Bulan Bahasa Bali: Siswa SMA 2 Denpasar Raih Juara 1 Kategori Perlombaan Debat Bahasa Bali

BERITAFAJARTIMUR.COM (Denpasar-BALI) | Kegiatan Bulan Bahasa Bali yang digelar Pemerintahan Kota Denpasar melalui Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kota Denpasar menyelenggarakan berbagai festival dan lomba, diantaranya festival nyurat Aksara Bali, festival mengetik Keyboard Aksara Bali, lomba dharma wacana, lomba debat bahasa Bali, dan lainnya sebagai upaya pelestarian budaya Bali. Adapun Lomba Debat Bahasa Bali dalam rangka Bulan Bahasa Bali Kota Denpasar Tahun 2024 bertemakan: _Jana Kerthi – Dharma Sadhu Nuraga_.

Dalam lomba Debat Bahasa Bali, duta SMA Negeri 2 Denpasar berjaya meraih tempat terhormat menyabet juara 1 (satu). Adapun mata pelajaran bahasa Bali sebagaimana diungkapkan beberapa siswa memiliki tingkat kesulitan tersendiri, mengingat generasi muda lebih banyak berkomunikasi menggunakan bahasa nasional yakni Bahasa Indonesia. Sehingga para pembina di sekolah-sekolah agak kesulitan mencari bibit-bibit yang kompeten di sekolahnya. Karena itu, ketika ada perlombaan maka guru mata pelajaran Bahasa Bali memilih anak didiknya untuk dilatih secara intens.

Saat wawancara dengan media online beritafajartimur.com., peserta lomba yang merupakan duta lomba Debat Bahasa Bali Resman, sebutan populer SMA Negeri 2 Denpasar yang terdiri dari Desak Putu Widya Paramitha (XI IPA 3), Putu Rama Diva Dinata Dharma Pratama (XI IPA 2) dan I Made Wesa Utama Putra (X3) menjelaskan,” Waktu kami berlomba di Kota Denpasar untuk persiapannya, kami dibina langsung oleh 3 pembina bahasa Bali yang ada di Resman yang merupakan Guru Bahasa Bali, yaitu ada Bu Danti, Bu Respin dan juga Bu Dayu Eka. Kami disini belajar tentang 9 materi yang telah diberikan oleh panitia perlombaan debat ini dalam mengusung tema _Jana Kerthi – Dharma Sadhu Nuraga_. yang memiliki makna bahwa adanya pemuliaan bahasa, sastra dan aksara Bali untuk memperkuat jati diri krama atau masyarakat Bali,” ungkap Desak Putu Widya Paramitha.

“Untuk persiapannya itu, kami ada latihan, memahami topik-topik yang sudah diberikan oleh panitia dengan cara kami mengembangkan topik-topik tersebut menjadi sebuah materi. Kami berlatih bagaimana cara pengucapan kata-kata bahasa Bali, dan bagaimana teknis Debat Bahasa Bali sesuai dengan kriteria yang sudah diberikan,” jelas Desak Putu Widya Paramitha.

“Jadi pada lomba kali ini, kita itu melawan peserta dari 13 SMA & SMK se-Kota Denpasar. Dari 13 itu di teks lomba itu menggunakan sistem nilai. Jadi kita berlomba, kita berdebat, kemudian dari debat yang sudah kita lakukan itu dinilai dan baru dinyatakan siapa yang dinilai untuk menang,” terang Putu Rama Diva Dinata Dharma Pratama, menimpali penjelasan rekan timnya, sembari menambahkan,” Adapun kesulitan saat persiapan lomba yaitu membagi waktu untuk latihan debat, karena kan semua punya kesibukannya masing-masing di dalam kegiatan pelajaran dan lain-lainnya,” ungkap Desak Putu Widya Paramitha.

Saat ditanya bagaimana penerapan Bahasa Bali dalam konteks penggunaan bahasa Bali sehari-hari di kalangan generasi muda Bali, dijelaskan I Made Wesa Utama Putra bahwa Bahasa Bali itu di kalangan generasi muda khususnya pada zaman kini, itu sudah sedikit berkurang peminatnya, karena banyak sekali anak-anak muda yang mengutamakan bahasa Indonesia dari pada Bahasa Bali yang merupakan bahasa ibu orang Bali. Jadi sepatutnya kita sebagai generasi penerus bangsa, kita harus juga mempelajari bahasa daerah kita sendiri sebagai penerus dari generasi-generasi sebelumnya. Sehingga bahasa ibu masing-masing daerah tetap lestari. Tentu salah satunya melalui kegiatan Bulan Bahasa, seperti Bulan Bahasa Bali,” tuturnya.

Terkait pembinaan terhadap siswa menyambut kegiatan Bulan Bahasa Bali, khususnya materi lomba Debat Bahasa Bali yang diikuti Siswa SMA Negeri 2 Denpasar, Ni Pt. Danti Purwanti, S.S, M.Si, bersama rekannya, Ni Made Rispintari, S.Pd. dan Ida Ayu Putu Eka Pusparini, S.Pd., selaku pembina sekaligus Guru Mata Pelajaran Bahasa Bali Resman, mewakili Kepala SMA Negeri 2 Denpasar I Gede Eka Mahendra, S.Pd.,M.Pd., menjelaskan,” Untuk mempersiapkan peserta lomba debat Bahasa Bali di Resman kami menyeleksi beberapa siswa yang mempunyai bakat dan menguasai dasar-dasar berbicara dengan Bahasa Bali. Setelah berjuang di tingkat Kota, siswa kami berhasil meraih juara 1 Debat Bahasa Bali Kota Denpasar. Adapun pembinaannya sudah dilakukan setiap hari untuk persiapan ke tingkat Provinsi, anak-anak latihan di sekolah setiap hari dari pagi sampai sore kemudian dibantu juga oleh pembina dari Provinsi secara daring (zoom). Jadi untuk persiapannya cukup baik dan didukung juga oleh pihak sekolah khususnya Bapak Kepala Sekolah,” jelas Ni Pt. Danti Purwanti, S.S, M.Si.

Lebih lanjut dijelaskan,” Kalau untuk pembinaan Aksara Bali, di kelas-kelas memang sudah mendapatkan pelajaran Aksara Bali semuanya, dari kelas 1, 2, dan 3. Sementara untuk pembinaan lombanya itu biasanya juga seperti ini, jadi anak-anak dilatih untuk menulis Aksara Bali, menyempurnakan bentuk tulisannya, dan tentunya kita persiapkan anak-anak yang sudah bisa membaca dan menulis Aksara Bali,” bebernya.

Hal senada dikatakan Ni Made Rispintari, S.Pd. “Untuk persiapannya terlebih dahulu kita menyeleksi peserta yang cocok dan yang sudah berbakat di bidang ini, dan kemudian kita latih secara rutin, kita asah kemampuannya sedikit demi sedikit sampai bisa,” jelasnya mengungkap resep keberhasilannya membina siswanya sehingga bisa meraih prestasi yang maksimal dalam lomba yang diikuti.

Sembari menambahkan bahwa bahasa Bali meski menjadi bahasa Ibu namun pemahaman siswa agak sulit saat ini mengingat banyak siswa menggunakan bahasa Indonesia mulai dari rumahnya hingga dalam pergaulannya sehari-hari. “Kesulitan kita saat ini terutama karena banyak siswa juga yang tidak sering menggunakan Bahasa Bali di rumah, di sekolah, dan dalam pergaulannya lebih banyak dia menggunakan bahasa Indonesia, jadi kita agak susah untuk mendapatkan siswa yang benar-benar tahu Bahasa dan Aksara Bali,” keluhnya.

Di pihak lain, Ida Ayu Putu Eka Pusparini, S.Pd, mengatakan,” Jika terkait dengan menulis Aksara Bali memang disana terdapat banyak kesulitan karena anak-anak kurang tekun berlatih. Kemudian bagaimana mereka memahami cara berbahasa Bali dengan baik dan benar. Karena itu, kami sebagai pembina bahasa Bali menekankan kepada siswa, untuk lebih paham aksara dan bahasa Bali. Terutama pada saat bulan bahasa ini di sekolah ini kami mengadakan lomba menyurat lontar, dharma wacana, dan lain-lainnya, kemudian disana kami dapat mencari bibit-bibit anak yang memang kompeten dalam bidang tersebut. Jadi setelah kita menemukan siswa yang berkompeten, kita bisa mendorong anak tersebut untuk lomba ke tingkat yang lebih tinggi di luar sekolah,” resepnya.

“Harapan dari kami untuk bulan bahasa ini secara umum sebenarnya kita ini ingin bahwa Bahasa Bali itu semakin lestari dan semakin eksis. Serta semakin sering digunakan oleh orang Bali dan dikenal oleh orang-orang di luar Bali. Sehingga Bahasa Bali itu, baik bahasa, aksara dan sastra Bali itu tidak dianggap sebelah mata oleh masyarakat yang ada di Bali maupun di luar. Sama halnya dengan pariwisata Bali yang sudah berkembang pesat, begitupun Bahasa Bali semakin diminati oleh masyarakat penggunanya. Sehingga orang-orang asing itu makin tertarik untuk datang ke Bali karena pariwisata dan budaya Bali. (Donny Parera)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *