Letjen TNI I Nyoman Cantiasa Apresiasi Peran PHDI sebagai Jembatan Kerukunan Umat Beragama di Sulawesi Tengah

BERITAFAJARTIMUR.COM (PALU) – Dalam rangkaian persiapan menyambut Mahasabha XIII Parisada Hindu Dharma Indonesia (PHDI) tahun 2026, Panitia Pusat menyelenggarakan kegiatan Focus Group Discussion (FGD) Pra Mahasabha XIII PHDI di Kota Palu, Sulawesi Tengah. Kegiatan yang berlangsung di Hotel Jazz pada Sabtu (29/8/2026) ini menghadirkan Ketua Panitia Mahasabha XIII, Letjen TNI I Nyoman Cantiasa, S.E., M.Tr. (Han), sebagai narasumber utama yang dihadiri Forkominda Prov Sulteng, Tokoh Agama, Tokoh Masyarakat, dan Organisasi Keagamaan dan Kemasyarakatan serta Kampus dan Akademisi.

Di awal paparannya, Beliau sangat senang dan bangga karena masyarakat Sulawesi Tengah telah berhasil melewati tiga ujian besar krisis yang sangat berat, yaitu: Konflik Sosial Poso Berdarah-keagamaan (1998-2007), Ancaman Terorisme pok Santoso MIT dan Ali Kalora, serta Bencana Alam Ekstrem berupa Gempa, Tsunami, dan Likuifaksi pergeseran Tanah pada tahun 2018 dan Banjir Bandang berulang.

Pengalaman pahit masa lalu ini menurutnya menjadi momentum bagi PHDI di daerah untuk mengambil peran yang lebih Strategis, Adaptif, dan Kongkrit utk terus menjaga Perdamaian, krn Perdamaian tidak Sim-Salabim jatuh dari Langit tapi harus diciptakan dan dijaga oleh Umat Manusia. Musibah Bencana Alam ekstrem yg terjadi hendaknya menjadi pembelajaran bahwa kita sebagai Umat Beragama harus menjaga Alam dan Alam pasti akan jaga kita spt yang tertuang dalam ajaran Tri Hita Karana.

Dalam kesempatan tersebut, mantan Danjen Kopassus Letjen Cantiasa memberikan penegasan khusus mengenai ketangguhan umat di wilayah ini dalam melewati berbagai permasalahan umat dan hingga sampai saat ini mampu bertahan menjaga Kerukunan dan toleransi kehidupan Beragama serta bersama-sama menjaga Perdamaian, Persaudaraan & Kerukunan Umat dibawah FKUB .”* Solidaritas lintas agama ini terbukti menjadi faktor kunci pemulihan hubungan sosial masyarakat pascakrisis termasuk kasus isu Warung Babi Guling di Palu yang sampat terjadi beberapa waktu yang lalu.

Dalam FGD Pra MAHASABHA XIII Nyoman Cantiasa menyampaikan Materi Isu yg sangat sensitif dan terkait dgn Kerukunan Umat Beragama diwilayah yang penuh Konflik Berdarah. Dalam paparannya, beliau menyampaikan bahwa Wilayah Sulawesi Tengah adalah salah satu daerah di Indonesia dengan Catatan Sejarah kelam dan kompleks sehingga membuat trauma dan ketakutan yg amat sangat saat itu, kita bukan untuk membuka luka lama tapi itu adalah bagian pembelajaran “Lessons Learned” bukan sumber dendam tapi kita mengajak umat Hindu dan kita semua untuk menjadikan Sejarah sebagai guru terbaik dalam merajut persaudaraan dalam menjaga fondasi Perdamaian yang telah susah payah dibangun selama ini.

 

Sebagai langkah ke depan, Letjen Cantiasa memaparkan 5 Dimensi Peran Strategis PHDI dalam memelihara kerukunan,:
1. Preventif: Melakukan deteksi dini isu SARA dan edukasi literasi digital Anti-Hoaks.
2. Kuratif: Berperan sebagai mediator dan pembuka ruang dialog & bangun komunikasi saat terjadi gesekan sosial.
3. Rehabilitatif: Fokus pada pemulihan psikososial umat dan rekonsiliasi pascakonflik Tanpa diRekayasa sehingga alami.
4. Kolaboratif: Memperkuat sinergi dengan FKUB, Kesbangpol, TNI/Polri, serta tokoh lintas agama.
5. Edukatif: Menyiapkan generasi muda Hindu sebagai Agen Perubahan yang moderat dan memahami nilai _Tat Twam Asi_ untuk menjaga Perdamaian & Kerukunan.

“Kita tidak dapat mengubah Sejarah, tetapi kita dapat menentukan pelajaran apa yang diwariskan kepada generasi berikutnya,” tegas Letjen Cantiasa mantan Wakil Kepala BIN.

FGD Pra MAHASABHA XIII di Palu ini merupakan bagian dari upaya menyerap aspirasi daerah utk Belanja Masalah dan membedah Akar permasalahan keumatan sebagai bahan pembahasan nanti pada Mahasabha XIII PHDI yang dijadwalkan berlangsung pada 8-11 Oktober 2026 di Jakarta. Melalui semangat Vasudhaiva Kutumbakam (kita semua bersaudara), PHDI berkomitmen menjelang MAHASABHA XIII untuk terus melakukan Penguatan dan Bertransformasi sebagai Lembaga yang strategis dan memanfaatkan momentum ini sebagai forum Rekonsiliasi & Konsolidasi bukan ajang membuka luka lama, baik Pengurus PHDI, sabda Walaka dan sabda Pandita dalam menjaga Marwah Agama Hindu dan keutuhan NKRI yg kita Cintai.(BFT/PAL/PAL/RED/Devy)

Pos terkait