenangan, tetapi juga dari seberapa jauh event tersebut mampu menciptakan perputaran ekonomi dan melibatkan masyarakat.
Yulianus juga meminta seluruh pemain, ofisial, wasit dan penonton menjaga sportivitas selama turnamen berlangsung.
Ia menegaskan bahwa kemenangan bukan satu-satunya tujuan. Profesionalitas dan penghormatan terhadap keputusan wasit harus menjadi bagian penting dalam setiap pertandingan.
Ia meminta penonton tidak mudah terprovokasi dan mempercayakan jalannya pertandingan kepada wasit, manajer pertandingan serta ofisial yang bertugas.
Selain itu, para pemain diminta menjaga kondisi fisik agar dapat tampil maksimal sepanjang turnamen.
Yulianus juga mengingatkan pelaku UMKM dan seluruh pengunjung untuk menjaga kebersihan lingkungan stadion.
Sampah yang dihasilkan selama pertandingan diminta segera dibersihkan agar kawasan stadion tetap terawat.
Pesan tersebut menjadi penting karena stadion bukan hanya menjadi tempat pertandingan, tetapi juga ruang publik yang digunakan masyarakat.
Yang jauh lebih penting adalah bagaimana nama Komodo dapat dihidupkan menjadi identitas baru yang membawa nama Manggarai Barat dan Labuan Bajo lebih jauh melalui olahraga. Dan PSSI Cup II 2026 menjadi momentum awal untuk membuka perbincangan tersebut.(BFT/LBJ/RED/Yoflan)











