BERITAFAJARTIMUR.COM (RUTENG) Kepedulian terhadap warga terdampak gempa bumi di Kabupaten Manggarai, Nusa Tenggara Timur (NTT), terus berdatangan. Rotary Club of Labuan Bajo Komodo menyalurkan bantuan sembako sekaligus menggelar kegiatan trauma healing berbasis literasi bagi masyarakat di Dusun Singkul, Desa Nggalak, Kecamatan Reok Barat.
Bantuan kebutuhan pokok tersebut diberikan untuk membantu meringankan beban warga yang masih berada dalam masa pemulihan pascabencana. Namun, kepedulian Rotary Club tidak berhenti pada pemenuhan kebutuhan material.
Anak-anak di Dusun Singkul juga mendapat pendampingan psikososial melalui kegiatan trauma healing yang dikemas dalam agenda literasi. Mereka diajak membaca, bercerita, bermain secara edukatif, serta mengikuti berbagai aktivitas yang dirancang untuk menciptakan suasana aman dan menyenangkan.
Kegiatan tersebut menjadi penting mengingat gempa bumi tidak hanya menimbulkan kerusakan fisik dan mengganggu aktivitas masyarakat, tetapi juga dapat meninggalkan dampak psikologis, terutama bagi anak-anak.
President Rotary Club of Labuan Bajo Komodo, Arni, mengatakan bantuan sembako yang disalurkan merupakan bentuk solidaritas kepada masyarakat Dusun Singkul yang terdampak bencana.
«”Bantuan ini merupakan bentuk kepedulian dan solidaritas kami kepada masyarakat Dusun Singkul. Kami berharap bantuan yang diberikan dapat sedikit meringankan beban warga, terutama dalam masa pemulihan setelah gempa,” ujar Arni.»
Menurut dia, kondisi pascabencana membuat masyarakat membutuhkan dukungan dari berbagai pihak, bukan hanya dalam bentuk bantuan kebutuhan pokok, tetapi juga perhatian terhadap kondisi psikologis warga.
Karena itu, Rotary Club mengintegrasikan kegiatan trauma healing dengan literasi. Pendekatan tersebut diharapkan dapat memberikan ruang bagi anak-anak untuk kembali beraktivitas secara positif setelah mengalami situasi yang berpotensi menimbulkan ketakutan dan kecemasan.
Dalam kegiatan tersebut, anak-anak diberikan kesempatan untuk membaca, bercerita, bermain, serta melakukan aktivitas edukatif lainnya. Kegiatan itu dirancang agar anak-anak dapat berinteraksi dan mengekspresikan diri dalam suasana yang lebih santai.
“Pasca bencana, anak-anak tidak hanya membutuhkan bantuan secara materi, tetapi juga membutuhkan ruang untuk bermain, belajar, bercerita, dan merasa aman kembali. Karena itu, kami menggabungkan kegiatan trauma healing dengan literasi agar anak-anak mendapatkan pendampingan yang edukatif sekaligus menyenangkan,” kata Arni.
Ia menambahkan, literasi dapat menjadi salah satu sarana untuk membantu anak-anak membangun kembali rasa percaya diri dan suasana psikologis yang lebih positif. Di tengah situasi pascabencana, aktivitas membaca dan bermain juga dapat menjadi ruang bagi anak untuk mengalihkan perhatian dari pengalaman yang menakutkan.
Bagi masyarakat Dusun Singkul, penyaluran bantuan tersebut juga menjadi pesan bahwa mereka tidak menghadapi masa pemulihan seorang diri. Dukungan dari berbagai elemen masyarakat dinilai penting untuk membantu warga memenuhi kebutuhan sehari-hari sekaligus memulihkan kondisi sosial dan psikologis setelah bencana.
Rotary Club berharap kegiatan tersebut dapat memberikan manfaat langsung bagi warga, terutama anak-anak, serta mendorong keterlibatan lebih banyak pihak dalam mendukung proses pemulihan masyarakat di wilayah terdampak gempa.
Pemulihan pascabencana, dengan demikian, tidak hanya membutuhkan pembangunan kembali fasilitas dan pemenuhan kebutuhan dasar, tetapi juga perhatian terhadap kondisi mental dan rasa aman masyarakat. Kehadiran kegiatan trauma healing dan literasi menjadi salah satu bentuk dukungan untuk memastikan proses pemulihan berjalan secara lebih utuh.(BFT/LBJ/RED/Yoflan)





