BERITAFAJARTIMUR.COM (Denpasar), Program Satu Keluarga Satu Sarjana yang diluncurkan Gubernur Bali Wayan Koster yang mulai diberlakukan pada Agustus 2025 saat penerimaan Mahasiswa Baru disambut antusias semua pihak. Karena adanya program unggulan Gubernur Koster ini sangat membantu putra/i keluarga prasejahtera di Bali dan akan mengangkat derajat keluarga tersebut.
Adanya program ini setidaknya akan mampu mencetak SDM Bali yang unggul dan berdaya saing kedepan terutama anak-anak yang berasal dari keluarga tidak mampu.
Apresiasi dan dukungan terhadap program ini datang dari praktisi pendidikan yang juga Kepala SMK Negeri 3 Denpasar, Drs. A.A. Bagus Wijaya Putra, M.Pd., saat menjawab pertanyaan Donny Parera, wartawan media online Beritafajartimur.com, di ruang kerjanya pada Kamis, 12 Juni 2025.
“Terima kasih atas waktunya. Terkait pertanyaan bagaimana pendapat saya tentang program Pemerintah Provinsi tentang satu _Sarjana Satu Keluarga_, menurut saya karena pendidikan itu sangat mendukung sekali dan bagus sekali untuk Bali, karena kita kan membutuhkan SDM yang unggul. Salah satunya adalah melanjutkan pendidikan jalur tinggi, dalam hal ini S1. Menurut pendapat saya pribadi, ini adalah program yang sangat bagus. Sehingga nanti kita harapkan jumlah keluarga di Bali itu punya minimal 1 Sarjana. Yang sudah punya lebih (sarjana, red) kan bagus. Yang belum punya, kalau sudah ada Sarjananya, kita harapkan itu terjadi akan bisa membawa perubahan ke arah yang lebih baik di keluarga itu sendiri,” ucapnya.
Lebih lanjut dikatakan A.A. Bagus Wijaya Putra,” Memang kalau Keluarga yang sudah Sejahtera itu kan tidak masalah untuk ke S1, S2, S3, tapi bagi Keluarga yang kurang Sejahtera, ini memang perlu diberikan kesempatan untuk mereka bisa meraih pendidikan yang lebih tinggi,” imbuhnya.
“Sama dengan anak masuk SMK, hampir sama dengan itu, jadi akan ada semacam penggerak di keluarga itu untuk bisa berpikir lebih maju, Cakrawalanya lebih luas. Sehingga tentu kita harapkan dengan itu di keluarga tersebut akan lebih berpeluang terangkat taraf hidupnya, pola berpikirnya ke arah yang lebih luas dan lebih maju,” jelas A.A. Bagus Wijaya Putra.
Saat ditanya apakah anak-anak dari keluarga prasejahtera ini bisa sesuai kriteria atau persyaratan untuk mendapatkan dan memenangkan program Satu Sarjana Satu Keluarga?
“Saya rasa setiap anak dari keluarga prasejahtera semestinya diberi peluang untuk mendapat bantuan dari program tersebut. Sehingga program itu bisa berjalan untuk mencapai sasaran.
Memang ketika kita bicara Pendidikan, itu kan sebenarnya pada dasarnya tidak ada anak bodoh, semua Siswa itu punya Potensi yang jelas, dan bakatnya itu dimana, karena bakatnya sudah sesuai dengan yang dipelajari itu pasti akqn nyambung dengan sendirinya. Yang sering terjadi itu kan bakat yang tidak nyambung dengan pendidikannya, sehingga jadi masalah nantinya. Artinya, tamat tetapi tidak punya power dari dalam diri, jadi kita arahkan betul-betul anak sudah punya bakat apa dan inginnya kemana itu keluarnya dari dirinya, kalau seperti itu pasti jadi, pasti mereka akan sukses, ini yang tampaknya perlu kita perhatikan betul,” ucapnya.
Terkait biaya yang sudah dibeberkan Gubernur Koster, dalam membiayai anak yang masuk dalam Program Satu Sarjana Satu Keluarga, menurut A.A. Bagus Wijaya Putra sebaiknya tidak membebani keluarga tersebut. Karena, untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari saja sudah sulit, apalagi untuk biaya pendidikan.
“Saya kurang tau biayanya berapa, tapi yang jelas menurut saya, namanya bantuan sudah bagus, seberapa pun besarnya itu akan meringankan siapapun yang ingin melanjutkan ke S1, asalkan tidak membebani keluarga tersebut.
Kalau kebijakan sekarang sudah jelas, kalau anak kurang mampu itu kan sebenarnya gratis, tidak usah bayar di SMA & SMK, yang saya belum tau itu di perguruan tingginya, itu kan masih berbayar. Jadi dengan kebijakan pemerintah provinsi seperti sekarang bagus sekali. Jadinya anak-anak yang sudah menyelesaikan pendidikan di SMA & SMK dari keluarga prasejahtera bisa melanjutkan ke perguruan tinggi. Pemerintah memang sudah menggratiskan sekolahnya bagi anak-anak kurang mampu, di Sekolah Negeri itu pasti bisa difasilitasi anak-anak kurang mampu, jadinya mereka bisa tamat, SMA & SMK itu pasti walau pun dengan kondisi keluarga yang kurang mampu, tinggal di S1nya saja, jadi S1 ini sampai saat ini kan belum ada gratis secara nasional, untuk S1, bagus sekali langkah yang diambil untuk membantu biaya siswa gratis sampai tamat dan sarjana, itu bisa dibantu oleh pemerintah daerah seperti itu di Provinsi Bali kan lebih bagus lagi,” tutup A.A. Bagus Wijaya Putra.(Donny Parera)





