Dra. Cok Istri Mirah Kusuma Widiawati, M.Sos: Sekolah harus Menjaga Peradaban

BERITAFAJARTIMUR.COM (Denpasar-BALI) | Hari Raya Saraswati yang jatuh pada Sabtu, 22 Oktober 2022 di SMA 5 Denpasar dirayakan dengan menggelar persembahyangan bersama segenap civitas akademika sekolah setempat. Usai persembahyangan, dilaksanakan pentas seni berbagai tarian khas asli Bali seperti: Tari Rejang Renteng, Rejang Sutri, Rejang Dewa, Tari Baris, dan Tari Jauk. Bahkan ibu Kepala Sekolah SMA Negeri 5 Denpasar, Cok Istri Mirah Kusuma Widiawati juga meliuk-liuk turut serta menari.

Terkait hari Raya Saraswati yang pada tahun ini dilaksanakan menjelang adanya kegiatan bulan bahasa yang jatuh pada 28 Oktober 2022, Dra. Cokorda Istri Mirah Kusuma Widiawati, M.Sos., menjelaskan,” Kalau menurut pendapat saya, hari Saraswati itu setiap saat, mungkin harus berkembang pemahaman kita. Tapi intinya tetap, perkembangan pemahaman kita tentu berhubungan sama perkembangan zaman. Kalau zaman sekarang teknologinya canggih-canggih ya harus kesitu tetapi kata kunci yang harus kita pegang adalah bahwa yang harus dilakukan dunia pendidikan itu adalah karena adanya manusia-manusia yang dipengaruhi oleh perkembangan zaman dan teknologi yang ada.”

Sambungnya,” Jadi dengan demikian, satu kata kunci yang harus dilakukan menurut saya, sekolah itu tetap menjaga peradaban dunia. Itu dimulai dari sekolah, kemudian tingkat kota/kabupaten, Provinsi hingga peradaban berskala nasional. Peradaban itu penting lho. Karena, kalau kita orang yang beradab itu sudah berbeda. Nilai positifnya tinggi sekali. Jadi itu yang menjadi pedoman saya. Kalau saya bawa ke belakang terkait dengan ungkapan Ida Peranda Sidemen, beliau sudah almarhum. Beliau mengatakan, _yen sing ngelah karang carik maksudnya karang carik itu lahan di luar ya kita secara sosial ekonomi kaya gitu ya, jadi yen sing ngelah karang carik, carike pedidi tandurin, gitu lho. Jadi artinya begini, kalau kita berada pada tingkat sosial ekonomi kita sebagai orang ya miskin kita tidak mampu berbuat sesuatu di masa Covid sekarang ini. Apa yang kita miliki dalam diri kita itu yang ditanduri. Tanduri itu yang harus kita gali. Kita punya apa, kalau saya bawa ke manik astagina itu kan 8 hal yang ada dalam diri kita yang perlu kita cermati. Itu yang dilupakan orang tua atau orang yang merasa tua atau bapak/ibu guru,” beber Cok Istri Mirah Kusuma Widiawati.

Cok Istri Mirah Kusuma Widiawati menjelaskan bahwa manusia memiliki indera yang bisa digunakan untuk hal-hal positif. “Contohnya begini, kita punya mata. Mata ini untuk melihat, lihat lah yang baik-baik, jangan yang jelek-jelek dilihat. Kita punya bibir untuk berbicara. Berbicaralah dan berkata-kata lah yang baik. Kalau kita punya hidung bau-bauin lah yang baik-baik. Jangan bau yang tidak baik itu kita omongin. Ini merupakan kolaborasi antara panca indra kita yang jalan. Dan kalau kita punya tangan pakailah untuk bekerja. Jangan dipakai untuk mencuri. Kayak gitu lho. Jadi kita punya tangan, punya kaki, punya hidung, mata, mulut, dan telinga itu ada 8 lho semuanya. Jadi itulah yang dikatakan Ratu Peranda Sidemen. Yen sing ngelah karang carik, karang carik pedidi tandurin. Itu pemahamannya luas sekali lho,” jelasnya mengulang ungkapan Ratu Peranda Sidemen.

Pemerintah telah mencanangkan pendidikan karakter sebagai pondasi untuk membangun karakter anak bangsa kini dan masa mendatang. Hal tersebut harus diterapkan di sekolah-sekolah di tanah air. Karenanya, dalam konteks pendidikan karakter ini dijelaskan Cok istri Mirah Kusuma Widiawati, perlu ditanamkan sedini mungkin sehingga tidak terjadi seperti kasus yang menimpa salah satu sekolah yang didemo siswanya pada Kamis (20/10/2022) pagi lalu. Mereka kompak menuntut agar Kepala Sekolahnya untuk mundur dan tidak lagi menjadi kepala sekolah di sekolah tersebut karena siswanya tidak merasa nyaman setelah yang bersangkutan memimpin sekolah itu sejak 3 bulan lalu.

“Saya berharap pendidikan karakter itu diajarkan sejak kecil sehingga mereka paham mana yang boleh dan mana yang tidak boleh dilakukan. Dan apa yang saya katakan ini untuk mencegah kejadian yang dialami rekan kepala sekolah yang kebetulan perempuan seperti saya. Masa masih kecil-kecil sudah bisa demo. Itu kan sepertinya diberikan peluang itu. Kalau saya jangan diberikan peluang. Guru yang meredam. Sejelek apapun guru harus redam itu dan jangan diberikan mereka untuk berkembanglah. Ini malah membiarkan wartawan masuk untuk diekspos ya sudah kebablasan jadinya. Kalau perlu kasitahu wartawannya supaya Kepala Sekolahnya juga diwawancarai, supaya balance,” imbuh Cok.

Lebih lanjut Cok istri Mirah Kusuma Widiawati,” Kepala Sekolah itu mungkin sama dengan seorang Kepala Dinas. Begitu ada masalah harus cepat mengambil keputusan. Kemarin, saat ada masalah di sekolah, saya suruh tutup gerbang sekolah. Anak-anak saya kumpulkan, ga boleh pulang dulu. Saya berikan breefing di lapangan sekolah. Kebetulan dilihat sama Babinsa. Lalu Babinsa cari saya langsung ke lapangan saat breefing itu. Dia katakan…wih ibu cepet sekali menangani masalah ini. Justru sekolah lain ndak mau, bahkan nutupin. Saya nggak, saya katakan apa yang terjadi. Ini lho ternyata detektif dari Kota Denpasar Selatan bahwa SMA 5 ga ada masalah. Emang ga ada masalah. Cuma karena di video itu fotonya ada murid kita gitu aja masalahnya. Tapi sudah saya selesaikan. Karena kalau tidak selesai masalahnya nanti akan ada orang bertanya tentang masalah itu,” bebernya.

Kembali ke masalah pendidikan karakter, dikatakan Cok, pihaknya tidak terlalu mementingkan anak didiknya menjadi orang pintar tapi tidak memiliki karakter bagus. “Pendidikan karakter itu kalau menurut saya, saya tidak terlalu mementingkan prestasi anak-anak itu hebat sekali, namun karakternya ga bagus, buat apa?Kan mendingan karakternya yang bagus. Ibarat emas ataupun berlian, biar dia ditaruh di manapun dia akan tetap mengkilat,” jelas Cok.

Pihaknya menekankan kepada anak didiknya supaya jujur dan tidak boleh mencuri. “Saya bilang ke anak-anak, anda dititipkan oleh orang tua ke saya itu adalah tujuannya untuk kamu dididik agar menjadi baik. Kalau kamu ga baik keluar dari sekolah ini. Tegas saya bilang begitu sama anak-anak. Sekarang sudah jarang orang kehilangan kendaraan lagi. Dan jika ada siswa berani bawa kendaraan saya suruh orang tua kamu ambil kendaraannya kesini. Saya bilang begitu. Terus ga ada lagi yang berani. Semua baik-baik. Begitu pun bunyi-bunyi kendaraannya yang pakai knalpot brong sudah tidak ada lagi,” ucapnya, berbinar.

Meski demikian, ada saja anak yang bolos sekolah dan merokok sembunyi-sembunyi di sekolah sehingga pihaknya menambah CCTV untuk memantau. “Dan untuk memantau anak yang bolos sekolah, saya tegaskan, sekarang kalau sampai kamu mau bolos dari sekolah CCTV saya tambah lagi tiap sudut sekolah jadi 26 unit. Jadi saya ga main-main soal ini. Ini cara saya untuk menertibkan karakter anak-anak. Kalau sudah baik karakternya, biar dia tidak terlalu pintar ya dia bisa naik kelas. Kan itu yang disenangi orang tuanya,” jelas Cok.

Menjawab soal keberhasilan sekolah dalam membentuk karakter anak yang sejatinya bukan hanya tanggung jawab pihak sekolah karena anak kan lebih banyak waktunya bersama orangtuanya, Cok menjelaskan bahwa karakter anak memang sepenuhnya tergantung lingkungan keluarganya. “Saya ambil contoh kecil saja pak, untuk anak-anak ABG kan ada saja yang suka merokok dan minum minuman keras. Kalau anak itu merokok di sekolah ya saya tegaskan itu tidak boleh sama sekali. Begitu pun kalau dia minuman keras atau alkohol. Lain lagi ketika dia di rumahnya, ketika dia tidak sedang memakai seragam SMA 5, pakaian putih abu-abu, itu tidak lagi menjadi tanggung jawab pihak sekolah,” ujarnya.

“Nah untuk yang merokok, kalau sampek kamu di sekolah merokok saya tahu, saya laporkan kamu ke polisi. Saya ga main-main lho. Itu hukumannya 3 bulan penjara dan denda 50juta. Itu saya gembar gemborkan supaya ada efek jera. Kemarin dibilang ada anak merokok dibelakang LAB, saya pasang CCTV 2 di sana untuk pantau. Terus di toilet ini pak Anom mencium bau rokok aja, ditungguin sama pak Anom. Udah mungkin merasa muridnya ditungguin sehingga dia tidak berani lagi merokok disana baru hilang baunya,” urai Cok.

Lanjut Cok,” Terlebih lagi saat upacara bendera, saya sampaikan dihadapan anak-anak lain, kalau sampai kamu berani merokok saya minta pada teman-temannya yang lain asal liat teman kamu lagi merokok, foto dia dan kirimkan ke saya. Saya kasi kamu hadiah. Saya kasikan ke anak-anak nomor hp pribadi saya. Sampai-sampai ada teman guru sampaikan ke saya koq ibu berani kasi nomor ibu ke anak-anak. Itu karena ingin menegakkan aturan ya saya kasikan nomor hp saya,” jelasnya. (Donny Parera)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *