Operasi SAR Gempa Flores Ditutup, Basarnas Buka Kemungkinan Pencarian Dilanjutkan

Beritafajartimur.com (Maumere) — Badan Nasional Pencarian dan Pertolongan (Basarnas) resmi menutup Operasi SAR Gempa Flores 7,7 SR pada Sabtu (12/9/2026) pukul 18.00 WITA. Penutupan dilakukan seiring berakhirnya masa perpanjangan tanggap darurat bencana gempa di Nusa Tenggara Timur (NTT).

Meski operasi resmi dihentikan, Basarnas menegaskan pintu pencarian dan pertolongan belum sepenuhnya tertutup. Operasi SAR dapat kembali dibuka apabila di kemudian hari ditemukan korban atau terdapat permintaan evakuasi.

Kepala Kantor SAR Maumere selaku SAR Mission Coordinator (SMC), Fathur Rahman, mengatakan keputusan penutupan operasi telah mempertimbangkan perkembangan kondisi di lapangan, termasuk menurunnya aktivitas gempa susulan serta perubahan status penanganan bencana menuju masa transisi pemulihan.

“Operasi SAR Gempa 7,7 SR resmi ditutup hari ini, 12 September 2026, bersamaan dengan berakhirnya perpanjangan masa tanggap darurat dari tanggal 29 Agustus sampai dengan 12 September 2026,” kata Fathur, mewakili Kepala Basarnas Marsekal Madya TNI Muhammad Syafii.

Berlangsung sejak hari pertama gempa

Operasi SAR Gempa Flores telah berlangsung sejak hari pertama gempa pada 15 Agustus 2026.

Tim SAR Gabungan diterjunkan untuk melaksanakan pencarian, pertolongan, evakuasi, serta penanganan korban di sejumlah wilayah terdampak. Operasi tersebut melibatkan berbagai unsur, mulai dari TNI-Polri, pemerintah daerah, PMI, relawan hingga potensi SAR lainnya.

Besarnya cakupan penanganan membuat operasi tidak hanya berfokus pada pencarian korban. Tim juga menjalankan evakuasi medis, mobilisasi personel dan bantuan, serta distribusi logistik ke wilayah yang membutuhkan.

Dalam operasi tersebut, Helikopter Dauphin Basarnas turut dikerahkan untuk mendukung berbagai kebutuhan di lapangan, termasuk evakuasi medis, mobilisasi penanganan korban, dropping bantuan, serta mobilisasi tenaga medis dari Kementerian Kesehatan.

Keterlibatan banyak unsur tersebut menjadi bagian penting dalam penanganan situasi darurat pascagempa, terutama ketika kondisi geografis dan akses menuju sejumlah wilayah terdampak menjadi tantangan tersendiri bagi petugas.

Operasi bisa dibuka kembali

Fathur menegaskan, berakhirnya operasi SAR bukan berarti seluruh kemungkinan pencarian dan pertolongan dihentikan secara permanen.

Basarnas masih membuka kemungkinan operasi kembali dilakukan apabila terdapat informasi baru terkait korban ataupun kebutuhan evakuasi.

“Apabila di kemudian hari terdapat permintaan evakuasi maupun penemuan korban, maka Operasi SAR Gempa Flores akan dibuka kembali sesuai dengan kebutuhan dan kondisi di lapangan,” ujarnya.

Pernyataan tersebut menjadi penegasan bahwa penutupan operasi dilakukan berdasarkan evaluasi kondisi dan berakhirnya masa tanggap darurat, bukan berarti respons kemanusiaan terhadap masyarakat terdampak telah selesai sepenuhnya.

Penanganan selanjutnya akan memasuki tahapan pemulihan sesuai mekanisme penanggulangan bencana yang berlaku.

Apresiasi untuk Tim SAR Gabungan

Fathur juga menyampaikan apresiasi kepada seluruh unsur yang terlibat dalam Operasi SAR Gempa Flores.

Menurutnya, keberhasilan pelaksanaan operasi tidak terlepas dari kerja bersama berbagai unsur yang berada di lapangan. Sinergi tersebut menjadi kekuatan utama dalam menjalankan misi kemanusiaan sejak hari pertama gempa hingga operasi resmi ditutup.

“Sinergi Tim SAR Gabungan menjadi wujud nyata bersatunya seluruh unsur SAR dalam menjalankan misi kemanusiaan,” tandasnya.

Dengan ditutupnya Operasi SAR pada 12 September 2026, fase tanggap darurat memasuki babak baru. Fokus penanganan bencana selanjutnya diarahkan pada masa transisi menuju pemulihan, sementara Basarnas tetap memastikan bahwa respons pencarian dan pertolongan dapat kembali dilakukan apabila situasi di lapangan mengharuskannya.(BFT/LBJ/RED/Yoflan)

Pos terkait