Beritafajartimur.com (Denpasar-Bali) Dewan Pimpinan Provinsi Perhimpunan Pemuda Hindu Indonesia Bali (DPP Peradah Indonesia Bali) atau Peradah Bali memberikan respons resmi terkait kondisi kelangkaan Bahan Bakar Minyak (BBM) yang memicu antrean mengular di berbagai Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU) se-Bali selama beberapa hari terakhir.
Kondisi ini dilaporkan menyebabkan lonjakan antrean dan penutupan SPBU karena kehabisan stok. Di tengah situasi darurat ini, Peradah Bali menyoroti pentingnya penanganan yang cepat, transparansi publik, pengawasan ketat, serta pemeliharaan rasa solidaritas menyama braya.
Peradah Bali menyampaikan apresiasi kepada Pemerintah Provinsi Bali yang bergerak cepat dalam menenangkan masyarakat dan mengantisipasi dampak kelangkaan BBM. Langkah Pemprov Bali yang menjelaskan secara terbuka mengenai ketersediaan pasokan di depo serta menerapkan kebijakan Work From Home (WFH) bagi ASN serta pembelajaran daring (online) bagi sekolah dan kampus di Bali sangat dinilai efektif. Kebijakan ini terbukti membantu mengurangi mobilitas warga dan kemacetan lalu lintas serta meminimalkan kepanikan (panic buying) masyarakat.
Peradah Bali juga mengapresiasi perhatian mendalam dan pengawasan intensif dari Lembaga Legislatif, baik di tingkat pusat maupun daerah, seperti Gde Sumarjaya Linggih, Alit Kelakan, dan I Wayan Sudirta yang turun langsung memantau ketersediaan di Terminal BBM Pertamina Denpasar, mendesak penambahan suplai, serta meminta Pertamina menghentikan klaim “stok aman” jika fakta di lapangan masih menunjukkan kelangkaan dan antrean warga. Sikap tegas Ketua DPRD Bali, Dewa Made Mahayadnya yang merespons cepat keluhan masyarakat dengan meminta dan mendesak Pertamina agar segera menambah pasokan serta mengamankan distribusi BBM di Bali.
Ketua Peradah Bali, Ida Bagus Mahendra Sada Prabhawa, S.Ak., M.M., memberikan pandangan mendalam terkait krisis BBM ini:
“Kami juga merasa terharu dan bangga melihat inisiatif swadaya masyarakat Bali. Di tengah teriknya antrean BBM yang mengular, ada warga yang secara sukarela membagikan air minum dan makanan kepada warga lainnya yang sedang mengantre, serta menghadirkan inovasi digital seperti situs pemantau stok SPBU. Ini adalah wujud nyata ajaran Hindu Tat Twam Asi dan filosofi Bali Paras Paros Sarpanaya Salunglung Sabayantaka—saling mengasihi, bekerja sama, dan menanggung susah senang bersama.”
“Namun di sisi lain, kami memberikan catatan kritis dan menyentil keras pihak Pertamina agar tidak sekadar berjanji, melainkan menunjukkan langkah konkret dan transparan terkait ketersediaan stok serta waktu pemulihan distribusi BBM di Bali. Transparansi data sangat penting agar masyarakat tidak terjebak panic buying akibat simpang siur informasi.”
Di Bali utara, Peradah Buleleng juga meminta aparat kepolisian untuk bertindak tegas terhadap oknum yang memanfaatkan situasi.
“Peradah meminta Polda Bali dan jajaran menindak tegas masyarakat yang menimbun BBM secara sengaja dan memanfaatkan situasi sulit untuk mencari rejeki dengan menjual kembali dengan harga tinggi. Ini perbuatan yang tidak etis dan merugikan banyak orang,” tegas Made Teja Artha
Sebagai langkah konkret ke depan, Peradah Bali mendorong Pertamina dan pemangku kepentingan untuk menyiapkan strategi pemecah antrean (queue breaker), seperti penerapan jalur khusus/jalur cepat untuk kendaraan tertentu, penambahan armada mobil tangki portabel, digitalisasi pantauan stok realtime yang terintegrasi, serta penambahan fasilitas penyimpanan (buffer stock) BBM di Bali dan penempatan pos kesehatan sementara di beberapa titik antrean demi memberikan rasa aman dan nyaman ketika masyarakat mengantre BBM. Langkah ini penting agar ketahanan energi Bali tidak rentan terganggu oleh gejolak distribusi di masa mendatang.(BFT/DPS/Red/Devy)





