Beritafajartimur.com (Manggarai Barat) – Kepedulian terhadap warga terdampak gempa bumi Flores terus mengalir. Anggota DPRD Kabupaten Manggarai Barat (Mabar) Hasanudin, S.Hut., turun langsung menemui warga di Desa Nampar Macing, Kecamatan Sano Nggoang, dengan menyalurkan paket sembako.
Bantuan tersebut diserahkan Hasanudin pada Minggu (6/9/2026). Ia yang juga menjabat sebagai Ketua DPD Partai Perindo Mabar mengatakan bantuan itu merupakan bentuk kepedulian terhadap warga yang masih menghadapi dampak bencana gempa Flores.
“Kami hadir bukan hanya sebagai wakil rakyat, tetapi sebagai bagian dari masyarakat. Ketika masyarakat mengalami kesulitan akibat bencana, tentu kita harus ikut merasakan dan membantu sesuai dengan kemampuan yang kita miliki,” kata Hasanudin.
Menurut Hasanudin, kebutuhan masyarakat pascabencana tidak berhenti setelah masa tanggap darurat berakhir. Sebagian warga masih membutuhkan dukungan untuk kembali menjalani kehidupan secara normal.
Ia mengakui bantuan sembako yang diberikan belum mampu menjawab seluruh kebutuhan masyarakat. Namun, menurutnya, kepedulian dan kehadiran di tengah warga jauh lebih penting untuk memastikan masyarakat tidak merasa menghadapi situasi sulit seorang diri.
“Mungkin bantuan ini tidak seberapa, tetapi kami berharap bisa sedikit meringankan beban masyarakat. Yang paling penting adalah kepedulian dan kebersamaan kita. Jangan sampai masyarakat merasa menghadapi bencana ini sendirian,” ujarnya.
Gempa Guncang Flores
Gempa bumi yang mengguncang Flores terjadi pada 15 Agustus 2026. Getaran kuat dirasakan di sejumlah wilayah di Pulau Flores, termasuk Sikka, Ende, Ngada, Nagekeo, Manggarai Timur, Manggarai, hingga Manggarai Barat.
Bencana tersebut tidak hanya berdampak terhadap bangunan dan fasilitas masyarakat. Warga juga menghadapi trauma dan kekhawatiran akibat gempa yang mengguncang wilayah tersebut.
Dalam kondisi itu, Hasanudin mengajak seluruh pihak untuk tidak berhenti memberikan perhatian kepada masyarakat terdampak.
Menurutnya, pemerintah tidak bisa bekerja sendiri. Pemulihan pascabencana membutuhkan keterlibatan masyarakat, lembaga politik, organisasi kemasyarakatan, dunia usaha, hingga berbagai kelompok sosial.
“Pemulihan pascabencana bukan pekerjaan satu atau dua pihak. Pemerintah tentu memiliki tanggung jawab, tetapi masyarakat, lembaga politik dan seluruh elemen sosial juga harus mengambil bagian. Semangat gotong royong harus kita hidupkan,” tegasnya.
Hasanudin menilai bantuan sosial juga tidak seharusnya sekadar menjadi kegiatan seremonial. Bantuan harus diarahkan pada kebutuhan nyata masyarakat.
Ia menyebut pemulihan pascabencana harus mencakup berbagai aspek, mulai dari kebutuhan pangan, kondisi rumah warga, fasilitas umum, pendidikan, kesehatan hingga pemulihan ekonomi.
“Jangan hanya hadir ketika bencana terjadi. Setelah bantuan darurat selesai, kita juga harus memikirkan bagaimana masyarakat bisa kembali hidup normal, rumah-rumah yang rusak bisa diperbaiki, anak-anak bisa kembali belajar, dan ekonomi masyarakat bisa bangkit,” katanya.
Dorong Warga Bangkit
Kehadiran Hasanudin di Desa Nampar Macing juga dimanfaatkan untuk mendengarkan langsung kondisi warga. Menurutnya, kebutuhan masyarakat pascabencana berbeda-beda sehingga penanganannya tidak bisa hanya mengandalkan satu jenis bantuan.
Ada warga yang membutuhkan bahan makanan, perlengkapan rumah tangga, tempat tinggal sementara, hingga dukungan agar kembali dapat menjalankan aktivitas ekonomi.
Karena itu, ia berharap solidaritas terhadap korban gempa terus dijaga meski situasi bencana mulai mereda.
“Kita ingin masyarakat tetap kuat. Bencana memang meninggalkan luka, tetapi kita harus bangkit bersama. Pemerintah, wakil rakyat dan masyarakat harus saling mendukung agar proses pemulihan bisa berjalan dengan baik,” ungkapnya.
Bagi Hasanudin, paket sembako yang disalurkan bukan sekadar bantuan kebutuhan pokok. Lebih dari itu, bantuan tersebut menjadi bentuk kehadiran dan solidaritas kepada masyarakat yang sedang melewati masa sulit.
Ia berharap semangat gotong royong tidak berhenti pada masa tanggap darurat, tetapi terus berlanjut hingga masyarakat benar-benar mampu kembali menjalani kehidupan secara normal.
“Bencana boleh meninggalkan luka, tetapi masyarakat tidak boleh kehilangan harapan untuk bangkit,” pungkasnya.(BFT/LBJ/RED/Yoflan)





