Karangasem, Beritafajartimur.com Teriakan histeris membuat suasana gaduh di SMA Saraswati selat kemarin siang. Ada 14 siswa dan siswi nampak menjerit histeris kemudian lemas. Mereka di gotong rekan rekannya dibawa ke ruang guru. Ini adalah untuk kesekian kalinya terjadi kesurupan massal di Sekolah SMA Swasta di Dusun Bambang Biaung, Duda, Selat, Karangasem tersebut.
Sementara rekan rekannya terutama yang perempuan nampak ketakutan. Wajah mereka langsung murung. Para guru nampak sibuk menanangani anak didiknya. Sementara itu tokoh spiritual Jro Mangku Werdi pun langsung dipanggil untuk menangani masalah ini.
Menurut Mangku Werdi ada 14 anak siswa dan siswi yang mengalami kesurupan, dimana sebagian besar adalah siswi. Hanya kemarin ada juga satu siswa yang juga ikut kesurupan.
Sementara itu sekolah ini juga telah menggelar guru piduka dan juga pecaruan manca sata. Ini dilakukan karena sempat terjadi beberapa kali kesurupan. Selain itu pelinggih juga telah dibangun sesuai dengan permintaan dan petunjuk orang pintar,
Sekolah ini sempat tenang beberapa minggu. Namun kemarin peristiwa tersebut kembali terjadi. Kesurupan kali ini terjadi dari kelas XI IPS di lantai I sisi barat sekolah tersebut. dua siswi menjerit jerit secara tiba tiba. Bahkan satu orang sempat tak sadarkan diri serta lemas.
Saat keduanya diangkat ke ruang kepala sekolah di sisi utara, anak anak lainnya kembali menjerit. Ini juga terjadi di beberapa ruangan kelas saling bersahut sahutan. Bahkan jeritan juga terjadi di lantai II sekolah tersebut.
Mangku Werdi yang datang langsung melakukan penanganan terhadap beberapa anak. Hanya saja pihaknya nampak kewalahan karena anak anak yang kesurupan cukup banyak. Diakui Jro Mangku kalau aura mistis di sekolah tersebut memang cukup kuat. Kesurupan ini kembali terjadi karena kondisi anak anak masih lemah. Selain itu upaya pembersihan secara niskala yang dilakukan juga belum tuntas.
Sementara itu pecaruan besar seperti Ngersi Gana sempat disarankan namun belum bisa dilakukan. Selaian itu gedung sisi barat sekolah juga belum dipelaspas besar sesuai ketentuan. Hanya melakukan pemelaspasan alit. Menurut Jro Mangku bangunan sebesar itu hanya melaspas alit tentunya ada yang kurang seimbang.
Selaian itu sekolah juga disarankan membuat pagar namun belum juga dilakukan. Pagar dimaksud tidak harus permanan. Pagar dengan menggunakan pohon atau turun saja sudah bagus.
Sebab di sisi timur sekolah memang tanpa pagar sehingga sekolah langsung berbatasan dengan sungai kecil di sisi timur.
Sementara itu ada juga WC di pojok timur sekolah tersebut dekat dengan pelinggih. Bahkan air buangan dari WC menetes masuk sampai ke areal pelinggih. Jro Mangku berharap agar pelinggih tersebut dipagar agar suci.
Sementara itu orang tua siswa juga prihatin dengan kejadian ini. Diantaranya adalah I Made Lempah asal Dusun Abian Tiiing, Desa Amerta bhuana, Selat. Dimana anaknya juga terkena kesurupan. Lempah mengakui kalau sang anak selalu kena kesurupan setiap terjadi kesurupan massal di sekolah tersebut.
“Saya datang ingin melihat kondisi anak saya,” ujarnya. Karena saat kesurupan sebelumnya putrinya sempat lemas sampai diinfus. Dia juga mengaku telah menanyakan hal ini ke orang pintar. Apa ada gangguan dari rumah sehingga sang anak kerap kesurupan di sekolah. Ternyata untuk gangguan dari rumah tidak ada murni hanya di sekolah.
Dia berencana akan memasang pengijeng kepada sang anak. Jika masih terus juga kesurupan seperti ini dirinya berencana akan memindahkan anaknya tersebut. Sebab jika dipaksakan sering seperti ini akan mengganggu proses belajar mengajar sang anak.
Diakui kalau anaknya terkana aura negative saat bengong atau kosong.
Hal yang sama juga dikemukakan orang tua siswa lainnya I Wayan Sulandra asal banjar Alas Tunggal. Dia juga mengaku sudah menanyakan ini kepada orang pintar. Juga diakui tidak ada gangguan hanya di sekolah saja yang ada aura negative.
Sementara itu Guru BP I Wayan Tana mengakui kalau sekolah sudah melakukan beberapa langkah sesuai petunjuk Jro Mangku. Tana mengakui kalau mendapat petunjuk dari Jro Mangku di sekolah tersebut memang ada penghuni jin atau wong samar anak laki laki. “Banyak…ada beberapa,” ujarnya.
Karena laki laki makanya yang kerap kesurupan adalah anak perempuan.
Sementara itu Kepala sekolah I Nengah Mertayasa mengaku bingung dengan kejadian ini. Semua sudah kita laksanakan masih juga seperti ini… saya belum tahu apa penyebabnya,” ujarnya sambil ngeloyor. (nic)










