BERITAFAJARTIMUR.COM (Labuan Bajo) Keindahan alam Labuan Bajo, Kabupaten Manggarai Barat, Nusa Tenggara Timur, tak hanya menjadi daya tarik wisata kelas dunia.
Bagi sebagian orang, panorama laut, gugusan pulau, dan bentang alam yang memukau juga menjadi pengalaman spiritual yang membangkitkan rasa syukur kepada Tuhan.
Pengalaman itu dirasakan rombongan peziarah Ageng Tour yang baru-baru ini mengunjungi Labuan Bajo. Selain menikmati sejumlah destinasi wisata, rombongan juga mengikuti perayaan Misa Kudus di beberapa gereja Katolik di kota tersebut.
Aktivis sekaligus pelaku pariwisata Rafael Todowela, yang mendampingi perjalanan itu, mengatakan para peserta ziarah mengaku terkesan dengan keindahan alam Manggarai Barat.
Kekaguman tersebut kemudian berkembang menjadi keinginan untuk memberikan sesuatu sebagai ungkapan syukur.
“Di tengah perjalanan, beberapa peserta bertanya kepada saya, apa yang bisa mereka lakukan untuk masyarakat Labuan Bajo sebagai bentuk rasa syukur setelah menikmati keindahan ciptaan Tuhan. Saya kemudian mengusulkan agar mereka membantu gereja-gereja yang saat ini sedang membangun,” kata Rafael.
Usulan tersebut mendapat sambutan positif. Bersama Adys Jeharun, Rafael kemudian berdiskusi untuk menentukan gereja yang dinilai paling membutuhkan bantuan sehingga penyalurannya tepat sasaran.
Hasilnya, mereka sepakat menyalurkan persembahan kepada tiga gereja, yakni Gereja Sta. Theresia dari Kanak-Kanak Yesus Merombok, Gereja Katedral Roh Kudus Labuan Bajo, dan Gereja Seminari Gabungan Labuan Bajo.
Menurut Rafael, ketiga gereja tersebut dipilih karena masih membutuhkan dukungan dalam pembangunan sarana dan prasarana pelayanan umat.
Berdasarkan dokumen tanda kasih yang diterbitkan Ageng Tour, total dana yang berhasil dihimpun peserta mencapai Rp33.500.000.
Dana tersebut disalurkan dengan rincian:
Gereja Katedral Roh Kudus Labuan Bajo menerima Rp15.000.000.
Gereja Sta. Theresia dari Kanak-Kanak Yesus Merombok menerima Rp13.500.000.
Gereja Seminari Gabungan Labuan Bajo menerima Rp5.000.000.
Rafael menegaskan, bantuan itu sejak awal tidak dimaksudkan sebagai kegiatan yang dipublikasikan untuk mencari perhatian.
Namun, ia menilai kisah tersebut layak dibagikan karena mengandung pesan tentang rasa syukur dan kepedulian.
“Ini bukan soal menunjukkan siapa yang memberi atau berapa besar nilainya. Yang ingin kami sampaikan adalah bahwa keindahan alam Labuan Bajo mampu menyentuh hati banyak orang hingga mereka terdorong berbagi kepada Gereja dan sesama,” ujarnya.
Ia mengatakan, dalam ajaran iman Katolik, keindahan alam merupakan salah satu cara manusia mengenal kebesaran Sang Pencipta. Karena itu, menikmati keindahan alam semestinya diikuti dengan rasa syukur yang diwujudkan dalam tindakan nyata.
Menurut Rafael, para peserta ziarah tidak hanya pulang membawa kenangan indah tentang Labuan Bajo, tetapi juga meninggalkan tanda kasih bagi Gereja yang melayani umat di daerah tersebut.
Fenomena itu, kata dia, menunjukkan bahwa pariwisata tidak selalu berorientasi pada aspek ekonomi. Di balik perjalanan wisata, terdapat dimensi kemanusiaan dan spiritual yang dapat memperkuat solidaritas sosial.
Ia berharap semakin banyak wisatawan yang datang ke Labuan Bajo tidak hanya menikmati keindahan alamnya, tetapi juga ikut menumbuhkan kepedulian terhadap masyarakat dan lingkungan.
“Alam Manggarai Barat adalah anugerah Tuhan. Menikmatinya adalah sebuah rahmat, sedangkan menjaganya dan berbagi kepada sesama merupakan tanggung jawab bersama,” kata Rafael.
Kisah para peziarah
Ageng Tour menjadi gambaran bahwa Labuan Bajo bukan sekadar destinasi wisata dunia.
Daerah ini juga menjadi ruang perjumpaan antara manusia, alam, dan Tuhan, yang melahirkan rasa syukur sekaligus semangat berbagi bagi sesama.(BFT/LBJ/RED/Yoflan)












