Ditinggal Suami Merantau, Ibu Rumah Tangga di Desa Colol Hidup dalam Pondok Reyot

BERITAFAJARTIMUR.COM (Manggarai Timur-NTT) | Seorang Ibu Rumah Tangga di Desa Colol bernama Yustina Titi Nurbaya bersama tiga orang anaknya tinggal di sebuah pondok reyot yang berukuran sangat kecil dan sederhana. Mereka hidup di pondok reyot tersebut, pasca sang suaminya pergi merantau di Kalimantan dan tidak pernah mengirimkan mereka uang.

Sedihnya lagi, sejak sang suami pergi merantau di Kalimantan, hingga sekarang tidak pernah memberikan kabar bahkan tidak pernah mengirimkan mereka uang.

Rupanya, nasib baik tidak berpihak terhadap Yustina Titi Nurbaya, seorang ibu rumah tangga asal Desa Colol, Manggarai Timur, Nusa Tenggara Timur (NTT), pasca suaminya merantau di Kalimantan.

Di pondok reyot yang berukuran 3 x 4 meter itu, Yustina terpaksa banting tulang bekerja sebagai petani serabutan untuk menghidupi tiga orang anaknya. Ironisnya, pondok tersebut bukan milik pribadinya.

Yustina dan anaknya juga tidur di tenda beralaskan tikar using tanpa spon atau pun kasur.

Di gubuk reyot itu pula, mereka hidup tanpa listrik. Padahal desa itu sudah masuk jaringan listrik Negara. Namun, karena keterbatasan, mama Yustina belum bisa membeli meteran listrik. Sehingga, untuk penerangan malam, mereka masih menggunakan lampu pelita dengan bahan bakar minyak tanah.

Untuk memenuhi kebutuhan, Yustina Titi Nurbaya mengisahkan bahwa dirinya rela bekerja sebagai petani serabutan agar hasilnya bisa dipakai untuk membeli beras.

Karena penghasilannya yang tak menentu, membuat dirinya cemas dikala anak anaknya harus membutuhkan biaya sekolah seperti seragam, buku tulis, sepatu dan tas.

Bahkan, seorang anaknya, bernama Julius Ledin (12) terpaksa harus putus sekolah demi membantu perekonomian keluarga.

“Kami sudah sejak tahun 2011 tinggal di pondok ini. Pondok ini juga milik saudara saya. Kami tidak punya tanah untuk bangun rumah. Suami saya merantau di Kalimantan sejak tahun 2020, sampai saat ini dia tidak pernah berkabar, dan tidak pernah mengirimkan kami uang. Untuk memenuhi kebutuhan, saya kerja harian yang membutuhkan tenaga saya dengan harapan upah. Bahkan terpaksa anak saya berumur 12 tahun rela putus sekolah untuk cari uang,” kisah Yustina sambil berlinang air mata.

Kata Yustina, selama ini pemerintah telah mendata mereka sebagai penerima bantuan rumah layak huni. Namun hal itu tidak bisa dilakukan karena kami belum ada tanah. Yustina juga mengaku keluarganya tidak terdata sebagai penerima bantuan pangan non tunai (BPNT) bahkan bantuan PKH.

“Saya hanya terima bantuan beras dari pemerintah berupa bantuan beras El-Nino,” ujarnya.(BFT/MATIM/Ardi)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *