BERITAFAJARTIMUR.COM (Labuan Bajo) Gerakan Pramuka Kwartir Cabang (Kwarcab) Manggarai Barat melalui gerakan Pramuka Peduli Gempa Flores terus bergerak membantu warga terdampak gempa bumi yang mengguncang wilayah Flores, Nusa Tenggara Timur (NTT).
Sejak Minggu (16/8/2026), anggota Pramuka dari sejumlah Kwartir Ranting (Kwarran) di Kabupaten Manggarai Barat dikerahkan untuk membantu proses evakuasi dan relokasi warga, mendirikan tenda pengungsian, menyalurkan bantuan, hingga melakukan pendataan terhadap anggota Pramuka yang turut menjadi korban bencana.
Pengurus Kwarcab Manggarai Barat, Erwin Pani Yordan, yang merupakan Andalan Bidang Hukum dan Organisasi, bersama Andalan Humas Roby, mengatakan aksi kemanusiaan tersebut merupakan bentuk respons langsung Pramuka terhadap kondisi warga setelah gempa.
“Ini panggilan jiwa sekaligus pengamalan Dasa Dharma Pramuka. Kami ingin hadir membantu masyarakat dan pemerintah daerah dalam penanganan awal serta proses pemulihan pascagempa,” kata Erwin saat ditemui media ini, Kamis (20/8/2026) malam.
Menurut dia, gerakan tersebut tidak hanya berpusat di satu wilayah, tetapi dilakukan secara serentak melalui 12 Kwarran di bawah Kwarcab Manggarai Barat.
Untuk wilayah Kwarran Komodo, anggota Pramuka terlibat langsung dalam membantu warga Kelurahan Wae Kelambu, Kecamatan Komodo, yang terdampak gempa.
Salah satu kebutuhan mendesak yang dipenuhi adalah penyediaan tempat berlindung bagi warga yang memilih tidak menempati rumah karena trauma maupun kondisi bangunan yang mengalami keretakan dan kerusakan.
Delapan Titik Tenda Pengungsian
Hingga Kamis malam, Kwarcab Manggarai Barat telah membantu pemasangan tenda di sedikitnya delapan titik.
Rinciannya, empat tenda didirikan di Lancang, dua tenda di Wae Bo yang digunakan siswa sekolah, satu tenda di Raba Seranaru, dan satu tenda di Golo Koe.
“Untuk satu tenda, estimasinya bisa menampung sekitar 10 sampai 20 orang, tergantung ukuran dan kondisi di lapangan,” ujar Erwin.
Namun, kebutuhan tenda hingga kini belum sepenuhnya terpenuhi. Permintaan tambahan masih terus berdatangan dari warga terdampak.
Erwin mengatakan pihaknya masih menerima permintaan tenda dan berencana kembali turun ke lokasi untuk memenuhi kebutuhan darurat tersebut.
“Kemungkinan besok kami kembali terjun ke lokasi untuk menyalurkan kebutuhan emergency, termasuk terpal dan makanan siap saji,” katanya.
Erwin menuturkan, kondisi warga yang ditemui anggota Pramuka di lapangan cukup memprihatinkan.
Selain mengalami kerusakan bangunan, sebagian warga masih diliputi trauma setelah gempa.
Warga yang rumahnya mengalami keretakan atau kerusakan parah memilih mengungsi dan mendirikan tempat perlindungan sementara di luar rumah karena khawatir terjadi gempa susulan.
“Kondisi yang kami temukan adalah warga masih trauma akibat gempa. Ada bangunan yang retak bahkan mengalami kerusakan cukup parah. Karena itu, tenda menjadi salah satu kebutuhan yang sangat mendesak,” jelasnya.
Kondisi tersebut membuat Pramuka Peduli tidak hanya berfokus pada distribusi bantuan material, tetapi juga melihat kebutuhan kelompok rentan, terutama ibu hamil, ibu yang memiliki bayi, serta anak-anak.
Kwarcab Manggarai Barat saat ini memprioritaskan bantuan yang bersifat darurat.
Sejumlah kebutuhan yang dinilai mendesak bagi masyarakat terdampak di wilayah Lembor, Lembor Selatan, dan Welak antara lain beras, sayur-mayur, bahan makanan instan, air minum bersih, pakaian layak pakai, terpal, kebutuhan bayi dan ibu menyusui, selimut, serta obat-obatan umum seperti obat batuk dan pilek.
“Fokus kami sekarang adalah kebutuhan yang benar-benar emergency. Terutama makanan, air minum, terpal atau tenda, serta kebutuhan untuk ibu-ibu yang memiliki bayi dan ibu hamil,” katanya.
Menurut Erwin, kebutuhan tersebut menjadi penting karena sebagian warga masih bertahan di tempat pengungsian dan belum dapat kembali menempati rumah masing-masing.
Dalam pelaksanaan aksi kemanusiaan tersebut, Kwarcab Manggarai Barat melibatkan pengurus Kwarcab, pengurus Kwarran, pembina, serta anggota Pramuka.
Untuk wilayah Kwarran Komodo, keterlibatan juga datang dari anggota Pramuka SMKN 1 Labuan Bajo bersama para pembina.
Sementara aksi Pramuka Peduli di wilayah Kwarran lainnya, termasuk Welak, Lembor, dan Lembor Selatan, dikoordinasikan oleh Adnan. Mereka juga telah menyalurkan bantuan kepada warga terdampak gempa.
“Untuk yang aktif di lapangan dari Kwarcab, saya bersama Kak Roby. Kemudian dibantu pengurus Kwarran dan anggota Pramuka, khususnya dari SMKN 1,” kata Erwin.
Ia menegaskan, aksi tersebut bukan kegiatan seremonial, melainkan bagian dari upaya Pramuka untuk membantu masyarakat pada masa tanggap darurat.
Selain membantu masyarakat umum, Kwarcab Manggarai Barat juga mulai melakukan pendataan terhadap pembina, guru, dan anggota Pramuka yang menjadi korban terdampak gempa.
Pendataan tersebut dilakukan sebagai dasar untuk menentukan bentuk bantuan yang akan diberikan kepada mereka.
“Mulai hari ini kami melakukan pendataan korban gempa, khususnya pembina, guru, dan anggota Pramuka yang terdampak. Nantinya akan diberikan donasi atau bantuan sesuai kebutuhan,” ujar Erwin.
Langkah tersebut dinilai penting karena sejumlah pembina dan anggota Pramuka juga merupakan bagian dari masyarakat yang terdampak langsung bencana.
Dukungan dari Ketua Kwarcab dan Pemerintah Desa
Gerakan Pramuka Peduli ini juga mendapat dukungan dari Ketua Kwarcab Manggarai Barat, Dewi Subino, serta Kepala Desa Batu Cermin, Marianus Yono Jehanu.
Dukungan tersebut antara lain berupa donasi dan bantuan logistik untuk memperkuat aksi kemanusiaan di lapangan.
Erwin menyebut dukungan tersebut menjadi energi tambahan bagi para relawan Pramuka yang bekerja membantu warga terdampak.
“Upaya Kak Dewi dan Pak Kades Yono Jehanu luar biasa. Mereka ikut mendukung dan membantu Pramuka, termasuk memberikan beras dan sembako untuk warga terdampak,” katanya.
Gerakan #PramukaPeduliGempaFlores yang diinisiasi Kwarcab Manggarai Barat juga diarahkan untuk menjadi gerakan solidaritas yang lebih luas.
Selain aksi lapangan, Pramuka melakukan penggalangan dana dan logistik dari masyarakat serta anggota Pramuka.
Bantuan yang dikumpulkan kemudian diarahkan kepada kebutuhan warga di wilayah yang mengalami dampak cukup parah.
Kampanye digital melalui media sosial dengan tagar #PramukaPeduliGempaFlores juga digunakan untuk memperluas informasi, menggalang solidaritas, sekaligus memudahkan koordinasi bantuan.
Ke depan, kegiatan Pramuka Peduli juga diarahkan pada pendampingan psikososial atau trauma healing, khususnya bagi anak-anak dan warga yang masih mengalami trauma akibat gempa.
“Pramuka harus hadir ketika masyarakat membutuhkan. Bukan hanya membantu dengan tenaga, tetapi juga memastikan kebutuhan dasar warga dan kelompok rentan mendapat perhatian,” ujar Erwin.
Dengan semangat Dasa Dharma Pramuka, Kwarcab Manggarai Barat berharap gerakan tersebut dapat terus berjalan selama masyarakat masih membutuhkan dukungan dalam masa pemulihan pascabencana.
Aksi kemanusiaan itu sekaligus menjadi pengingat bahwa penanganan bencana tidak hanya menjadi tanggung jawab pemerintah dan lembaga kebencanaan, tetapi membutuhkan gotong royong seluruh elemen masyarakat.(BFT/LBJ/RED/Yoflan)





