Tahun Asta Cita, Pariwisata Berkelanjutan Jadi Fokus Diskusi Publik

Beritafajartimur.com (Denpasar) — Pengembangan pariwisata yang berkelanjutan dan berbasis budaya menjadi fokus diskusi publik dalam rangka refleksi dua tahun pemerintahan Presiden Prabowo Subianto dan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka. Kegiatan ini menjadi ruang bertukar gagasan mengenai tantangan pariwisata sekaligus pentingnya keterlibatan masyarakat dalam menjaga masa depan destinasi.

Diskusi publik bertajuk *“Refleksi 2 Tahun Asta Cita: Menggali Visi Pariwisata Berkelanjutan dan Berbasis Budaya”* berlangsung di Kayman Resto, Denpasar, Bali, Minggu (25/10/2026). Kegiatan menghadirkan aktivis pemuda Hindu Bali I Kadek Nova Semadi dan Direktur Lanskap Bali I Wayan Agus Pebriana, dengan Gusti Ngurah Arya Pratama Putra sebagai moderator.

Pembahasan mencakup pengembangan pariwisata berkualitas, pemerataan manfaat ekonomi, penguatan desa wisata, persoalan lingkungan, dan perlindungan budaya. Pada akhir kegiatan, rangkaian acara ditutup dengan pembacaan Deklarasi Pemuda Bali.

## Diskusi Soroti Pemerataan Pariwisata

Dalam sesi diskusi, para narasumber menyoroti aktivitas pariwisata yang masih terkonsentrasi di kawasan selatan Bali. Sementara itu, daerah lain seperti Buleleng, Karangasem, dan Bangli memiliki potensi wisata yang dapat dikembangkan sesuai karakteristik masing-masing.

I Kadek Nova Semadi menilai pengembangan pariwisata perlu mengangkat keunggulan lokal agar setiap wilayah memiliki daya tarik tersendiri. Potensi wisata spiritual, perkebunan, budaya, dan edukasi dapat dikembangkan untuk memperluas kesempatan ekonomi sekaligus memperkenalkan keragaman Bali.

Pengembangan desa wisata juga menjadi salah satu topik pembahasan. Desa memiliki potensi melalui tradisi, seni, alam, serta kehidupan masyarakat sehari-hari. Namun, pengembangan tersebut perlu didukung akses transportasi, infrastruktur, promosi, dan keterlibatan masyarakat dalam pengelolaan.

Selain pemerataan destinasi, diskusi menyoroti pentingnya memperkuat UMKM, koperasi, dan pelaku usaha lokal. Langkah tersebut dinilai dapat membantu memastikan manfaat ekonomi dari kegiatan pariwisata lebih banyak dirasakan oleh masyarakat di daerah tujuan wisata.

## Menjaga Keseimbangan Ekonomi, Budaya, dan Lingkungan

Direktur Lanskap Bali I Wayan Agus Pebriana menekankan bahwa keberhasilan pariwisata perlu dilihat dari kualitas pengalaman wisatawan dan kontribusinya terhadap masyarakat, bukan semata-mata dari jumlah kunjungan.

“Pertumbuhan pariwisata nasional tidak bisa lagi diukur dari berapa banyak orang datang, tapi dari seberapa lama mereka tinggal, seberapa dalam mereka menghargai budaya, dan seberapa besar manfaatnya kembali ke masyarakat lokal. Bali lestari adalah kunci, tapi Indonesia tidak boleh hanya Bali saja,” ujarnya.

Pembahasan juga menyoroti tantangan lingkungan, antara lain alih fungsi lahan, persoalan tata ruang, pengelolaan sampah, dan tekanan terhadap kawasan pesisir. Para narasumber menekankan perlunya pengawasan pembangunan serta kepatuhan terhadap aturan agar aktivitas ekonomi tidak mengabaikan kelestarian lingkungan.

Dalam aspek budaya, tradisi sakral dan tempat suci perlu dijaga dengan menghormati nilai spiritual serta ketentuan adat yang berlaku. Pengembangan pariwisata berbasis budaya diharapkan dapat memperkenalkan kekayaan lokal sekaligus menjaga keberlangsungannya dalam kehidupan masyarakat.

Nova Semadi menekankan bahwa upaya menjaga Bali membutuhkan keterlibatan berbagai pihak.

“Bali lestari membutuhkan kolaborasi: pemerintah, desa adat, pelaku usaha, seniman, dan wisatawan. Ini bukan tugas satu pihak, tapi tanggung jawab bersama untuk memastikan pariwisata tumbuh tanpa mencabut akar budayanya,” katanya.

Pandangan tersebut menegaskan pentingnya kerja bersama antara pemerintah, masyarakat, desa adat, pelaku usaha, komunitas budaya, dan generasi muda dalam membangun pariwisata yang bertanggung jawab.

## Ditutup dengan Pembacaan Deklarasi Pemuda Bali

Sebagai penutup rangkaian kegiatan, diskusi publik tersebut diakhiri dengan pembacaan Deklarasi Pemuda Bali. Pembacaan deklarasi menjadi bagian dari kegiatan yang menandai keterlibatan generasi muda dalam menyuarakan perhatian terhadap masa depan Bali.

Kehadiran deklarasi tersebut melengkapi diskusi mengenai pentingnya menjaga keberlanjutan pariwisata, melestarikan budaya, melindungi lingkungan, serta mendorong agar manfaat ekonomi pariwisata dapat dirasakan lebih luas oleh masyarakat lokal.

Melalui forum ini, generasi muda diharapkan dapat mengambil bagian dalam pengembangan pariwisata yang berkualitas dan berkelanjutan, baik melalui pelestarian budaya, penguatan potensi daerah, maupun kolaborasi dengan berbagai pemangku kepentingan.

Diskusi publik ini menjadi ruang untuk mempertemukan gagasan dan kepedulian terhadap arah pembangunan pariwisata. Dengan keterlibatan berbagai pihak, pariwisata diharapkan dapat terus berkembang sebagai penggerak ekonomi sekaligus menjaga alam dan budaya yang menjadi bagian penting dari identitas Bali.(BFT/DPS/RED/Devy)

Pos terkait