Beritafajartimur.com (Manggarai Barat) Sekitar 600 buah semangka pernah dipanen Maksimus Saidus dari kebunnya di Kampung Parek, Desa Sano Nggoang, Kecamatan Sano Nggoang, Kabupaten Manggarai Barat. Namun, bagi petani pemula itu, hasil panen bukan satu-satunya pelajaran yang dibawa pulang dari kebun.
Ada pelajaran lain yang justru datang dari daun semangka yang mengering.
Pengalaman tersebut diceritakan Maksimus dalam kegiatan perayaan Hari Tani Nasional 2026 yang digelar LSM Burung Indonesia di Kelompok Tani Uma Nio, Desa Siru, Kabupaten Manggarai Barat, Sabtu (26/9/2026).
Kegiatan yang berlangsung di Bentang Alam Mbeliling itu mengusung tema “Petani Menjaga Bumi, Konservasi Menjaga Masa Depan.”
Dalam kegiatan tersebut, kelompok tani dari sejumlah desa diberi ruang untuk berbagi pengalaman mengenai praktik pertanian yang lebih ramah terhadap keanekaragaman hayati.
Salah satunya Kelompok Tani Bantang Cama Parek yang mempresentasikan praktik pembuatan pupuk bokashi dan pestisida nabati.

Di hadapan perwakilan dari 21 desa, Maksimus menjelaskan secara runut proses pembuatan dan pemanfaatan pupuk bokashi. Pengetahuan tersebut tidak hanya ditempatkan sebagai teknik bercocok tanam, tetapi juga bagian dari upaya mengurangi ketergantungan petani terhadap bahan-bahan yang berpotensi berdampak pada lingkungan.
Berawal dari Coba-Coba Menanam Semangka
Bagi Maksimus, perjalanan itu bermula dari rasa penasaran. Ia tertarik menanam semangka setelah mendengar pengalaman rekannya bernama Don yang sebelumnya mencoba menanam sekitar 20 pohon semangka.
Menurut cerita Don, budidaya semangka relatif ringan dan tidak membutuhkan biaya terlalu besar. Cerita itu kemudian mendorong Maksimus untuk mencoba.
Kesempatan semakin terbuka ketika kelompok tani mendapatkan dukungan bibit semangka dalam kegiatan yang dilakukan bersama LSM Burung Indonesia.
“Saya awalnya hanya coba-coba. Kebetulan ada teman saya namanya Don, dia pernah tanam sekitar 20 pohon. Dia cerita bahwa tanam semangka ini prosesnya ringan dan tidak terlalu makan biaya,” ujar Maksimus.
Ia kemudian membeli sebagian bibit di toko tani di Limbur dan menambahnya dengan bibit yang diperoleh melalui kegiatan kelompok.
Sekitar 500 pohon semangka ditanam.
Hasilnya justru melampaui ekspektasi seorang petani pemula.
Maksimus memperkirakan sekitar 600 buah semangka berhasil dipanen. Sebagian dijual dan menghasilkan pendapatan sekitar Rp8 juta. Namun, tidak semua hasil panen masuk ke pasar. Sebagian besar justru dinikmati warga Kampung Parek.
“Selebihnya hampir semua warga Kampung Parek merasakan dan menikmati makan semangka,” katanya.
Bagi Maksimus, hasil tersebut sudah menjadi pencapaian tersendiri.
Nilainya bukan hanya dihitung dari uang yang diperoleh, tetapi juga dari pengalaman pertama mengembangkan tanaman hortikultura.
Ketika Daun Semangka Mulai Mengering
Pelajaran berikutnya datang dari persoalan yang tidak ia duga. Ketika tanaman semangka mulai tumbuh, berbunga dan berbuah, Maksimus menggunakan obat semprot untuk mengendalikan rumput yang tumbuh di sekitar lahan.
Beberapa waktu kemudian, ia melihat perubahan pada tanaman semangka yang berada di sekitar area tersebut. Daunnya mulai mengering.
“Kurang lebih satu bulan sudah mulai berbunga dan berbuah. Tetapi yang di pinggir lokasi yang saya semprot tadi mengalami masalah. Daunnya semakin mengering,” tuturnya.
Kondisi itu kemudian diamati bersama Petugas Penyuluh Pertanian Lapangan (PPL).
Dokumentasi diambil untuk membantu melihat kondisi tanaman dan mencari kemungkinan penyebabnya.
Maksimus tidak langsung menarik kesimpulan bahwa obat yang digunakan sebagai penyebab. Ia memilih menunggu pengamatan dan tetap berkonsultasi dengan PPL serta petani yang lebih berpengalaman.
Namun, ketika kondisi daun semakin memburuk, ia menghentikan penggunaan obat tersebut. Rumput di sekitar tanaman dibersihkan secara manual. Penyiraman tetap dilakukan. Sekitar satu minggu kemudian, ia melihat perubahan.
Laju pengeringan daun mulai berkurang. Buah semangka juga terus berkembang hingga akhirnya dapat dipanen.
“Laju keringnya daun sudah semakin berkurang. Kemudian buahnya juga mulai membesar dan akhirnya bisa dipanen,” katanya.
Pengalaman itu membuat Maksimus mulai melihat kebun dengan cara berbeda.
Ia menyadari bahwa perlakuan terhadap lingkungan di sekitar tanaman tidak bisa begitu saja dipisahkan dari kondisi tanaman yang sedang dibudidayakan.
Namun, sebagai petani pemula, Maksimus tetap berhati-hati. Ia tidak menjadikan pengalamannya sebagai kesimpulan ilmiah.
“Saya masih mencoba bertanya kepada PPL dan orang-orang yang sudah berpengalaman, karena sebenarnya saya ini pemula,” ujarnya.
Dari Semangka ke Kesadaran Konservasi
Pengalaman di kebun kemudian bertemu dengan kegiatan konservasi yang dilakukan bersama kelompok.
Petani tidak hanya mendapatkan pengetahuan mengenai budidaya tanaman, pupuk organik dan pestisida nabati. Mereka juga diajak melihat langsung kondisi lingkungan, termasuk mengunjungi mata air dan mengamati hubungan antara kehidupan masyarakat dengan alam di sekitarnya.
Dari sana, aktivitas bertani mulai dilihat dalam konteks yang lebih luas.
Tanah bukan sekadar tempat tanaman tumbuh. Air bukan sekadar kebutuhan untuk menyiram. Lingkungan bukan sekadar ruang yang berada di luar kebun.
Ketiganya merupakan bagian dari satu ekosistem yang menentukan keberlanjutan kehidupan petani. Pemahaman itulah yang kemudian membuat Maksimus merenungkan kembali tema kegiatan Hari Tani Nasional tersebut.
“Petani menjaga bumi, konservasi menjaga masa depan.”
Bagi Maksimus, kalimat itu bukan sekadar slogan.
“Saya coba membaca, petani menjaga bumi, konservasi menjaga masa depan. Ini sangat dalam bagi saya. Saya bertanya dalam diri, apakah saya benar-benar selama ini sebagai petani sudah menjaga bumi? Apakah saya sudah melakukan konservasi untuk menjaga masa depan yang akan diaplikasikan pada pertanian saya sendiri?” katanya.
Pertanyaan itu menjadi bagian dari proses belajar. Sebab, pengalaman menanam semangka membuat Maksimus tidak lagi hanya melihat keberhasilan pertanian dari jumlah tanaman, banyaknya buah atau uang hasil penjualan.
Ia mulai melihat setiap keputusan di kebun memiliki konsekuensi yang lebih luas. Mulai dari bagaimana tanah diolah, pupuk apa yang digunakan, bagaimana gulma dikendalikan, bagaimana hama ditangani, hingga bagaimana air dan lingkungan sekitar diperlakukan.
Pertanian Bukan Sekadar Panen
Praktik yang dibagikan Kelompok Tani Bantang Cama dalam kegiatan tersebut menjadi contoh bagaimana pengalaman petani dapat menjadi sumber pengetahuan bagi petani lainnya.
Pembuatan pupuk bokashi dan pestisida nabati tidak berhenti sebagai materi pelatihan. Pengetahuan itu menjadi bagian dari upaya mencari cara bertani yang tetap produktif sekaligus mempertimbangkan keberlanjutan lingkungan.
Di tengah kebutuhan meningkatkan produksi pangan, tantangan petani bukan hanya bagaimana mendapatkan hasil sebanyak-banyaknya.
Ada pertanyaan yang lebih panjang: bagaimana tanah tetap subur, sumber air tetap terjaga, keanekaragaman hayati tidak tergerus, dan lahan pertanian tetap dapat diwariskan kepada generasi berikutnya.
Di Bentang Alam Mbeliling, pertanyaan tersebut menjadi semakin relevan.
Sebab, kehidupan masyarakat, pertanian, hutan, mata air dan keanekaragaman hayati berada dalam ruang yang saling berhubungan.
Pengalaman Maksimus menjadi gambaran kecil dari proses tersebut. Ia masuk ke kebun dengan semangat mencoba. Kemudian mendapatkan hasil panen.
Setelah itu, ia belajar dari tanaman yang mengalami masalah.
Dari sana, ia mulai bertanya tentang cara bertani yang lebih aman bagi lingkungan.
Pada akhirnya, pengalaman itu membawanya pada kesadaran bahwa menjadi petani bukan semata-mata menghasilkan pangan untuk hari ini.
“Profesi kita sebagai petani bukan hanya bagaimana menghasilkan, tetapi bagaimana menjaga bumi supaya tetap bisa memberikan kehidupan untuk masa depan,” ujarnya. Yoflan Bagang.(BFT/LBJ/RED/Yoflan)





