Wasit Dipukul hingga Dilarikan ke RS, Ketua PSSI Mabar Dorong Sanksi Berat untuk Oknum Pelaku

Beritafajartimur.com (Labuan Bajo) Insiden kekerasan yang terjadi dalam pertandingan PSSI Cup II mendapat sorotan serius dari Ketua PSSI Kabupaten Manggarai Barat.

Ia menyebut aksi oknum yang masuk ke lapangan dan melakukan pemukulan terhadap wasit sebagai tindakan memalukan bagi dunia sepak bola daerah.

Menurutnya, insiden tersebut sama sekali tidak pernah diharapkan terjadi dalam kompetisi yang merupakan bagian dari program kerja organisasi.

“Ini tindakan yang memalukan, memalukan bagi persepakbolaan Kabupaten Manggarai Barat. Tentu kejadian seperti ini tidak pernah kita inginkan bersama,” tegasnya.

Ia menjelaskan, PSSI Cup II merupakan salah satu program kerja yang telah diputuskan melalui Kongres Biasa PSSI pada awal periode kepengurusan keduanya. Kompetisi tersebut menjadi kelanjutan dari PSSI Cup pertama yang digelar pada 2022.

Saat itu, PSSI Cup pertama difokuskan pada kelompok usia U-17 sebagai bagian dari persiapan mengikuti kompetisi Suratin U-17.

Sementara PSSI Cup II menjadi agenda kompetisi yang kembali dijalankan dalam program kerja periode kepengurusan saat ini.

Namun, di tengah jalannya kompetisi, terjadi insiden yang mengejutkan. Seorang oknum disebut masuk ke lapangan dan melakukan tindakan kekerasan terhadap wasit.

Ketua PSSI mengaku kejadian itu berlangsung sangat cepat dan tidak pernah diperkirakan sebelumnya.

“Kejadiannya sangat cepat. Kami tidak pernah menduga ada oknum yang masuk ke lapangan kemudian mengambil tindakan sendiri,” katanya.

Ia menegaskan PSSI tidak akan tinggal diam. Pengurus organisasi, kata dia, akan mengambil langkah sesuai mekanisme dan ketentuan yang berlaku dalam organisasi sepak bola.

PSSI akan menyerahkan penanganan disiplin kepada Komisi Disiplin (Komdis) yang memiliki kewenangan menjatuhkan sanksi berdasarkan kode etik dan regulasi organisasi.

“Kami harus mengambil tindakan sesuai kode etik yang ada di PSSI. Semua akan mengikuti aturan dan mekanisme yang berlaku. Kami menyerahkan sepenuhnya kepada Komisi Disiplin karena merekalah yang berwenang menentukan sanksi,” ujarnya.

Menurutnya, tindakan kekerasan terhadap perangkat pertandingan merupakan pelanggaran serius dalam sepak bola. Karena itu, PSSI akan mendorong adanya sanksi tegas terhadap pihak yang terbukti terlibat.

Ia bahkan menyatakan secara tegas telah meminta jajaran pengurus untuk mendorong pemberian sanksi berat terhadap oknum tersebut, termasuk kemungkinan larangan terlibat dalam kompetisi sepak bola di masa mendatang.

“Kalau memang terbukti berdasarkan pemeriksaan dan ketentuan organisasi, kami mendorong agar diberikan sanksi yang tegas. Bahkan kami meminta agar oknum yang melakukan tindakan seperti ini tidak lagi membawa atau terlibat dalam tim pada kompetisi ke depan,” tegasnya.

Wasit Dibawa ke Rumah Sakit

Insiden tersebut juga mendapat perhatian langsung dari Ketua PSSI karena korban merupakan bagian dari keluarga besar persepakbolaan daerah.

Wasit yang menjadi korban pemukulan disebut sempat mengalami kondisi yang membutuhkan penanganan medis.

Ketua PSSI mengaku dirinya ikut membawa korban untuk mendapatkan pertolongan setelah insiden terjadi.

“Saya sendiri melihat langsung kondisinya.
Setelah kejadian, saya ikut membawa dia untuk mendapatkan penanganan. Ini sangat kami sayangkan karena tidak pernah terbayangkan kejadian seperti ini bisa terjadi di lapangan,” katanya.

Ia mengatakan para perangkat pertandingan, pemain, pelatih hingga klub merupakan bagian dari ekosistem sepak bola yang seharusnya sama-sama menjaga kompetisi.

Karena itu, ia menilai tindakan kekerasan tidak dapat dibenarkan dengan alasan apa pun, termasuk karena ketidakpuasan terhadap keputusan wasit di lapangan.

Selain proses organisasi, PSSI juga mendukung langkah keluarga korban apabila kasus tersebut dibawa ke ranah hukum.

“Kami mendukung dan setuju apabila pihak keluarga membawa persoalan ini ke ranah hukum. Kita melihat sendiri kondisi korban setelah kejadian. Kekerasan seperti ini tidak bisa dianggap biasa,” ujarnya.

Sepak Bola Harus Jadi Hiburan, Bukan Arena Kekerasan

Ketua PSSI berharap insiden tersebut menjadi pelajaran penting bagi seluruh klub, pemain, pelatih, suporter dan pihak lain yang terlibat dalam kompetisi sepak bola.

Menurutnya, PSSI Cup seharusnya menjadi ruang untuk membangun sportivitas, mempererat persaudaraan dan menjadi hiburan bagi masyarakat, bukan justru melahirkan kericuhan.

“Sepak bola itu seharusnya membawa damai. Ini hiburan bagi masyarakat dan tempat kita semua bersilaturahmi di lapangan hijau,” katanya.

Ia juga menyoroti stigma yang selama ini muncul bahwa setiap penyelenggaraan PSSI Cup identik dengan keributan.

Menurutnya, persepsi tersebut harus dihentikan melalui komitmen bersama untuk menjalankan pertandingan secara sportif.

“Jangan sampai ada stigma bahwa PSSI Cup selalu ribut. Ini menjadi catatan serius bagi kita semua. Kompetisi ini harus berjalan dengan baik dan menjunjung tinggi sportivitas serta fair play,” tegasnya.

Ia mengingatkan bahwa seluruh pihak harus mampu mengendalikan emosi dalam pertandingan. Ketidakpuasan terhadap keputusan pertandingan, menurutnya, tidak boleh berujung pada kekerasan.

“Sportivitas dan fair play memang gampang diucapkan, tetapi harus dibuktikan di lapangan. Bermain harus memakai hati nurani, bukan emosi. Jangan karena marah sesaat kemudian melakukan tindakan yang merusak pertandingan dan mencederai orang lain,” pungkasnya.

PSSI berharap insiden kekerasan tersebut menjadi yang terakhir dalam kompetisi sepak bola di Kabupaten Manggarai Barat.

Ke depan, seluruh pihak diminta menjadikan sepak bola sebagai sarana persatuan dan hiburan masyarakat, dengan tetap menghormati pemain, pelatih, perangkat pertandingan dan seluruh pihak yang terlibat.(BFT/LBJ/RED/Yoflan)

Pos terkait