Sejumlah Lansia di Labuan Bajo Disambangi Komunitas Perempuan Peduli Bencana, Bawa Sembako hingga Kebutuhan Lainnya

Beritafajartimur.com (Manggarai Barat) – Kepedulian terhadap warga lanjut usia (lansia) terus digerakkan Komunitas Perempuan Peduli Bencana Manggarai Barat. Sejak 26 September 2026, komunitas yang beranggotakan sejumlah kaum ibu itu menyambangi lansia yang tersebar di Kota Labuan Bajo dan sekitarnya.

Hingga kini, sekitar 60 lansia telah dikunjungi. Sebagian besar merupakan warga berusia lanjut yang hidup dalam kondisi memprihatinkan dan membutuhkan perhatian, baik dalam bentuk bantuan kebutuhan sehari-hari maupun sekadar kehadiran dan teman berbicara.

Koordinator Komunitas Perempuan Peduli Manggarai Barat, Trince Yuni Endi dan Maria Falentina Meli alias Mely Weng, mengatakan komunitas tersebut dibentuk sebagai wadah bagi para perempuan untuk membantu masyarakat yang terdampak bencana maupun warga yang membutuhkan.

“Komunitas kami anggotanya beberapa orang kaum ibu. Kami menyalurkan bantuan dari para donatur, termasuk bantuan pemerintah yang dipercayakan kepada kami untuk disalurkan kepada masyarakat yang membutuhkan,” kata Mely.

Sebelum menyasar lansia di Labuan Bajo, komunitas tersebut telah bergerak ke sejumlah desa dan dusun yang terdampak gempa di 12 kecamatan.

Dalam waktu dekat, mereka juga dijadwalkan kembali turun ke wilayah Bari pada Sabtu mendatang.

Tak Hanya Sembako

Anggota Komunitas Perempuan Peduli Bencana, Wati Ontong, mengatakan jenis bantuan yang dibawa disesuaikan dengan kebutuhan warga yang menjadi sasaran.

Selama bergerak ke desa-desa dan sekolah, komunitas tersebut menyalurkan berbagai kebutuhan dasar. Namun dalam sepekan terakhir, perhatian mereka lebih diarahkan kepada lansia yang tinggal di wilayah Kota Labuan Bajo.

“Bantuan yang kami bawa itu tergantung sasaran yang kami kunjungi. Selama ini kami ke desa-desa, ke sekolah-sekolah, dan sekarang satu minggu terakhir sasarannya lansia di dalam Kota Labuan Bajo,” ujar Wati.

Bantuan yang disalurkan antara lain beras, telur, mi instan, susu, biskuit, air mineral, terpal, makanan siap saji, kopi, pakaian layak pakai hingga perlengkapan kebutuhan bayi.

Ada pula bantuan yang dititipkan organisasi atau kelompok lain kepada komunitas tersebut berupa kasur, tikar, pakaian bekas yang masih layak digunakan, handuk dan sejumlah kebutuhan lainnya.

Untuk anak-anak dan bayi, komunitas juga menerima dan menyalurkan popok, makanan bayi, susu, vitamin serta perlengkapan lainnya.

“Kebutuhan masyarakat sebisa mungkin kami terima. Kalau ada keluhan atau kebutuhan khusus, nanti kami sampaikan kepada BNPB dan para donatur lainnya,” katanya.

Masih Banyak Lansia Belum Terdeteksi

Menurut Wati, pendataan penerima bantuan selama ini banyak berasal dari informasi masyarakat. Komunitas kemudian melihat kondisi calon penerima, terutama dari sisi usia dan tingkat kebutuhan.

Tidak seluruh penerima harus berusia sangat lanjut. Warga yang usianya di atas 50 tahun tetapi mengalami sakit atau berada dalam kondisi sangat membutuhkan juga dapat menjadi sasaran bantuan.

Namun, keterbatasan data membuat komunitas belum dapat menjangkau seluruh lansia yang membutuhkan di Labuan Bajo.

“Masih sangat banyak lansia yang memang membutuhkan bantuan. Kami masih keterbatasan data. Karena itu kami sangat membutuhkan informasi dari masyarakat,” ungkapnya.

Keterbatasan tersebut membuat peran masyarakat menjadi penting. Informasi mengenai lansia yang tinggal sendirian, sakit, tidak terawat atau kesulitan memenuhi kebutuhan sehari-hari dapat menjadi pintu masuk bagi komunitas untuk melakukan kunjungan.

Ada Lansia Tinggal Sendiri hingga Hanya Butuh Teman Bicara

Selama melakukan kunjungan sejak 26 September, para anggota komunitas menemukan beragam kondisi kehidupan lansia.

Ada lansia yang hidup seorang diri. Ada pula yang tinggal bersama anak-anaknya. Sebagian lansia kondisinya dinilai kurang mendapatkan perawatan.

Sebaliknya, komunitas juga menemukan lansia berusia 80 hingga 90 tahun yang masih aktif menjalankan berbagai kegiatan sehari-hari.

“Ada yang sudah berusia 80 bahkan 90 tahun, tetapi masih beraktivitas. Ada juga yang berusia sekitar 70 tahun tetapi sudah hanya bisa berbaring,” tutur Wati.

Pada kunjungan terbaru, sebagian besar lansia yang ditemui bahkan telah berusia di atas 80 tahun.

Kebutuhan mereka pun tidak selalu sama. Selain sembako, sejumlah lansia lebih membutuhkan susu, popok atau pampers, vitamin dan kebutuhan kesehatan lainnya.

Namun, dari rangkaian kunjungan itu, komunitas menyadari ada satu kebutuhan lain yang sering kali tidak terlihat: kehadiran dan perhatian.

“Tidak Bawa Apa-Apa, Kami Sudah Bahagia”

Wati mengaku ada satu kalimat dari seorang lansia yang terus terngiang di benaknya.

Saat dikunjungi, lansia tersebut menyampaikan bahwa kedatangan para ibu sudah cukup membuatnya bahagia, bahkan jika mereka tidak membawa bantuan apa pun.

“Biar ibu tidak membawa apa-apa, dengan kehadiran ibu, kami sudah bahagia,” kata Wati, mengutip ucapan salah seorang lansia yang mereka kunjungi.

Kalimat sederhana itu, kata dia, justru menjadi salah satu alasan komunitas untuk terus datang.

Sebab, bagi sebagian lansia, perhatian tidak selalu harus diwujudkan dalam bentuk barang. Sapaan, candaan ringan dan percakapan sederhana bisa menjadi hiburan tersendiri bagi mereka yang sehari-hari lebih banyak menghabiskan waktu di rumah.

“Kalimat itu yang terus terngiang-ngiang. Jadi tidak ada alasan bagi kami untuk tidak merespons. Mereka sangat membutuhkan hiburan sederhana, celotehan-celotehan ringan, dan kehadiran kami,” ujarnya.

Kehadiran sejumlah perempuan yang memiliki kepedulian sosial, termasuk istri Bupati dan Wakil Bupati Manggarai Barat, juga disebut memberikan kebahagiaan tersendiri bagi para lansia yang mereka kunjungi.

Bagi Komunitas Perempuan Peduli Bencana Manggarai Barat, gerakan tersebut pada akhirnya bukan hanya tentang menyalurkan bantuan. Lebih dari itu, mereka ingin memastikan para lansia yang berada di tengah masyarakat tidak merasa dilupakan.

Di tengah keterbatasan data dan sumber daya, komunitas tersebut masih membuka ruang bagi masyarakat yang memiliki informasi mengenai lansia yang membutuhkan perhatian.

Sebab, bagi mereka, satu kunjungan mungkin terlihat sederhana. Namun bagi seorang lansia yang hidup sendiri, sebuah kunjungan bisa berarti jauh lebih besar: ada yang datang, ada yang peduli, dan ada yang mengingat mereka.(BFT/LBJ/RED/Yoflan)

Pos terkait