Berita Fajar Timur
Advertisement
  • Home
  • TNI, POLRI & HANKAM
  • Daerah
  • NASIONAL & INTERNASIONAL
  • AGAMA, SOSIAL, BUDAYA & ORGANISASI
    • Hukum & Kriminal
    • Pendidikan, Olah Raga & Kesehatan
  • EKONOMI, BISNIS & PERDAGANGAN
    • Politik
    • Pendidikan
    • Pariwisata, Petualangan dan Kuliner
No Result
View All Result
  • Home
  • TNI, POLRI & HANKAM
  • Daerah
  • NASIONAL & INTERNASIONAL
  • AGAMA, SOSIAL, BUDAYA & ORGANISASI
    • Hukum & Kriminal
    • Pendidikan, Olah Raga & Kesehatan
  • EKONOMI, BISNIS & PERDAGANGAN
    • Politik
    • Pendidikan
    • Pariwisata, Petualangan dan Kuliner
No Result
View All Result
Berita Fajar Timur
No Result
View All Result
Home Opini

Salak Bali vs Salak Pondoh

beritafajar by beritafajar
26 Agustus 2025
in Opini
0
Salak Bali vs Salak Pondoh
0
SHARES
1
VIEWS
Share on Facebook

Catatan Paradoks; Wayan Suyadnya

Kemarin pagi, sekadar iseng, saya membeli buah.

Sambil ngelindeng menelusuri jalan-jalan Denpasar, mata saya terpaku pada kios-kios buah yang belakangan banyak bermunculan.

Buah itu tampak segar, warnanya semarak, dari merah apel hingga hijau anggur yang segar. Juga salak yang kulitnya tampak kasar tapi menggiurkan. Ada juga semangka, melon dan juga pisang.

Namun, ironi segera menampar: di antara deretan kios buah itu, nyaris tak ditemukan kios yang dimiliki warga lokal.

Di Bali tak sulit mengetahui kios milik warga lokal atau bukan. Tak hanya pemilik kios, para pedagang buah yang saya kunjungi tampak sebagian besar dari luar Bali.

Seolah-olah tanah yang subur ini hanya menjadi pasar, bukan lagi ladang. Lebih ironis lagi, buah lokal Bali—yang seharusnya menjadi kebanggaan—nyaris tak kelihatan.

Salak Bali yang tersohor, terutama Salak Sibetan, tampaknya tersisih oleh salak pondoh. Jeruk Bali, jeruk Kintamani, nyaris lenyap, ditelan banyaknya varian jeruk impor yang dikemas dengan mewah.

Apel luar negeri berjejer gagah, sementara tidak pernah ada “apel Bali” di keranjang-keranjang toko buah itu. Bahkan pisang, yang konon mudah tumbuh di mana saja, justru datang dari luar dengan harga yang melangit.

Lalu ke mana perginya Mangga Teja Kula yang manis dan harum itu? Kenapa di Denpasar sulit sekali menemukannya? Salak gula pasir yang katanya jadi primadona, menghilang entah ke mana. Saya tak menemukannya.

Anggur Singaraja, yang pernah disebut-sebut sebagai kebanggaan petani Buleleng, seakan tinggal dalam ingatan.

Buah-buah eksotis seperti buni, ceroring, buluan, kepundung, dan sentul makin jarang terlihat. Sebagian mungkin karena belum musim, tapi tanda-tanda “hilang ditelan bumi” sudah nyata: pohonnya jarang terlihat, jangan-jangan lahan-lahan beralih rupa.

Paradoksnya semakin pahit: Bali yang dielu-elukan sebagai pulau dengan tanah subur dan budaya agraris, justru menjadi pangsa pasar empuk bagi buah impor.

Pajegan buah, bebantenan yang juga menggunakan banyak buah tak ragu menggunakan buah impor.

Begitu juga hotel-hotel mewah, tamu asing lebih sering terlihat disuguhi buah dari luar negeri. Betapa anehnya, salak pondoh mendominasi di Bali, padahal tanah Bali punya salak Sibetan yang semestinya tak kalah eksotis.

Siapa yang bertanggung jawab? Apakah hanya petani yang semakin terdesak oleh harga pasar? Ataukah pedagang yang lebih memilih menjual buah luar karena lebih laku, lebih untung dan dianggap “prestisius”?

Atau justru kita semua, masyarakat Bali, yang mulai kehilangan selera dan kebanggaan pada buah-buah tanah kelahiran sendiri?

Sudah saatnya ada regulasi yang tegas: hotel dan restoran wajib menghadirkan buah lokal di meja-meja sajiannya. Kantor dinas/instansi tak perlu ragu menyajikan buah lokal kepada tamunya.

Untuk bisa disajikan di ruang pimpinan dinas/instansi dan jug di hotel dan restoran kualitas buah lokal harus terjamin. Tidakkah pimpinan dinas/instansi malu jika yang disajikan salak pondoh? Atau memang tak peduli, tak punya rasa malu.

Narasi yang dibangun untuk wisatawan mestinya berakar dari tanah ini: mengenalkan salak Bali, salak gula pasir, anggur Singaraja, mangga Teja Kula, duren Bestala atau kepundung yang kecut segar, bukan malah buah impor yang bisa mereka temui di negara atau daerah asalnya.

Paradoks buah Bali adalah cermin: kita semakin kehilangan diri sendiri di tanah kita sendiri.

Bila tidak ada tata kelola yang kuat, bukan mustahil buah-buah lokal itu kelak hanya tersisa dalam cerita, seperti dongeng yang diceritakan kakek-nenek kepada cucunya: bahwa dulu, di tanah Bali, pernah ada duren Bestala, jeruk Tejakula, manggis Karangasem yang manis, legit yang kini tinggal nama.

Denpasar, 25 Agustus 2025

Previous Post

Jadi Biang Kemacetan, Tim Gabungan Tertibkan Truk Parkir Sembarangan di Kawasan Patung Titi Banda

Next Post

Pemilik Komodo Shuttle Minta Maaf Setelah Diduga Hina Sopir di Labuan Bajo 

beritafajar

beritafajar

Next Post
Pemilik Komodo Shuttle Minta Maaf Setelah Diduga Hina Sopir di Labuan Bajo 

Pemilik Komodo Shuttle Minta Maaf Setelah Diduga Hina Sopir di Labuan Bajo 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Stay Connected test

  • 23.9k Followers
  • 99 Subscribers
  • Trending
  • Comments
  • Latest
Polsek Lembor Limpahkan Tersangka Kasus Pencabulan Anak ke Kejaksaan, Terancam 9 Tahun Penjara

Polsek Lembor Limpahkan Tersangka Kasus Pencabulan Anak ke Kejaksaan, Terancam 9 Tahun Penjara

10 Juli 2026
Dua Turis China Tewas Saat Snorkeling di Pulau Kelor, Korban Kedua Ditemukan di Kedalaman 23 Meter

Dua Turis China Tewas Saat Snorkeling di Pulau Kelor, Korban Kedua Ditemukan di Kedalaman 23 Meter

15 Juli 2026
Deretan Kasus LS Yang Kini DPO Penganiayaan Bersama-sama

Deretan Kasus LS Yang Kini DPO Penganiayaan Bersama-sama

10 Mei 2026
Uang Turis Rp 85 Juta Diduga Digelapkan Agen Travel, Nama Labuan Bajo Kembali Tercoreng

Uang Turis Rp 85 Juta Diduga Digelapkan Agen Travel, Nama Labuan Bajo Kembali Tercoreng

10 Mei 2026

Cabo Basket Porprov Mulai Dipertandingkan

3

Pertandingan Basket Putra dan Putri Porprov ke XIII 2017 Gianyar Masuk Babak Semifinal

3

IKIP PGRI Bali Selenggarakan Testing Masuk Gelombang Kedua.

3
Kasus Sembuh Covid-19 Bertambah 17 Orang di Denpasar, Kasus Positif Bertambah 18 Orang

Kasus Sembuh Covid-19 Bertambah 17 Orang di Denpasar, Kasus Positif Bertambah 18 Orang

3
Pulihkan Danau Buyan, Pangdam IX/Udayana Tegaskan Komitmen TNI Menjaga Kelestarian Alam Bali

Pulihkan Danau Buyan, Pangdam IX/Udayana Tegaskan Komitmen TNI Menjaga Kelestarian Alam Bali

28 Juli 2026
Lakukan Kick-off, Wagub Giri Prasta Buka Turnamen Mini Soccer Kerthi Bali IV

Lakukan Kick-off, Wagub Giri Prasta Buka Turnamen Mini Soccer Kerthi Bali IV

28 Juli 2026
Hadiri GPIPS 2026, Dewa Made Indra: Insentif Jadi Upaya Lindungi Lahan Pertanian Produktif

Hadiri GPIPS 2026, Dewa Made Indra: Insentif Jadi Upaya Lindungi Lahan Pertanian Produktif

28 Juli 2026
Ketua TP Posyandu Bali Buka Bimtek Angkatan IX, Tegaskan Posyandu Jadi Pilar Pembangunan Masyarakat

Ketua TP Posyandu Bali Buka Bimtek Angkatan IX, Tegaskan Posyandu Jadi Pilar Pembangunan Masyarakat

28 Juli 2026

Recent News

Pulihkan Danau Buyan, Pangdam IX/Udayana Tegaskan Komitmen TNI Menjaga Kelestarian Alam Bali

Pulihkan Danau Buyan, Pangdam IX/Udayana Tegaskan Komitmen TNI Menjaga Kelestarian Alam Bali

28 Juli 2026
Lakukan Kick-off, Wagub Giri Prasta Buka Turnamen Mini Soccer Kerthi Bali IV

Lakukan Kick-off, Wagub Giri Prasta Buka Turnamen Mini Soccer Kerthi Bali IV

28 Juli 2026
Hadiri GPIPS 2026, Dewa Made Indra: Insentif Jadi Upaya Lindungi Lahan Pertanian Produktif

Hadiri GPIPS 2026, Dewa Made Indra: Insentif Jadi Upaya Lindungi Lahan Pertanian Produktif

28 Juli 2026
Ketua TP Posyandu Bali Buka Bimtek Angkatan IX, Tegaskan Posyandu Jadi Pilar Pembangunan Masyarakat

Ketua TP Posyandu Bali Buka Bimtek Angkatan IX, Tegaskan Posyandu Jadi Pilar Pembangunan Masyarakat

28 Juli 2026
  • Pedoman Media Siber
  • Box Redaksi
Berita Fajar Timur

2025 @ Berita Fajar Timur

No Result
View All Result
  • Home
  • TNI, POLRI & HANKAM
  • Daerah
  • NASIONAL & INTERNASIONAL
  • AGAMA, SOSIAL, BUDAYA & ORGANISASI
    • Hukum & Kriminal
    • Pendidikan, Olah Raga & Kesehatan
  • EKONOMI, BISNIS & PERDAGANGAN
    • Politik
    • Pendidikan
    • Pariwisata, Petualangan dan Kuliner

2025 @ Berita Fajar Timur