Beritafajartimur.com (Gianyar) Owner Yayasan Kaori Welas Asih, Ni Kadek Winie Kaori Intan Mahkota, S.E., mengunjungi Yayasan Anak Unik di bawah pimpinan Ni Gusti Putu Parmiti, S.E di wilayah Kecamatan Sukawati, Jalan Pasung Grigis II/2, Desa Kemenuh, Kecamatan Sukawati, Kabupaten Gianyar, Bali 80582. Kedatangan Winie Kaori Intan Mahkota bersama rombongan, di antaranya, suami tercinta Sandoz Prawirotama, putra mantan Gubernur Bali, Made Mangku Pastika, disambut Ketua Yayasan Anak Unik Ni Gusti Putu Parmiti bersama rekan guru dan sejusmlah siswa pada Senin, 31 Agustus 2026.
Ketua Yayasan Anak Unik, Ni Gusti Putu Parmiti, S.E., di hadapan media menyampaikan,” Saya selaku pendiri yayasan, kalau ditanya apa yang mendasari, mungkin ini jalan hidup yang membawa saya ke sini. Saya tidak punya latar belakang guru, tetapi merasa terpanggil untuk membantu mereka-mereka yang membutuhkan bantuan ekstra yaitu anak-anak berkebutuhan khusus tuna grahita, di mana, secara fisik mereka sama seperti kita, namun secara intelektual, mereka memiliki IQ yang dibawah rata-rata, jadi karena banyak di sekitar kita ada begitu banyak anak-anak yang seperti itu dan penanganannya salah, misalnya, salah diagnosa, salah penanganan, ada yang dikirim ke Rumah Sakit Jiwa, ada yang dikirim ke tempat asing, saya yakin orang tuanya tidak jahat tetapi mereka tidak tau ke mana mencari bantuan. Oleh karena itu, saya merasa terpanggil untuk melakukan gerakan ini dan itu betul-betul mengurangi organik, saya disupport oleh guru-guru yang berjiwa besar, oleh orang-orang yang berjiwa besar, saya diijinkan oleh keluarga saya memakai rumah adat kami sebagai sekolah sementara,” ungkap Ni Gusti Putu Parmiti, S.E.

Diceritakan,” Pada Tahun 2014 awalnya sekali Tahun 2012 saya mendirikan Bimbel (Bimbingan Belajar) bahasa Inggris, Matematika itu di sore hari untuk anak-anak SD yang ada di sekitar rumah kita, tetapi lama kelamaan ada orang tua yang dateng menitip anaknya yang tidak bisa membaca, menulis, jadi pengetahuan saya belum sampai di situ. Saya kira, yang namanya Cacat, Buta, Bisu, Tuli, pakai kursi roda itu Cacat, waktu itu, pengetahuan saya belum sampai seperti ini, jadi ternyata ada juga yang namanya Cacat Intelektual, jadi otak yang bermasalah, mereka secara fisik sama seperti kita, namun kalau ditest oleh psikolog mereka memiliki IQ di bawah rata-rata, jadi memang sangat sulit untuk diajak belajar di sekolah formal,” imbuhnya.
Menjawab soal tantangan mengajar dan mendidik anak berkebutuhan khusus ini, ia menjelaskan,” Kalau tantangan terberat tentu dari waktu ke waktu tantangan itu berbeda, di awal pada tahun 2014, saat itu kami masih merintis tantangan terberat kami ada di orang tua, mungkin saat itu informasi atau buku tentang anak-anak berkebutuhan khusus belum ada, kalau pun ada mereka harus berbayar mahal di tempat-tempat tertentu, jadi saya yakin tidak ada orang tua yang jahat, tetapi orang tua yang tidak memiliki pengetahuan yang cukup dan juga tantangan kami saat itu adalah orang tua, mereka merasa malu punya anak seperti itu, mereka merasa gengsi punya anak seperti itu, merasa anak ini adalah anak kutukan, kami juga sudah sering tampil ke media Nasional, sehingga orang tua pada berdatangan. Di tahun-tahun awal masih belum ada hasilnya, setelah itu hasilnya membludak setelah 5 Tahun tantangannya adalah kekurangan tempat, karena itu rumah, baru bulan Juni kemarin mereka merasakan sekolah sesungguhnya, bisa bermain semenjak pindah dari bulan Juni kemarin ini, baru guru dan murid kami merasakan sekolah yang ideal, orang tua yang datang sekarang sudah bukan old lagi, sudah gen Z, mereka searching dimana ada sekolah dan therapist, karena di awal pengetahuan kami hanya anak-anak yang low IQ saja, sekarang beda lagi levelnya, seperti autis, non verbal, jadi mereka mungkin IQ-nya normal tetapi suara yang belum keluar, kita harus mengisi diri sebelum mengisi anak-anak, jadi makin kesini orang tua semakin melek, orang tua semakin sadar,” katanya.
Bina sekitar 62 orang siswa
Lanjutnya, Jadi memang jarang sekali ada yang ke sekolah, pernah ada yang berhenti sekolah karena orang tuanya pikir anaknya tidak dapat ijasah di sini, anak-anak itu harus bergaul agar tidak bosen di rumah, karena mereka itu perlu melihat sesuatu di luar, antusiasnya dapet hadiah, ini yang orang tua lupa, setelah setahun anaknya kabur dari rumah baru orang tua ke sini lagi, kita tidak mengajarkan itu-itu saja di kelas, kita terus di paksa oleh keadaan untuk terus mengimbangi.”
Tantangan kami adalah menyederhanakan perintah instruksi, itu yang sulit, kalau di sekolah formal mengembangkan, kalau kami mengerucutkan informasi sampai ke telinga anak-anak bagaimana caranya se sederhana otak mereka, jadi kita menyederhanakan frekuensi sesederhana otak mereka, jadi kita bisa masuk ke otak mereka, guru yang beradaptasi. kalau di sekolah formal guru tinggal mengajar, di sini kami mengajar dan mendidik, karena guru yang tenang dan guru yang tidak malu-malu menyampaikan jadi kita benar-benar manusia dengan bayangan, kami selalu di awal masuk adakan kesepakatan dari orang tua, sekolah kita tujuannya seperti ini dan prosesnya seperti ini hasil yang kita capai di dunia, kami manusia biasa dan kami tidak menolak muridnya, karena kalau kita menolak muridnya berarti kita menolak orang tuanya, kalau murid saya yakin mereka tidak, berapapun usia mereka level otaknya lebih dari 10, walaupun mereka sudah 50 tahun tetep IQ kurang.
Terkait pembiayaan disebutkan, Awalnya dari tahun 2014 sampai 2020 saat Covid itu memang kita lakukan subsidi silang, sorenya Bimbel bahasa Inggris dan Matematika, kebetulan mantan murid saya sekarang jadi guru siswa sambil mengajar les bahasa Inggris, jadi kita punya murid dari Ubud, Sabe, dan jauh-jauh lagi jadi kita kenakan uang les 100ribu, kalau yang SMP 150ribu, jadi pendapatan saya di awal 10 Juta dan bisa menggaji guru, kalau covid tidak sebanyak ini muridnya, kita hanya ber 4, setelah itu dapat sumbangan dari luar negeri, dari berbagai tempat, jadi donasi tidak hanya berupa uang tetapi juga baju second yang masih bagus dan layak di pakai, barang luxury yang tidak kita mampu beli ada, bantuan tidak terfokus pada uang saja.
“Ini bukan karena di hadapan ibu (Kaori, red.), tetapi sesuatu yang kami tidak mampu beli kami dapat, jadi kami tidak bisa mengungkapkan kata-kata, tetapi apa pun bentuk bantuan apalagi itu barang, Sembako, minuman, itu sudah lebih dari ekspektasi kami, itu sangat luar biasa sekali, jadikanlah kita langganan karena ibuknya bertanya kenapa saya tidak ke sana, bukan karena kita abai kepada semuanya tetapi karena kita punya rasa malu, kepada siapa saja saya begitu, alangkah baiknya yang berdonasi bisa langsung melihat keadaan kami dan kami tidak pernah jaim di depan siapa saja, kita apa adanya, justru dengan apa adanya orang jadi paham, jadi kami tidak menekan guru harus seperti apa itu, karena kita apa adanya,” pungkas Ni Gusti Putu Parmiti.

Sementara, Ketua Yayasan Kaori Welas Asih, Ni Kadek Kaori Intan Mahkota, S.E., di tempat yang sama menjelaskan,” Hari ini kita bersama Founder dari yayasan Anak Unik yang merawat 60an lebih anak-anak yang berkebutuhan khusus di kabupaten Gianyar, kami dari Yayasan Kaori Bali berterima kasih atas semangatnya, jiwa besarnya yang selalu memberikan motivasi kepada anak-anak, keluarga, dan orang tua disini untuk tetap semangat berjuang, tidak mengenal putus asa, siapa yang mengetahui akan dianugerahi anak yang memang unik, tetapi di sini, beliau memberikan kita sebuah contoh nyata di kehidupan dunia ini, sebab nobody’s perfect, tetapi beliau tentunya menyempurnakan kehidupan dengan rasa dan cinta, yayasan Anak Unik hadir melengkapi, mewarnai, sekaligus memberikan sentuhan cinta kasih, sekaligus memberikan kita sebuah contoh bagaimana kita hidup tidak sendirian, kita hidup tidak hanya berpaku tangan, kita hidup tidak bisa menyerah pada keadaan, tetapi kita hidup untuk selalu berjuang dan memberikan energi positif kepada alam semesta, di sini yayasan anak unik hadir, tidak hanya profiter, stabilitas yang dicari bukan hanya semata-mata tetapi kami di sini melihat bagaimana kesederhanaan beliau, bagaimana suasana yang penuh dalam kekeluargaan dididik, diedukasi, dan diberikan cinta kasih sekaligus diberikan sentuhan yang di mata masyarakat mungkin dianggap sebelah mata, tetapi di mata beliau yayasan Anak Unik sudah jadi sebuah kewajiban, menjadi tanggung jawab sosial dan mental yang harus dijaga. Di sini kami sangat berterima kasih ada sesosok si biang yang menjadi panutan di tengah-tengah masyarakat untuk tetap memberikan perhatian, tidak hanya keluarga tetapi seluruh masyarakat yang memang memiliki kebutuhan khusus untuk anak, dididik dari anak-anak hingga dewasa sampai 30 Tahun, walaupun tidak mendapatkan ijasah tetapi tetap menjadi kekeluargaan yang memang diberikan mereka bibit, bagi semua yang memiliki sesuatu yang berharga yang memang dibutuhkan oleh yayasan Anak Unik, di sini lah tempatnya kita berbagi pengalaman, berbagi kesempatan untuk anak-anak kita tumbuh berkembang dengan semampunya. Tidak ada paksaan untuk belajar, mampu dengan target sesuatu, tetapi disini dengan rangkulan, mereka dicintai selayaknya memanusiakan manusia,” tutup Kaori.
Tak hanya itu, pemilik Yayasan Kaori Welas Asih ini juga berkesempatan berbagi kasih di beberapa tempat untuk membantu berupa Sembako, bagi para Lansia. Apa yang diberikan ini merupakan tanda kasih dari seorang Kaori. (Donny Parera)





