Beritafajartimur.com (LABUAN BAJO) — Keindahan Labuan Bajo, Kabupaten Manggarai Barat, Nusa Tenggara Timur, tidak hanya menarik wisatawan dari berbagai penjuru dunia. Di balik geliat pariwisata, terdapat masyarakat pesisir dan kepulauan yang menggantungkan kehidupan pada laut, mulai dari nelayan, pelaku usaha mikro, hingga penyedia jasa wisata bahari.
Namun, kehidupan masyarakat di wilayah kepulauan memiliki tantangan tersendiri. Jarak antarpulau dan keterbatasan akses transportasi membuat layanan perbankan formal tidak selalu mudah dijangkau.
Kondisi geografis tersebut menjadi tantangan bagi masyarakat yang membutuhkan layanan keuangan, baik untuk menyimpan uang, melakukan transaksi, maupun memperoleh akses permodalan.
Menjawab persoalan itu, PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk atau BRI menghadirkan layanan perbankan berbasis transportasi laut melalui program Teras Kapal BRI.
Di Labuan Bajo, layanan tersebut dijalankan melalui armada Kapal Nera Seva yang secara aktif menyambangi sejumlah wilayah kepulauan di sekitar Labuan Bajo.
Kapal tersebut beroperasi setiap Senin hingga Jumat dengan mendatangi sejumlah pulau, di antaranya Rinca, Komodo, Papagarang, Mesa, Seraya, Boleng, Longos dan sejumlah wilayah kepulauan lainnya.
Kehadiran Teras Kapal membuat layanan perbankan tidak lagi hanya menunggu masyarakat datang ke kantor bank. Sebaliknya, layanan tersebut bergerak mendatangi masyarakat hingga ke wilayah tempat mereka beraktivitas.
Di setiap dermaga yang disinggahi, masyarakat dapat memperoleh sejumlah layanan perbankan, mulai dari penarikan dan penyetoran tunai, pembukaan rekening, hingga layanan terkait kredit.
Pimpinan Cabang BRI Labuan Bajo, Achmad Sidik Nurcahyo, mengatakan kehadiran Teras Kapal merupakan bagian dari komitmen BRI untuk memperluas akses layanan perbankan kepada masyarakat, termasuk warga yang tinggal di wilayah kepulauan.
Menurut Sidik, kondisi geografis bukan seharusnya menjadi penghalang bagi masyarakat untuk mendapatkan layanan keuangan formal.
«”Dengan hadirnya Teras Kapal Nera Seva, masyarakat kepulauan kini tidak perlu lagi menyeberang jauh hanya untuk mendapatkan layanan perbankan. Ini bukan hanya soal transaksi, tapi juga soal pemerataan akses dan harapan akan kemajuan ekonomi masyarakat,” ujar Sidik.»
Mantri BRI Jemput Bola ke Pulau-Pulau
Operasional Teras Kapal tidak berhenti pada layanan transaksi di atas kapal. Para Mantri BRI juga aktif melakukan pendekatan langsung kepada masyarakat di wilayah kepulauan.
Dengan menggunakan armada Nera Seva, petugas mendatangi masyarakat di sejumlah pulau dan pesisir. Mereka berinteraksi langsung dengan nasabah, nelayan, pelaku usaha mikro hingga masyarakat yang membutuhkan informasi mengenai layanan perbankan.
Pola pelayanan tersebut menjadi penting karena karakteristik masyarakat kepulauan berbeda dengan masyarakat yang tinggal di wilayah perkotaan.
Bagi sebagian warga pulau, perjalanan menuju pusat layanan perbankan membutuhkan waktu, biaya transportasi, serta bergantung pada kondisi cuaca dan transportasi laut.
Melalui layanan jemput bola, hambatan tersebut dapat ditekan. Masyarakat dapat memperoleh layanan lebih dekat dengan tempat tinggal dan aktivitas ekonomi mereka.
Selain melayani transaksi, Mantri BRI juga memberikan edukasi mengenai layanan perbankan dan memperkenalkan penggunaan layanan digital, termasuk aplikasi BRImo untuk mendukung transaksi keuangan sehari-hari.
Pendekatan tersebut sekaligus mendorong masyarakat agar semakin mengenal dan memanfaatkan layanan keuangan formal.
Dari Nelayan hingga Pelaku Usaha Wisata
Kehadiran layanan perbankan bergerak memiliki arti penting bagi masyarakat yang aktivitas ekonominya bergantung pada laut.
Nelayan, misalnya, membutuhkan akses layanan keuangan untuk mengelola hasil tangkapan dan kebutuhan operasional. Begitu pula pelaku usaha mikro di pulau-pulau yang membutuhkan sarana transaksi dan akses permodalan untuk mengembangkan usaha.
Hal serupa dirasakan pelaku usaha yang bergerak di sektor pariwisata bahari. Aktivitas wisata di kawasan Labuan Bajo dan sekitarnya melibatkan banyak masyarakat di wilayah kepulauan, mulai dari penyedia jasa transportasi laut, pemandu wisata, pemilik usaha kecil, hingga penyedia berbagai kebutuhan wisatawan.
Dengan semakin dekatnya akses perbankan, masyarakat memiliki lebih banyak pilihan dalam mengelola transaksi dan keuangan usaha secara formal.
Di sisi lain, edukasi mengenai transaksi digital juga membuka peluang bagi masyarakat kepulauan untuk mengikuti perkembangan sistem pembayaran dan layanan keuangan yang semakin terdigitalisasi.
Bukan Sekadar Transaksi Perbankan
Kehadiran Mantri BRI di kepulauan Labuan Bajo pada akhirnya tidak hanya berbicara mengenai aktivitas setor dan tarik uang.
Lebih dari itu, layanan tersebut menjadi bagian dari upaya memperluas inklusi keuangan kepada masyarakat yang menghadapi keterbatasan akses akibat kondisi geografis.
«”Kehadiran Mantri BRI di kepulauan Labuan Bajo merupakan wujud nyata komitmen BRI untuk memberdayakan ekonomi kerakyatan, menjangkau masyarakat hingga pelosok negeri, serta mendekatkan akses keuangan di tengah tantangan geografis lautan,” demikian disampaikan dalam konteks pelayanan BRI di wilayah kepulauan Labuan Bajo.»
Bagi masyarakat yang hidup dan bekerja di pulau-pulau, kehadiran layanan seperti Teras Kapal menjadi penghubung antara aktivitas ekonomi lokal dengan sistem keuangan formal.
Laut yang selama ini menjadi batas geografis justru dijadikan jalur pelayanan.
Melalui Kapal Nera Seva dan peran aktif para Mantri, BRI berupaya membawa layanan perbankan lebih dekat kepada masyarakat—dari dermaga ke dermaga, dari pulau ke pulau.
Di tengah pertumbuhan Labuan Bajo sebagai destinasi pariwisata internasional, pemerataan akses keuangan menjadi salah satu bagian penting agar geliat ekonomi tidak hanya terkonsentrasi di pusat kota, tetapi juga dapat dirasakan masyarakat yang berada di wilayah pesisir dan kepulauan.(BFT/LBJ/Red/Yoflan)





