Denpasar, Beritafajartimur.com
Acara Gema Perdamaian (GP) ke-16 tahun 2018 ini akan berlangsung di parkir timur Lapangan Bajra Sandhi Renon Denpasar Bali pada 6 Oktober 2018.
Sejarah didirikannya Gema Perdamaian diawali ketika Bali mengalami kejadian Bom Bali 1 pada tahun 2003 yang terjadi di Paddy’s Club dan Sari’s Club di Legian yang menimbulkan ratusan korban warga asing dan lokal. Karena itu, para tokoh GP mengadakan acara ini setiap tahun untuk menggemakan perdamaian ke seluruh dunia. “Gema Perdamaian dari Bali untuk dunia”.
Gema Perdamaian adalah sebuah gerakan untuk terus menyadarkan manusia betapa pentingnya hidup rukun dan damai antara satu dengan yang lain. Mulai dari jenis kelamin, hingga lebih jauh adalah suku, ras dan agama.
“Tentu perdamaian ini kalau kita urai lebih dalam lagi yakni berdamai dengan alam dan terutama kepada Sang Pencipta,”ujar Ketua Steering Committe Gema Perdamaian Kadek Adnyana yang didampingi Sekretaris Wahyu Diatmika dan anggota Steering Committee lainnya yang hadir saat jumpa wartawan di Sekretariat Gong Perdamaian Bypass Ngurah Rai, Rabu (3/10/2018).
Ditambahkan Ida Rsi Accarya Waisnawa Agni Budha Wisesa Natha,”sangatlah terasa bahwa peradaban saat ini berjalan didominasi oleh ego yang dibenarkan oleh arogansi rasionalitas dalam segala wujud ciptanya.
“Manakala kita hening dan berusaha mendamaikan, diri, hati nurani dengan halus dan penuh kasih membisikaan bahwa bukan ini yang sebenarnya yang ingin kita ciptakan dan kita cari. Peradaban tanpa damai akan percuma. Sebab damai adalah dasar yang paling hakiki,”ujarnya.
Kata dia, dengan damai, kita hidup lebih bermanfaat dan terasa lebih indah. Yaitu damai dengan alam, damai dengan sesama dan damai dengan sang Pencipta.
Untuk diketahui, pada tahun 2018 ini perhelatan GP dilaksanakan yang ke 16 kalinya, puncak acara GP akan dilaksanakan di sisi timur Monumen Bajra Sandhi mulai pukul 16.00 sampai dengan pukul 21.00 Wita.
Acara akan melibatkan puluhan orang dan akan dihadiri sejumlah pejabat penting pemerintah pusat, provinsi, kota, dan kabupaten se-Bali. “Yang tak kalah penting kehadiran para suci, pendeta, bhiksu, ulama, tokoh-tokoh masyarakat dari golongan dan agama serta konsul-konsul negara sahabat. Tidak ketinggalan para aktifis dari semua agama pun hadir. Demikian pun perkumpulan Pasraman Indonesia, seniman, budayawan, pelajar, mahasiswa, ormas, dan masyarakat lainnya baik lokal maupun internasional,”terangnya.
Di GP ke 16 ini, menurut data yang masuk ke panitia yang sudah mendaftar sudah sekitar 9.281 orang. Padahal undangan yang disebar 800 lembar.
“Ini bukti betapa masyarakat memandang penting menggemakan damai,”imbuhnya.
Nanti di acara puncak GP ke 16 tahun 2018 akan diisi serangkaian kegiatan eksebisi keberagaman etnis Nusantara, Carnaval, padayatra, penganugerahan award putra-putri Ambasador Damai dan doa bersama para tokoh semua agama serta hiburan.
“Kemudian dilakukan doa bersama bagi saudara-saudara kita yang terkena bencana di Sulawesi Tengah & Lombok yang dilanda bencana alam,”terangnya.
Sebelumnya, rangkaian aktifitas digelar dalam worl clean up day bersama Suksma Bali, Sarasehan Damai Tokoh Pengusaha bersama HIPMI, IWAPI, BKOW, pemilihan Putra-Putri Ambasador Damai bersama STIKOM dan roadshow damai ke kampus-kampus di Bali.
Editor : Donny Parera










