BERITAFAJARTIMUR.COM (LABUAN BAJO) – Pemerintah Kabupaten Manggarai Barat, Nusa Tenggara Timur, mencatat sejumlah indikator kesejahteraan masyarakat mengalami perbaikan sepanjang 2025. Angka kemiskinan dan tingkat pengangguran terbuka (TPT) sama-sama menurun dibandingkan tahun sebelumnya.
Namun, Bupati Manggarai Barat Edistasius Endi mengingatkan capaian tersebut tidak boleh membuat pemerintah dan seluruh pemangku kepentingan cepat berpuas diri.
Menurut Edistasius, tren penurunan kemiskinan dan pengangguran merupakan kabar baik, tetapi sekaligus menjadi pengingat bahwa masih terdapat pekerjaan rumah yang harus diselesaikan untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat.
Hal itu disampaikan Edistasius dalam pidatonya pada upacara peringatan HUT ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia tingkat Kabupaten Manggarai Barat, Senin (17/8/2026).
“Angka kemiskinan kita menurun, demikian pula dengan tingkat pengangguran terbuka. Ini kabar baik. Namun, mari kita jadikan capaian yang telah kita raih sebagai pijakan untuk terus melangkah,” kata Edistasius.
Kemiskinan turun menjadi 16,09 persen
Berdasarkan data yang dipaparkan dalam pidatonya, tingkat kemiskinan Manggarai Barat turun dari 16,74 persen pada 2024 menjadi 16,09 persen pada 2025.
Artinya, terjadi penurunan sebesar 0,65 poin persentase dalam satu tahun.
Capaian tersebut juga disebut lebih baik dibandingkan rata-rata tingkat kemiskinan Provinsi Nusa Tenggara Timur pada 2025 yang mencapai 18,6 persen.
Meski demikian, Edistasius menegaskan pemerintah tidak boleh menjadikan penurunan tersebut sebagai alasan untuk menghentikan upaya pengentasan kemiskinan.
Menurut dia, tren yang membaik harus menjadi pijakan untuk memperkuat berbagai kebijakan yang langsung menyentuh kebutuhan masyarakat.
Pemerintah daerah, kata Edistasius, akan terus mendorong perlindungan sosial yang tepat sasaran, peningkatan kualitas pendidikan dan layanan kesehatan, pemberdayaan ekonomi masyarakat serta perluasan kesempatan kerja.
Pengentasan kemiskinan, menurut dia, bukan sekadar target pembangunan, tetapi merupakan tanggung jawab bersama seluruh pemangku kepentingan.
“Pengentasan kemiskinan bukan hanya amanat pembangunan, tetapi juga panggilan moral dan tanggung jawab konstitusional yang harus diwujudkan melalui kerja bersama seluruh pemangku kepentingan,” ujarnya.
Pengangguran terbuka juga menurun
Selain kemiskinan, kondisi ketenagakerjaan Manggarai Barat juga menunjukkan perkembangan positif.
Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) turun dari 3,47 persen pada 2024 menjadi 3,32 persen pada 2025.
Penurunan tersebut dinilai menggambarkan adanya perbaikan dalam arah pembangunan ekonomi daerah, terutama melalui terbukanya kesempatan kerja dan meningkatnya ruang produktivitas masyarakat.
Edistasius mengatakan semakin banyak masyarakat yang mendapatkan pekerjaan layak akan memperkuat fondasi kesejahteraan daerah.
“Ketika masyarakat kita sehat, cerdas dan terampil maka akan lebih besar peluang untuk keluar dari kemiskinan dan siap memasuki dunia kerja,” katanya.
Namun, pemerintah tetap menghadapi tantangan untuk memastikan pertumbuhan ekonomi benar-benar menciptakan lapangan kerja yang dapat diakses masyarakat lokal.
Pertumbuhan ekonomi belum cukup
Dalam pidatonya, Edistasius juga memaparkan pertumbuhan ekonomi Manggarai Barat yang meningkat dari 4,93 persen pada 2024 menjadi 5,82 persen pada 2025.
Angka tersebut berada di atas pertumbuhan ekonomi NTT yang pada 2025 mencapai 5,14 persen.
Pemerintah daerah menilai pertumbuhan tersebut merupakan hasil kerja kolaboratif berbagai elemen masyarakat, mulai dari petani, nelayan, pedagang, pengusaha hingga pekerja.
Di sisi lain, PDRB per kapita Manggarai Barat juga meningkat dari Rp16,62 juta pada 2024 menjadi Rp17,75 juta pada 2025.
Bagi pemerintah daerah, berbagai indikator tersebut menunjukkan perekonomian Manggarai Barat bergerak ke arah positif.
Namun, pertumbuhan ekonomi tetap harus diterjemahkan menjadi peningkatan kesejahteraan yang dirasakan masyarakat secara lebih luas.
Pariwisata harus membuka manfaat bagi masyarakat
Sebagai daerah yang menjadikan pariwisata sebagai salah satu lokomotif ekonomi, Manggarai Barat juga menghadapi tantangan untuk memastikan pertumbuhan sektor tersebut bersifat inklusif.
Edistasius menyebut Indeks Pariwisata Inklusif Manggarai Barat meningkat dari 63,95 persen pada 2024 menjadi 65,28 persen pada 2025.
Menurut dia, pembangunan pariwisata tidak boleh hanya mengejar jumlah wisatawan, tetapi harus diarahkan pada pertumbuhan yang adil, berkelanjutan dan mampu memberdayakan masyarakat.
Penguatan infrastruktur dasar, sumber daya manusia dan tata kelola pembangunan menjadi bagian dari upaya membangun ekosistem pariwisata yang lebih berkualitas dan berdaya saing.
Kualitas manusia menjadi kunci
Edistasius juga menempatkan pembangunan sumber daya manusia sebagai bagian penting dari strategi jangka panjang pengentasan kemiskinan.
Indeks Pembangunan Manusia (IPM) Manggarai Barat meningkat dari 67,84 pada 2023 menjadi 68,68 pada 2024 dan 69,20 pada 2025.
Peningkatan tersebut didorong oleh dimensi umur harapan hidup, pendidikan dan standar hidup layak.
Di bidang pendidikan, rata-rata lama sekolah meningkat dari 8,21 tahun pada 2024 menjadi 8,26 tahun pada 2025.
Pemerintah daerah berkomitmen menjaga capaian tersebut melalui peningkatan kualitas guru dan penyediaan fasilitas pendidikan yang layak hingga ke pelosok.
Sementara di bidang kesehatan, usia harapan hidup meningkat dari 72,86 tahun pada 2024 menjadi 73,24 tahun pada 2025.
Pemkab menyebut peningkatan tersebut berkaitan dengan upaya memperbaiki akses dan mutu pelayanan kesehatan, perbaikan gizi, pola hidup sehat serta penguatan kondisi sosial dan ekonomi masyarakat.
Stunting dan kesehatan ibu-anak masih menjadi perhatian
Di balik capaian tersebut, pemerintah daerah masih memiliki pekerjaan rumah di sektor kesehatan.
Edistasius mengatakan prevalensi stunting telah berhasil ditekan secara bertahap. Namun, pemerintah tetap akan memperkuat upaya peningkatan kesehatan ibu dan anak, termasuk menekan angka kematian ibu dan bayi.
Menurutnya, keberhasilan pembangunan kesehatan tidak cukup hanya dilihat dari penurunan angka stunting, tetapi juga dari kemampuan pemerintah memastikan setiap ibu memperoleh pelayanan yang baik dan setiap anak memiliki kesempatan tumbuh serta berkembang secara sehat.
Bupati: Capaian harus menjadi pijakan
Edistasius menegaskan pembangunan Manggarai Barat ke depan harus semakin inklusif, berkelanjutan dan berorientasi pada peningkatan kualitas sumber daya manusia.
Ia mengatakan tren positif yang terjadi saat ini harus menjadi pijakan untuk menghadapi tantangan yang lebih besar.
“Tren yang semakin membaik adalah kabar baik, tetapi sekaligus menjadi pengingat bahwa masih ada ruang untuk kita tingkatkan bersama,” ujar Edistasius.
Karena itu, pemerintah daerah akan terus mendorong pembangunan yang tidak hanya berorientasi pada pertumbuhan ekonomi, tetapi juga membuka kesempatan kerja, memperkuat kualitas manusia dan memastikan manfaat pembangunan dirasakan secara lebih merata.
Edistasius berharap masyarakat Manggarai Barat tidak hanya menjadi penerima manfaat pembangunan, tetapi juga menjadi pelaku utama dalam menggerakkan perekonomian daerah.
Ia menekankan pentingnya menyiapkan masyarakat dengan pendidikan yang baik, kesehatan yang prima, keterampilan yang relevan serta karakter yang kuat agar mampu menghadapi perubahan zaman.
“Kita ingin pembangunan tidak hanya menghasilkan pertumbuhan ekonomi, tetapi juga menghadirkan manusia yang semakin berkualitas dan semakin mampu berdiri di atas kakinya sendiri,” kata Edistasius.
Dengan demikian, penurunan kemiskinan dan pengangguran bukan menjadi titik akhir pembangunan, melainkan pijakan untuk menghadirkan kesejahteraan yang lebih merata di seluruh wilayah Manggarai Barat.(BFT/LBJ/RED/Yoflan)





