Catatan Paradoks; Wayan Suyadnya
Kemarin pagi, sekadar iseng, saya membeli buah.
Sambil ngelindeng menelusuri jalan-jalan Denpasar, mata saya terpaku pada kios-kios buah yang belakangan banyak bermunculan.
Buah itu tampak segar, warnanya semarak, dari merah apel hingga hijau anggur yang segar. Juga salak yang kulitnya tampak kasar tapi menggiurkan. Ada juga semangka, melon dan juga pisang.
Namun, ironi segera menampar: di antara deretan kios buah itu, nyaris tak ditemukan kios yang dimiliki warga lokal.
Di Bali tak sulit mengetahui kios milik warga lokal atau bukan. Tak hanya pemilik kios, para pedagang buah yang saya kunjungi tampak sebagian besar dari luar Bali.
Seolah-olah tanah yang subur ini hanya menjadi pasar, bukan lagi ladang. Lebih ironis lagi, buah lokal Bali—yang seharusnya menjadi kebanggaan—nyaris tak kelihatan.
Salak Bali yang tersohor, terutama Salak Sibetan, tampaknya tersisih oleh salak pondoh. Jeruk Bali, jeruk Kintamani, nyaris lenyap, ditelan banyaknya varian jeruk impor yang dikemas dengan mewah.
Apel luar negeri berjejer gagah, sementara tidak pernah ada “apel Bali” di keranjang-keranjang toko buah itu. Bahkan pisang, yang konon mudah tumbuh di mana saja, justru datang dari luar dengan harga yang melangit.
Lalu ke mana perginya Mangga Teja Kula yang manis dan harum itu? Kenapa di Denpasar sulit sekali menemukannya? Salak gula pasir yang katanya jadi primadona, menghilang entah ke mana. Saya tak menemukannya.
Anggur Singaraja, yang pernah disebut-sebut sebagai kebanggaan petani Buleleng, seakan tinggal dalam ingatan.
Buah-buah eksotis seperti buni, ceroring, buluan, kepundung, dan sentul makin jarang terlihat. Sebagian mungkin karena belum musim, tapi tanda-tanda “hilang ditelan bumi” sudah nyata: pohonnya jarang terlihat, jangan-jangan lahan-lahan beralih rupa.
Paradoksnya semakin pahit: Bali yang dielu-elukan sebagai pulau dengan tanah subur dan budaya agraris, justru menjadi pangsa pasar empuk bagi buah impor.
Pajegan buah, bebantenan yang juga menggunakan banyak buah tak ragu menggunakan buah impor.
Begitu juga hotel-hotel mewah, tamu asing lebih sering terlihat disuguhi buah dari luar negeri. Betapa anehnya, salak pondoh mendominasi di Bali, padahal tanah Bali punya salak Sibetan yang semestinya tak kalah eksotis.
Siapa yang bertanggung jawab? Apakah hanya petani yang semakin terdesak oleh harga pasar? Ataukah pedagang yang lebih memilih menjual buah luar karena lebih laku, lebih untung dan dianggap “prestisius”?
Atau justru kita semua, masyarakat Bali, yang mulai kehilangan selera dan kebanggaan pada buah-buah tanah kelahiran sendiri?
Sudah saatnya ada regulasi yang tegas: hotel dan restoran wajib menghadirkan buah lokal di meja-meja sajiannya. Kantor dinas/instansi tak perlu ragu menyajikan buah lokal kepada tamunya.
Untuk bisa disajikan di ruang pimpinan dinas/instansi dan jug di hotel dan restoran kualitas buah lokal harus terjamin. Tidakkah pimpinan dinas/instansi malu jika yang disajikan salak pondoh? Atau memang tak peduli, tak punya rasa malu.
Narasi yang dibangun untuk wisatawan mestinya berakar dari tanah ini: mengenalkan salak Bali, salak gula pasir, anggur Singaraja, mangga Teja Kula, duren Bestala atau kepundung yang kecut segar, bukan malah buah impor yang bisa mereka temui di negara atau daerah asalnya.
Paradoks buah Bali adalah cermin: kita semakin kehilangan diri sendiri di tanah kita sendiri.
Bila tidak ada tata kelola yang kuat, bukan mustahil buah-buah lokal itu kelak hanya tersisa dalam cerita, seperti dongeng yang diceritakan kakek-nenek kepada cucunya: bahwa dulu, di tanah Bali, pernah ada duren Bestala, jeruk Tejakula, manggis Karangasem yang manis, legit yang kini tinggal nama.
Denpasar, 25 Agustus 2025












