Penulis: dr. Tjokorda Istri Apriliyanty Pemayun. S.Ked.
Tubuh ramping kerap dianggap sebagai tanda bahwa hormon dan metabolisme tubuh baik-baik saja. Pandangan serupa juga kerap dikaitkan dengan PCOS (polycystic ovary syndrome) yaitu gangguan hormonal pada wanita usia subur yang dapat mempengaruhi kesuburan. Seolah-olah kondisi ini hanya berhubungan dengan kelebihan berat badan.
Anggapan inilah yang perlu diluruskan. Kelebihan berat badan bukan syarat pasti seseorang mengalami PCOS, sehingga perempuan dengan berat badan normal pun tetap perlu waspada terhadap gejalanya, karena tubuh ramping tidak selalu menjamin hormon dan metabolisme yang baik.
Pada Mei 2026, istilah PCOS atau polycystic ovary syndrome diubah menjadi polyendocrine metabolic ovarian syndrome atau PMOS yang telah disepakati di konsensus global tahun 2026.
Perubahan nama ini mengingatkan kita bahwa kondisi tersebut bukan hanya berkaitan dengan “kista” di ovarium atau masalah kesuburan, namun juga melibatkan hormon dan proses
metabolisme tubuh yang kompleks. Diperkirakan 70% perempuan dengan kondisi ini belum menyadarinya atau ter diagnosis. Keluhannya dapat beragam, mulai dari haid/datang bulan yang jarang atau tidak teratur hingga tidak haid selama beberapa bulan, tumbuhnya rambut kasar berlebih di wajah atau tubuh, jerawat yang sulit reda, hingga rambut kepala yang rontok.
Gejala-gejala tersebut tidak selalu muncul bersamaan. PMOS juga dikaitkan dengan risiko diabetes tipe 2, gangguan kolesterol, tekanan darah tinggi, dan risiko masalah kesehatan mental yang lebih tinggi. Kondisi ini bukan berarti setiap orang dengan PMOS pasti akan mengalami masalah tersebut. Diagnosis PMOS didasarkan pada gejala keluhan dan hasil pemeriksaan yang menyeluruh.
Mengapa perempuan bertubuh ramping tetap berisiko mengalami PMOS?
Berbagai faktor dapat berperan dalam progresi PMOS, salah satunya merupakan
resistensi insulin yang dapat terjadi pada perempuan bertubuh ramping. Insulin adalah hormon yang diproduksi oleh organ pankreas untuk membantu sel tubuh menggunakan glukosa dan menjaga kadar gula darah dalam kondisi normal. Pada kondisi resistensi insulin, sel tubuh kurang responsif terhadap insulin sehingga pankreas memproduksi lebih banyak insulin. Kadar gula darah bisa tetap normal pada awalnya, meskipun tubuh sudah menghasilkan insulin lebih banyak. Artinya, berat badan normal saja tidak cukup untuk menyingkirkan kemungkinan gangguan metabolisme. Kadar insulin yang tinggi dapat mendorong ovarium menghasilkan lebih banyak hormon androgen—kelompok hormon yang juga dimiliki perempuan.
Kadar hormon androgen yang tinggi dapat mengganggu pematangan folikel di ovarium. Folikel adalah kantong kecil berisi sel telur yang berkembang dan matang setiap siklus. Jika proses ini terhambat, sel telur tidak dilepaskan secara teratur (ovulasi), sehingga ovulasi menjadi jarang atau bahkan tidak terjadi. Inilah salah satu mekanisme yang dapat menjelaskan haid tidak teratur dan dapat menyebabkan masalah kesuburan pada perempuan dengan PMOS. Selain itu, kelebihan hormon androgen juga dapat memicu tumbuhnya rambut kasar berlebih di wajah atau tubuh, keluhan pada kulit seperti jerawat membandel yang tidak kunjung sembuh. Gaya hidup juga berpengaruh pada keseimbangan hormon dan metabolisme tubuh. Stress, asupan makan, pola tidur dan aktivitas fisik yang kurang ataupun berlebihan dapat memengaruhi keseimbangan hormon dan kerja insulin, sehingga berisiko memperberat gejala yang sudah ada.
Perlu dipahami bahwa gejala yang muncul dapat berbeda pada setiap orang. Gejala yang tampak saja tidak dapat memastikan ataupun menyingkirkan PMOS; penegakkan diagnosis memerlukan penilaian secara menyeluruh. Resistensi insulin bukan satu-satunya penyebab PMOS, dan tidak semua perempuan ramping dengan PMOS mengalaminya. Namun, tubuh ramping atau belum terdeteksinya resistensi insulin juga tidak menjamin hormon dan metabolisme berfungsi normal. Oleh karena itu, penegakkan diagnosis PMOS dinilai dari keseluruhan gejala dan hasil pemeriksaan kesehatan, bukan dari bentuk tubuh semata saja.
Kapan perlu memeriksakan diri?
Periksakan diri dan konsultasi bila terdapat gangguan haid/menstruasi yang tidak
teratur bahkan hingga tidak menstruasi dalam beberapa bulan, tumbuhnya rambut kasar berlebih pada wajah atau badan, keluhan kulit seperti jerawat berlebih, rambut menipis. Selain itu perlu diperhatikan, bila kulit leher atau ketiak yang menghitam dan menebal (acanthosis nigricans). Tanda terakhir ini merupakan penanda klasik resistensi insulin. Namun perlu dipahami bahwa gejala yang muncul belum tentu menandakan terjadinya PMOS. Diagnosis membutuhkan penilaian gejala, riwayat, pemeriksaan, dan penyingkiran penyebab lain. Pemeriksaan sejak dini memungkinkan penanganan yang tepat untuk mengendalikan gejala
dan menurunkan risiko gangguan metabolik jangka panjang.
Bagaimana cara mengatasinya?
Kabar baiknya, risiko gangguan metabolisme dapat dikendalikan. Gaya hidup, pola makan sehat, istirahat yang cukup, dan aktivitas fisik yang teratur sangatlah penting. Menurut WHO, orang dewasa usia 18–64 tahun dianjurkan melakukan aktivitas fisik intensitas sedang minimal 150–300 menit per minggu, atau intensitas tinggi minimal 75–150 menit per minggu, atau kombinasi keduanya. Aktivitas penguatan otot dianjurkan dilakukan minimal 2 hari per minggu. Suatu pedoman internasional juga menganjurkan hal serupa, yaitu minimal 150 menit per minggu intensitas sedang atau 75 menit intensitas tinggi, dengan latihan penguatan otot pada 2 hari yang tidak berurutan dalam seminggu. Latihan penguatan otot dapat membantu tubuh mengelola gula darah. Olahraga juga dapat mendukung kesehatan metabolisme dalam jangka panjang.
Mulailah beraktivitas secara bertahap. Jangan melakukan olahraga dengan intensitas tinggi secara mendadak. Olahraga yang terlalu berat, peningkatan frekuensi dan intensitas latihan terlalu cepat dapat menyebabkan cedera atau memberi tekanan berlebihan pada tubuh, yang berisiko mengganggu keseimbangan hormon. Selain aktivitas fisik, asupan makanan juga penting. Kurangi minuman manis, minuman kemasan, dan minuman bersoda; pilih air putih sebagai minuman utama, perbanyak sayuran, sumber protein, dan makanan berserat. Istirahat yang cukup juga tidak kalah penting. Kurang tidur dan stres dapat memperburuk keseimbangan hormon serta menyulitkan pengelolaan berat badan dan meningkatkan risiko resistensi insulin pada perempuan dengan PMOS.
Bila terdapat gejala yang telah dijelaskan, konsultasikan diri ke tenaga kesehatan. Pemeriksaan secara komprehensif membantu memastikan bahwa gangguan keseimbangan hormon dan
metabolisme dapat dideteksi lebih awal sebelum berkembang menjadi komplikasi jangka panjang. Penanganan yang komprehensif dapat melibatkan kolaborasi antara dokter kandungan, dokter penyakit dalam, dan ahli gizi.
Ingat, setiap orang memiliki kondisi yang berbeda, sehingga penanganannya tidak selalu sama.
Oleh karena itu, penanganan PMOS dilakukan secara bertahap dan disesuaikan dengan keluhan, risiko gangguan metabolisme, dan kondisi masing-masing. Mulailah dengan kebiasaan sehat yang realistis dan dapat Anda jalani dalam jangka panjang meliputi penerapan pola makan seimbang, beraktivitas fisik secara teratur dan bertahap, istirahat yang cukup serta menjaga berat badan tetap sehat sesuai kondisi masing-masing.**
Pesan: Artikel ini disusun sebagai media edukasi, bukan sebagai alat untuk diagnosis mandiri. Bila Anda mengalami keluhan yang telah disebutkan atau keluhan lainnya, periksalah ke fasilitas kesehatan terdekat.
Daftar Referensi
Bull, F.C., Al-Ansari, S.S., Biddle, S., Borodulin, K., Buman, M.P., Cardon, G. et al. (2020) ‘World Health Organization
2020 guidelines on physical activity and sedentary behaviour’, British Journal of Sports Medicine, 54(24), pp. 1451–
1462. doi:10.1136/bjsports-2020-102955.
Cowan, S., Lim, S., Alycia, C., Pirotta, S., Thomson, R.L., Gibson-Helm, M., Blackmore, R., Naderpoor, N., Bennett, C.,
Ee, C., Rao, V., Mousa, A., Alesi, S. and Moran, L. (2023) ‘Lifestyle management in polycystic ovary syndrome – beyond
diet and physical activity’, BMC Endocrine Disorders, 23, article 14. doi:10.1186/s12902-022-01208-y.doi
Hasan, M. et al. (2022) “Prevalence and associated risk factors for mental health problems among patients with polycystic
ovary syndrome in Bangladesh: A nationwide cross—Sectional study,”
PLoS ONE, 17(6).
doi:10.1371/journal.pone.0270102.
Monash University (2026) Polyendocrine metabolic ovarian syndrome: New name to improve diagnosis and care of
condition affecting 170 million women worldwide, 13 May. Available at:
https://www.monash.edu/medicine/news/latest/2026-articles/polyendocrine-metabolic-ovarian-syndrome-new-nameto-improve-diagnosis-and-care-of-condition-affecting-170-million-women-worldwide (Accessed: October 2026)
Murthi, A.K., Wratsangka, R., Sisca, S. and Kurniawan, Y. (2025) ‘Sindroma ovarium polikistik (PCOS) pada remaja wanita
di Indonesia: Tantangan baru dalam kesehatan reproduksi wanita’, Jurnal Biomedika dan Kesehatan, 8(3), pp. 245–249.
doi:10.18051/jbiomedkes.2025.v8.245-249.
Prosperi, S. and Chiarelli, F. (2025) ‘Insulin resistance, metabolic syndrome and polycystic ovaries: an intriguing
conundrum’, Frontiers in Endocrinology, 16, article 1669716. doi:10.3389/fendo.2025.1669716.
Teede, H.J., Tay, C.T., Laven, J., Dokras, A., Moran, L.J., Piltonen, T.T., Costello, M.F., Boivin, J., Redman, L.M., Boyle,
J.A., Norman, R.J., Mousa, A. and Joham, A.E., on behalf of the International PCOS Network (2023) ‘Recommendations
from the 2023 International Evidence-based Guideline for the Assessment and Management of Polycystic Ovary
Syndrome’, Human Reproduction, 38(9), pp. 1655–1679. doi:10.1093/humrep/dead156.pmc.ncbi.nlm.nih
Teede, H.J., Bahri Khomami, M., Morman, R., Laven, J.S.E., Joham, A.E., Costello, M.F., Patil, M., Rees, D.A., Berry, L.,
Cree, M.G., Zhao, H., Norman, R.J., Dokras, A. and Piltonen, T., on behalf of the Global Name Change Consortium
(2026) ‘Polyendocrine metabolic ovarian syndrome, the new name for polycystic ovary syndrome: a multistep global
consensus process’,
The Lancet, 407(10545), pp. 2329–2339. doi:10.1016/S0140-6736(26)00717-
8.pubmed.ncbi.nlm.nih
World Health Organization (2026) Polycystic ovary syndrome, 22 January. Available at: https://www.who.int/newsroom/fact-sheets/detail/polycystic-ovary-syndrome (Accessed: October 2026).who
Zhao, H., Zhang, J., Cheng, X., Nie, X. and He, B. (2023) ‘Insulin resistance in polycystic ovary syndrome across various
tissues: an updated review of pathogenesis, evaluation, and treatment’, Journal of Ovarian Research, 16, article 9.**





