Beritafajartimur.com(Denpasar) Era revolusi industri 4.0, saat ini memasuki semua lini termasuk dunia pendidikan yang memang nantinya diarahkan pada proses belajar mengajar di kelas. Dimulai dari pendidik dan staf administrasi baru peserta didik. Namun pembelajaran model digitalisasi seperti ini menuntut sikap partisipatif, kreatif dan inovatif.
Hal tersebut dijelaskan Kepala Sekolah SMA 7 Denpasar Cokorda Istri Mirah Kusuma Widiawati yang didampingi Wakil Kepala Sekolah (Wakasek) Kesiswaan SMAN 7 Denpasar, I Nyoman Sedana. Dikatakan bahwa metode pembelajaran seperti ini telah dilakukan sejak tahun 2018 lalu. Dimana, Siswa-siswa diajak untuk belajar dengan modul-modul, sehingga tidak mesti siswa terus didampingi seorang guru di kelas.

“Bukan untuk mengabaikan peran guru di ruang kelas, tapi lebih mengoptimalkan kegiatan belajar meski tanpa kehadiran seorang guru. Ini benar-benar terjadi di suatu kelas, ketika kami berkeliling mengawasi situasi belajar, mendadak mendapati hal yang tidak biasa kami temukan. Dimana semua siswa di kelasnya tetap tertib dan tekun belajar dengan saling presentasi walaupun tanpa kehadiran gurunya yang kala itu sedang sakit tapi proses belajar tetap berlangsung. Nah proses belajar seperti ini merupakan suatu inovasi,” terang Cok Istri Istri Mirah Kusuma Widiawati di sekolah setempat, Jumat (15/2/2019).
Dijelaskan, ternyata guru bersangkutan mengembangkan sistem belajar jarak jauh dengan sistem ‘Szooncloudmeeting’, yang ditemukan oleh Ida Ayu Kartika yang merupakan seorang guru agama yang masih berstatus “honor” di SMA 7 Denpasar.
Dari metode “Szooncloudmeeting”, maka seorang guru tetap dapat mengajar dan mengawasi siswa-siswinya meski tidak berada di ruang kelas. Saat ini, metode ini tengah diintensifkan pengembangannya agar bisa diterapkan secara maksimal di SMA 7 Denpasar.
Model pembelajaran yang diterapkan oleh guru Ida Ayu Kartika bukan satu-satunya penemuan revolusi pendidikan di sekolah yang terletak di kawasan Jalan Kamboja Denpasar ini, namun saat inipun salah seorang alumnus SMA 7 Denpasar bernama Yunita, juga berhasil mengembangkan modul les online dengan branding “Lesku”. Bagi siswa-siswi yang ingin dipandu belajar dengan tekun, bisa mendaftar di Lesku dengan tidak mewajibkan untuk datang ke ruangan belajar, seperti les-les pada umumnya.
“Hanya saja ada penerapan kelas online “Lesku” ini jika diterapkan untuk semua siswa akan mengalami kendala ketersediaan server yang belum memadai di SMA 7 Denpasar. Pernah diuji coba, tapi ada kendala pada server. Karena jika semua siswa serentak melakukan belajar online, jaringan komunikasi menjadi lambat sehingga proses belajar mengajar menjadi terhambat,”ungkap Cok Mirah Kusuma Widiawati. Menurutnya, hal yang utama agar sasaran pembelajaran digitalisasi tercapai secara optimal harus didukung anggaran yang memadai terutama dalam kaitan anggaran pengadaan server.
(Donny Parera)











