Siswa SMA Negeri 2 Denpasar Raih Medali Emas dalam Lomba Tingkat Internasional di Thailand

BERITAFAJARTIMUR.COM (Denpasar-BALI) | Tak main-main, Siswa SMA Negeri 2 Denpasar berhasil mendapatkan medali emas (Gold Medal) dalam lomba tingkat Internasional yang diadakan di Bangkok Thailand yang berlangsung dari tanggal 2 s.d. 6 Februari 2024 yaitu TID (Thailand Inventors Day) 2024 di BITEC, Bangkok International Trade & Exhibition Centre.

Mereka terdiri dari Ni Made Regina Maheswari, Ni Komang Diah Pramestiswari dan Ni Luh Putu Yuni Lestari dibina oleh Ni Wayan Rustini, S.Pd., membawakan materi lomba “Unlocking the potential of cat’s whisker leaves : A papersoap innovation for sustainable hygiene solutions.”

Dimana untuk menghasilkan formula ini ketiga siswa berprestasi ini berhasil membuat Paper soap ini dari bahan dasar sabun yaitu bahan kimia organik yang ramah terhadap lingkungan dan ekstrak daun kumis kucing.

Untuk menjadi produk siap pakai kemudian proses pembuatan mengalami 2 proses, yaitu ekstraksi dengan metode meserasi lalu persiapan bahan basic sabun kemudian ekstrak dan bahan yang disiapkan dicampurkan. Hasil campuran tersebut berupa cairan, lalu diratakan diatas water soluble paper, selanjutnya dikeringkan selama 3 hari dalam ruangan kedap udara sehingga tidak terkontaminasi.

Dalam penjelasannya, saat diwawancara media online Beritafajartimur.com, Ni Made Regina Maheswari, Ni Komang Diah Pramestiswari dan Ni Luh Putu Yuni Lestari didampingi Guru Pembina Ni Wayan Rustini, S.Pd., mengatakan,” Untuk lomba yang kita ikuti itu diadakan setiap tahun dari tanggal 2 sampai dengan tanggal 6 Februari di Thailand, di kawasan Kota Bang Na yang agak jauh dari Bangkok. Untuk lombanya ini, memang mengutamakan inovasi atau penelitian-penelitian dari semua kalangan umum, termasuk dari SD hingga tingkat mahasiswa bahkan yang sudah lebih dari mahasiswa juga bisa ikut daftar di lomba ini, jadi kita dibedakan dari berbagai macam kategori untuk mendapatkan penghargaan-penghargaan,” jelas Ni Made Regina Maheswari di ruang Kepala Sekolah setempat pada Selasa, 13 Februari 2024.

Lebih jauh dikatakan Regina,” Kita membuat paper soap dimana paper soap itu merupakan sabun berbentuk kertas yang berfungsi untuk lebih ke travel friendly dan point dari produk kita itu kita menambahkan ekstrak daun kumis kucing, dimana fungsi dari daun kumis kucing itu untuk menjadi anti-bakterial. Mengapa kita memilih untuk membuat paper soap, dikarenakan pada zaman sekarang orang-orang ingin menggunakan barang-barang yang lebih praktis, tetapi dengan fungsi yang sama, dengan barang-barang yang lebih rumit. Selain itu, di produk kami, kami tidak menggunakan bahan-bahan yang dapat mencemari lingkungan. Jadi produk kami itu hanya menggunakan bahan-bahan yang bersifat organik,” ungkapnya.

Ada sekitar lebih dari 600 karya dari seluruh negara yang ikut dalam kompetisi ini yang ditampilkan dalam agenda lomba tahunan ini. Sudah sangat tentu persaingan sangat ketat. “Untuk persaingannya itu bisa dibilang sangat ketat, karena kalau menurut data yang sudah di berikan panitia, di lomba tersebut terdapat lebih dari 600 karya. Dimana kemungkinan besar perkategorian. Dan perkategoriannya itu rata-rata lebih dari 70 karya, yang membuat persaingan kita semakin ketat untuk mendapatkan medali emas, medali perak, atau medali perunggu. Ini tergantung juga sama jurinya, karena jurinya itu kan bertanya tentang detail produk kita seperti apa, hingga bagaimana kedepannya, upgrade inovasi seperti apa. Apalagi kita bertandingnya bukan hanya seumuran, kita juga akan bertanding dengan yang lebih tua, itu membuat kita tertantang karena yang lebih tua pasti lebih memiliki lebih banyak pengalaman di banding kita,” papar Regina.

Setiap kategori lomba disebutkan Regina ada 3 juri yang memberikan penilaian. “Kita mendapatkan 3 juri, untuk kita presentasi dan ditanyai beberapa soal, dan jurinya telah melihat produk dan mencoba produk kita, yang membuat mereka terlihat excited karena terbukti juga produk kita yaitu paper soap (sabun kertas, red) kita sudah teruji sebagai bahan anti bakterial. Dan produk ini juga sudah bisa menggantikan sabun cair untuk digunakan sebagai sabun cuci tangan. Sehingga pada akhirnya tim juri menetapkan kita mendapatkan medali emas pada saat pengumuman juara,” ungkapnya dengan nada gembira.

“Untuk persiapannya kita banyak sekali dari awal kita mempersiapkan dari bahan-bahannya, terutama dari idenya, kita mempunyai ide awalnya itu kita ingin membuat kertas yang bisa tumbuh, namun untuk ide itu sepertinya terlalu sulit untuk kita mengembangkannya,” timpal Ni Komang Diah Pramestiswari.

“Bahan-bahan yang kami buat itu, pertama kita pastinya menggunakan daun kumis kucing. Daun kumis kucingnya kita ekstraksi, dan kami menggunakan fragrance yaitu orchid atau anggrek, setelah kami membuat liquid, kami campurkan ekstrak yang tadi kami buat, ekstrak daun kumis kucing itu kami campurkan ke liquid soap nya, selanjutnya untuk membuat kertasnya kami menggunakan water soluble paper, kami ratakan kedalam liquid soap yang sudah di campurkan dengan ekstrak daun kumis kucing tadi, kami tunggu selama 3 hari di dalam ruangan yang kedap udara agar tetap bersih dan steril. Akhirnya menghasilkan paper soap yang berbentuk persegi panjang dengan ukuran 3x2cm, selanjutnya di taruh di wadah kecil,” tambah Ni Luh Putu Yuni Lestari.

Untuk mengikuti lomba, baik tingkat lokal, nasional maupun internasional, biasanya pembina di SMA Negeri 2 Denpasar mendapatkan undangan dari penyelenggara dan ada juga dibaca lewat situs-situs media massa. Hal tersebut diungkapkan Ni Wayan Rustini, S.Pd., mewakili Kepala SMA Negeri 2 Denpasar, I Gede Eka Mahendra, S.Pd.,M.Pd.

“Saya sebagai pembina melakukan pembinaan terhadap anak-anak, dalam pembinaan tersebut kita menyodorkan lomba-lomba yang akan di adakan, kemudian kita memberikan tema dan anak-anak secara berkelompok, punya inisiatif sendiri-sendiri kita kasih kebebasan untuk menentukan ide-ide mereka. Dan bagi anak-anak yang kita bina rata-rata semua memiliki talenta baik, semua kreatif dan khusus untuk anak-anak ini memang secara mental sudah siap untuk di tingkat-tingkat internasional, selain di Thailand juga kemarin dari tingkat internasional juga sudah mengikuti IID (Indonesia Inventors Day) 2023 mendapat gold medal dan juga ikut di ISIF (international science and invention fair), dapat medali silver. Karena itu, tiap event itu kita usahakan inovasinya bagus,” tutur Ni Wayan Rustini, S.Pd.

Terkait persiapan dikatakan Ni Wayan Rustini,” Untuk mengikuti lomba ini persiapannya kira-kira 3 bulan, dari pemberitahuan lomba anak-anak sudah mulai, karena ini event tahunan, anak-anak sudah merancangnya dengan sebelumnya dan kita juga sudah mengajukan ke bapak Kepala sekolah bahwa kita menawarkan ada event internasional, beliau memberikan ijin dan anak-anak semakin semangat untuk mempersiapkan lomba-lomba yang di event internasional,” bebernya.

Menjawab rencana kedepan untuk produk paper soap yang dihasilkan anak didiknya apakah akan diproduksi massal dan bagaimana perlindungan terhadap produk ini apakah akan dibuatkan sertifikat hak milik?
“Untuk kedepannya kami akan membuat semacam sertifikat hak milik, nanti kita akan produksi dulu kecil-kecilan, nantikan ada marketingnya untuk mempromosikan setelah anak-anak ini dan lebih mengembangkan wirausahanya atau nanti diturunkan kepada adik kelasnya sehingga nantinya kumis kucing bisa dimodif menjadi seperti apa atau bisa juga bentuknya yang diubah,” ungkapnya.(Donny Parera).

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *