Olahraga ada Batasnya: Waspada Rabdomiolisis!

Penulis: dr. Tjokorda Istri Apriliyanty Pemayun, S.Ked.

Beritafajartimur.com (Denpasar)—-Olahraga kini kian digemari oleh berbagai elemen masyarakat di Indonesia. Terutama dengan masuknya berbagai jenis olahraga baru dari intensitas rendah hingga intensitas tinggi. Dari yang sebelumnya hanya kegiatan di waktu senggang, kini menjadi lifestyle yang tak tergantikan. Pada dasarnya, olahraga sebaiknya dimulai secara perlahan dan bertahap.

Sayangnya, tidak sedikit para pemula meningkatkan frekuensi dan intensitas olahraga secara berlebihan dengan harapan mendapatkan hasil yang instan. Disinilah pentingnya pemahaman mengenai bahaya yang dapat terjadi bila hal tersebut dilakukan. Nyeri terus menerus, pembengkakan, kelemahan pada anggota gerak tubuh hingga terjadinya perubahan warna urin pasca berolahraga dapat menandakan terjadinya “rabdomiolisis”.

Apa yang terjadi dalam tubuh?
Olahraga kini kian digemari oleh berbagai elemen masyarakat di Indonesia. Terutama
dengan masuknya berbagai jenis olahraga baru dari intensitas rendah hingga intensitas tinggi. Dari yang sebelumnya hanya kegiatan di waktu senggang, kini menjadi lifestyle yang tak tergantikan. Pada dasarnya, olahraga sebaiknya dimulai secara perlahan dan bertahap.

Sayangnya, tidak sedikit para pemula meningkatkan frekuensi dan intensitas olahraga secara berlebihan dengan harapan mendapatkan hasil yang instan. Disinilah pentingnya pemahaman mengenai bahaya yang dapat terjadi bila hal tersebut dilakukan. Nyeri terus menerus, pembengkakan, kelemahan pada anggota gerak tubuh hingga terjadinya perubahan warna urin pasca berolahraga dapat menandakan terjadinya “rabdomiolisis”.

Apa itu Rabdomiolisis?
Rabdomiolisis merupakan suatu kondisi ketika otot mengalami kerusakan jaringan
akibat bekerja secara berlebihan melampaui batas kemampuan biasanya. Ketika beban aktivitas melampaui batas, kebutuhan energi otomatis akan meningkat sehingga sel kekurangan energi yang berujung pada kerusakan sel. Sel otot yang rusak akan melepaskan isinya ke dalam aliran darah meliputi mioglobin—protein pada jaringan otot, kalium–merupakan mineral penting untuk saraf dan jantung serta enzim kreatin kinase (CK)—enzim penanda kerusakan otot.

Dalam jumlah besar, mioglobin dapat merusak dan menyumbat aliran darah di ginjal sehingga menyebabkan cedera dan kerusakan ginjal akut. Kondisi tersebut dapat diperparah bila tubuh mengalami dehidrasi atau kekurangan cairan. Selain itu, kadar kalium yang meningkat tajam dapat menyebabkan gangguan irama jantung. Pada kasus yang berat, rabdomiolisis dapat memicu berbagai komplikasi hingga kondisi mengancam nyawa. Akan tetapi, tidak semua kasus berkembang menjadi komplikasi yang berbahaya bila mendapatkan penanganan yang cepat dan tepat.

Lalu, Siapa saja yang rentan?
Aktivitas fisik mendadak yang belum pernah dilakukan sebelumnya, peningkatan
intensitas mendadak, repetisi tinggi, aktivitas berkepanjangan, merupakan faktor risiko utama terjadinya kondisi tersebut. Dehidrasi atau kekurangan cairan dapat memperburuk kondisi tubuh. Beberapa faktor lainnya yang perlu diperhatikan yaitu bagaimana keadaan tubuh saat berlatih, kerentanan masing masing individu, faktor lingkungan seperti suhu panas yang rentan terhadap dehidrasi, penyakit yang sedang dialami, penyakit bawaan, konsumsi alkohol, konsumsi obat-obatan tidak sesuai indikasi. Perlu dipahami bahwa tidak hanya pemula saja yang rentan terhadap kondisi ini namun orang yang rutin berolahraga pun juga dapat mengalami rabdomiolisis.

Kenali gejala dan tandanya!
Waspadai gejala dan tanda-tanda berikut: 1) Nyeri otot jauh lebih berat dan lebih parah
daripada yang diperkirakan atau semakin memburuk bukannya membaik; 2) kelemahan otot yang membuat kesulitan berjalan, bangkit dari kursi, mengangkat lengan, atau ketidakmampuan untuk menaiki tangga; 3) urine berwarna coklat tua seperti teh atau cola; serta jumlah urine yang berkurang secara nyata. 4) Waspadai pula paha, betis, atau lengan yang tampak bengkak, terasa lebih penuh atau keras disertai dengan nyeri menetap atau semakin berat hingga sulit digerakkan. Kondisi ini tidak boleh dianggap kram biasa. Kram biasa umumnya berupa otot mendadak “mengunci” selama beberapa detik hingga menit lalu mengendur dengan nyeri yang perlahan membaik. Tidak semua pasien mengalami seluruh gejala ini. Gejala dapat muncul beberapa jam hingga beberapa hari setelah aktivitas. Urin gelap bisa saja tidak muncul. Namun, bukan berarti pula warna urine normal cukup menyingkirkan rabdomiolisis.
Ingat! Bahaya muncul jika tanda-tanda tersebut diabaikan, latihan tetap dilanjutkan, atau penanganan medis ditunda hingga berhari-hari.

Kapan harus memeriksakan diri?
Segera lakukan pemeriksaan ke rumah sakit bila Anda mengalami nyeri hebat,
pembengkakan pada anggota tubuh, urine berwarna gelap atau seperti teh, buang air kecil sangat sedikit, tidak mampu bergerak normal seperti biasanya, kelemahan pada anggota gerak tubuh, linglung, pingsan, maupun mengalami jantung berdebar. Tenaga kesehatan akan melakukan wawancara medis terkait keluhan, gejala klinis, riwayat aktivitas, dilanjutkan dengan pemeriksaan fisik hingga pemeriksaan penunjang bila diperlukan. Pemeriksaan penunjang berupa pemeriksaan darah untuk menilai kadar Creatinine Kinase, fungsi ginjal, elektrolit, serta pemeriksaan urine. Secara garis besar, penanganan rabdomiolisis melipuyi menghentikan pemicu, memenuhi kebutuhan cairan, dan tatalaksana komplikasi yang terjadi.
Berlatih aman, bukan takut bergerak!
Olahraga tetap menjadi salah satu investasi kesehatan terbaik. Lakukan secara bertahap
dengan meningkatkan frekuensi, beban, intensitas, durasi secara perlahan. Ingat berikan jeda dan waktu pemulihan bagi tubuh pasca olahraga. Jaga status hidrasi dengan minum air tanpa memaksakan diri minum dalam jumlah berlebihan dan perhatikan kondisi cuaca. Tidak disarankan berolahraga intensitas tinggi saat cuaca panas. Dengarkan sinyal tubuh dan tunda olahraga ketika sedang sakit. Konsultasi dengan dokter terlebih dahulu terkait konsumsi obatobatan maupun suplemen. Langkah ini bertujuan untuk mencegah risiko terjadinya cedera dan dampak buruk lainnya bagi tubuh. Jangan memaksakan diri hanya karena tekanan lingkungan sekitar atau ambisi diri untuk mencapai target dalam waktu singkat. Kemajuan bukan diukur dari seberapa jauh tubuh dipaksa, melainkan dari kebugaran yang meningkat tanpa mengabaikan tanda bahaya.

Pesan: Tulisan ini bertujuan untuk mengedukasi bukan sebagai acuan untuk diagnosis mandiri. Bila terdapat gejala yang telah disebutkan ataupun kondisi tubuh dirasa tidak baik setelah berolahraga, lakukanlah pemeriksaan ke fasilitas kesehatan.**

Referensi:
Bosch, X., Poch, E. dan Grau, J.M. (2009) ‘Rhabdomyolysis and acute kidney injury’, New England Journal of Medicine, 361(1), hlm. 62–72. Tersedia di:
https://doi.org/10.1056/NEJMra0801327.
Centers for Disease Control and Prevention, National Institute for Occupational Safety and Health (CDC/NIOSH) (2024)
Rhabdomyolysis and work. Tersedia di:
https://www.cdc.gov/niosh/rhabdo/about/index.html (Diakses: 5 Oktober 2026).
Direktorat Jenderal Kesehatan Lanjutan, Kementerian Kesehatan Republik Indonesia (2022) Rhabdomiolisis. Jakarta: Kementerian Kesehatan RI. Tersedia di:
https://keslan.kemkes.go.id/view_artikel/1858/rhabdomiolisis (Diakses: 5 Oktober 2026).
Kim, J., Lee, J., Kim, S., Ryu, H.Y., Cha, K.S. dan Sung, D.J. (2016) ‘Exercise-induced
rhabdomyolysis mechanisms and prevention: a literature review’, Journal of Sport and Health Science, 5(3), hlm. 324–333. Tersedia di: https://doi.org/10.1016/j.jshs.2015.01.012. Kodadek, L., Carmichael, S.P. II, Seshadri, A., Pathak, A., Hoth, J., Appelbaum, R., Michetti,
C.P. dan Gonzalez, R.P. (2022)  ‘Rhabdomyolysis: an American Association for the Surgery of Trauma Critical Care Committee clinical consensus document’, Trauma Surgery & Acute Care Open, 7(1), e000836. Tersedia di: https://doi.org/10.1136/tsaco-2021-000836.
O’Connor, F.G., Raleigh, M. dan Oh, R. (2025) Clinical practice guideline for the management of exertional rhabdomyolysis in warfighters. Bethesda, MD: Consortium for Health and Military Performance (CHAMP), Uniformed Services University. Tersedia di:
https://champ.usuhs.edu/sites/default/files/2025-09/WHEC_Clinical_Practice_Guidelines_ER.pdf (Diakses: 5 Oktober 2026).
Rawson, E.S., Clarkson, P.M. dan Tarnopolsky, M.A. (2017) ‘Perspectives on exertional rhabdomyolysis’, Sports Medicine, 47(Suppl. 1), hlm. 33–49. Tersedia di:
https://doi.org/10.1007/s40279-017-0689-z

Pos terkait